BERADA DI LAUT PULO BARAT

1027 Kata
Pesawat sudah landing di bandara Gusti Sjamsir Alam. Langkah lebar mereka mengikuti orang-orang yang berjalan mendahului, menuju arah keluar. "Apa kawan Paman belum telpon juga, Sofia?" "Belum juga, Mas Alam." "Kalau gitu kita tunggu di arah pintu keluar aja," ajak Alam pada ketiganya. Hampir sepuluh menit mereka menunggu, akan tetpai belum ada tanda kedatangannya. Tak jauh dari mereka berdiri, Sofia merasa sedang diperhatikan oleh seseorang, yang terus mencuri pandang ke arahnya. "Mas, jangan langsung noleh!" "Ada apa?" "Aku kok ngerasa kalau lagi dilihatin sama orang lain ya?" "Mana?" "Mas udah dibilang jangan noleh kok!" "Ma-maaf, aku lupa, Sof." Eno dan `Aulia hanya memperhatikan pembicaraan mereka. Sampai terlihat dari kejauhan seorang lelaki umur kepala lima an, yang berlari ke arah pintu keluar. Eno pun terus memperhatikannya. "Sof ... Sof! Apa itu orangnya kawan Paman?" Seketika Sofia yang terfokus pada lelaki misterius tadi, terpecah pandangannya. Dia langsung memperhatikan lelaki paruh baya yang baru saja berlari menuju arah mereka. Tak lama, ponsel Sofia berdering. "Nah, pasti orang itu!" tegas Eno. Sengaja Sofia tidak mengangkat telepon yang baru masuk. Gadis itu, langsung menghampiri diikuti oleh Iwan, Eno dan Aulia. "Maaf, ini Bapak Firman?" Pertanyaan Sofia yang mengagetkan lelaki paruh baya itu. Kemudian, dengan cepat dia mengangguk dengan senyum lebar dan raut wajah bersalah. "Ma-maafkan Bapak ya, Nak Sofia. Ini tadi ban mobil kita bocor. Makanya aku jemputnya telat ini."  "Kada apa-apa, Pak. Yang penting kita sudah dijemput." "Kata Pak Botek aku tadi disuruhnya carikan rumah sewa, kalau hotel kan mahal. Jadi nanti Nak Sofia sama kawan-kawan, bisa menginap di rumah saudara Bapak, yang kosong rumahnya." "Alhamdulillah, kalau gitu Pak." "Nah, sekarang kalian mau langsung ke Laut Pulo Barat duluan, apa ke rumah dulu?" Sofia berpaling kepada Alam dan kedua temannya. "Kalau langsung aja gimana?" sahut Iwan. "Apakah jauh, Pak?" "Cukup jauh tiga sampai empat jam. Karena kita nyebrang , kada terlalu jauh, yang lama tunggu jam waktu penyeberangan." Mereka berempat langsung melongo. "Jadi, kada bisa bawa mobil Pak?" "Kita sewa motor aja di sana. Tenang saja kalau soal itu. Ini masih jam sebelas, nanti jam dua ada kapal balik ke Laut Pulo Barat, bagaimana?" "Terus rumah sewa kita, mending di sana saja Paman," ujar Sofia. "Kalau di kota ini, sama saja kita kada pakai." "Nah. bujur itu yang dibilang Sofia," sahut Eno. (Bujur = benar, kada = tidak) Tampak lelaki itu, berpikir sejenak. Lalu, dia sibuk dengan ponselnya. Seperti sedang menghubungi seseorang. Di saat itu, Eno berjalan mendekati Sofia. "Berapa duit kamu bayarnya?" "Kata Paman suruh kasih saja antara tujuh ratus ribu sampai sejuta." "Banyak itu Sofia." "Setaralah, En. Itu udah pulang pergi antar kita ke bandara. Nnati aku kasih separo yang separonya lagi pas kita pulang." "Rencana mau kamu kasih berapa?" "Satu juta," sahut Sofia, tanpa berkedip. "Banyak duit juga kamu lah?!" Sofia hanya mencebik. "Rumah kos di Jawa, yang menghasilkan duit buat aku. Peninggalan Nini sama Papa." Seketika Eno berdecak kagum, "Makanya kamu santai, kada repot cari pekerjaan atau mengolah apa gitu buat menghasilkan sesuatu." Sofia hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Eno. "Semua cukup kalau kita anggap cukup, En. Tanya tuh Mas Alam, aku orangnya kada mau boros. Kada mau neko-neko, untuk hal yang kada penting." "Apa itu neko-neko?" lanjut Eno. Aulia yang mendengar pembicaraan mereka langsung ikut nimbrung, "Neko-neko itu, enggak aneh-aneh. Sewajarnya saja." Eno pun manggut-manggut. Sekian menit menunggu Pak Firman, akhirnya lelaki itu kembali mendatangi mereka.  "Sudah beres semuanya, Sofia. Aku sudah sewakan rumah kawan di sana, buat kalian sama motornya juga." "Alhamdulillah," sahut mereka serempak. "Cuman rumahnya sederhana lah." "Kada apa-apa, Pak Firman. Yang penting bisa buat kita istirahat," "Yuk, kita jalan. Nanti aku cuman antar sampai kapal. Di sana ada Paman Saed, yang jemput kalian. Tiket pun udah Paman dapat juga nah." Segera Sofia mengeluarkan uangnya, dan memberikan pada Pak Firman. "Sekali lagi terima kasih atas bantuannya ya Pak." Mereka berempat segera naik mobil milik lelaki paruh baya itu. Tepat pukul setengah dua akhirnya mereka sampai pelabuhan. "Hampir saja kita telat nah. Tuh kapal sudah bersandar." Mereka menunggu Pak Firman yang berlari entah ke mana. Sepertinya lelaki itu mengambil tiket yang tadi sudah dia pesan. Lima menit dia sudah datang dengan mengacungkan tiketnya pada Sofia. "Cepatlah naik sekarang! Kalau waktunya kalian balik, tinggal telpon saja ya." "Baik, Pak. Terima kasih atas bantuannya." Mereka pun berlari kecil melewati jembatan. Dan segera naik ke kapal tang sudah bersandar dan penumpang mulai penuh. "Semoga aku enggak mabuk," seloroh Aulia. "Aku enggak sangka kita akan menyebarangi laut dua kali." "Mau obat anti mabok?" Eno sudah memegang obat ditangannya.  "Ihhh, kamu bawa segala macam ternyata. Nantilah kalau sudah dapat tempat duduk. Cuman, aku harus lihat lautnya, kalau enggak mabok beneran aku," cetus Aulia. "Kita ambil di dekat jendela, kena semilir angin juga," sahut Sofia. Perjalanan kapal yang mereka naiki cukup tenang dan lancar. Satu jam berlalu, tanpa ada kendala yang berarti. Hingga kapal mulai bersandar, Alam mendahului langkah mereka. "Nah, tadi kenapa aku lupa kada meminta nomer Bapak Saed kawan Pak Firman," ucap Sofia. "Lahhhh!" sahut Eno. "Coba kita tunggu saja di sini." Saat Sofia mondar mandir gelisah. Dia merasakan ada seseorang yang terus mengawasinya. "Lelaki itu lagi? Dari mana dia tahu aku ada di sini?" bisik Sofia dengan sorot mata yang tajam. Menggambarkan perasaan tegang pada wajahnya. Alam yang melihat langsung mengetahui, jika ada sesuatu hal yang tidak beres. "Ada apa lagi? Kita tunggu saja, jangan cemas." "Bukan itu, Mas Alam. Aku kok merasa cowok yang tadi lihatin aku terus pas di bandara, sekarang juga ada di sini. Aneh 'kan? Apa memang kebetulan semata?" "Ma-mana?" Serempak Eno dan Aulia menyahut. "Kalian jangan langsung menoleh ya!" "Iya!" jawaban Eno dan Aulia berbarengan. "Dia sekarang berdiri dekat tiang kayu. Bersandar sambil merokok." Sekilas Aulia dan Eno bergantian melihat ek arah sosok ellaki itu. "Cowok ganteng itu?" bisik Eno berbinar. "E ... hhh, hadahhh! Kok malah gantengnya yang kalian bahas!" seru Alam, tak habis pikir. "Yang dipikir itu, kenapa dia ngikutin kita. Ini yang aneh!" tegas Alam. "Iya, Mas. Cuman aku kan bilang secara kenyataan. Rambutnya dikuncir ke belakang, pakai jaket jeans macam Dylan. Keren sih, dengan celana jeans yang sobek-sobek. Aku yakin dia bukan asli sini," seloroh Eno. "Hemmm ... iya juga nih yang dibilang Eno. Emang ganteng," lanjut Aulia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN