Dalam waktu yang bersamaan. Mereka juga mendengar ketiga HP lainnya juga berbunyi bersamaan.
"Ka-kalian dengar itu?" bisik Aulia, merapatkan tubuhnya pada Sofia.
"I-itu, bukannya HP kalian di luar yang bunyi?"
Eno dan Aulia mengangguk pelan.
"Apa perlu kita lihat?" Eno menatap tajam pada Sofia. Lalu dia melihat arah layar HP yang masih terus berdering. "Kalian bisa lihat sendiri. Semua HP tiba-tiba menyala bersamaan. Menurut kalian ini apa?'
Eno dan Aulia terhenyak sejenak, dan menyadari ada hal aneh yang tengah terjadi di sini.
"Kamu bener juga, Sof. Semua HP bunyi, bahkan sampai yang di ruang belakang. Apa ... perlu kita lihat?" tanya Aulia, membuat Sofia dan Eno saling berpandangan. "Biar kita bisa tahu lah, apa yang terjadi."
"Kamu emangnya enggak takut, Lia?"
"Ya, takut sih, Sofia. Cuman 'kan kita bareng-bareng lihatnya. Mana ada Mas Alam lagi. Bener enggak? Lagian kita di kamar enggak bisa tidur juga."
Apa yang dipikirkan Aulia ada benarnya juga. Akhirnya Sofia sepakat dan mengajak mereka berdua keluar kamar. Tampak Sofia berjalan lebih dahulu, tepat di belakang Aulia yang terusa memegang pinggang Sofia dengan kedua tangan. Sedangkan Eno berjalan di samping Aulia dengan bergandengan tangan.
Saat langkah mereka mendekati kamar Alam. Sejenak Sofia menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah kamar Alam, sembari menunjuk ke arah pintu.
"Ada apa?" bisik Eno heran.
"Apa kalian kada mendengar suara?"
"Suara?" ulang Eno bersamaan dengan Aulia.
Sofia pun mengangguk. "Apa kalian tidak mendengar kayak ada suara mengarang sama mendesah?"
Eno dan Aulia mulai mendekati kamar. Mereka bertiga menempelkan telinga di pintu. Lamat-lamat, mereka mendengar suara Alam yang memanggil Sofia.
"Sooof, pintar kamu Sayang."
Sontak ketiganya terbelalak. Tak menunggu lama dan pikir panjang lagi. Sofia menggedor pintu kamar Alam keras dan berulang-ulang.
Dug dug dug!
"Mas Alam ... Mas Alam!" teriak Sofia.
Seketika hening dan sunyi. Tidak terdengar suara apa pun saat ini. Namun, tidak membuat Sofia berhenti menggedor pintu. Dia hanya ingin melihat apa yang telah dilakukan Alam.
Dug dug dug!
"Mas Alam!"
Di saat yang hampir bersamaan dengan teriakan Sofia. Terdengar suara kenop pintu yang diputar pelan. Sampai pintu kamar terbuka sedikit demi sedikit.
Muncul wajah Alam yang terlihat masih mengantuk. Dia memandang keheranan ke arah mereka.
"Ada apa kalian ini? Emang pada enggak tidur? Katanya besok berangkat pagi kita."
"Ehhh, kita tadi dengar Mas Alam bicara sendiri. Memangnya ada apa?"
"Aku, Sofia?"
"Iya, tadi Mas Alam kayak ngomong sendiri gitu."
"Kayaknya aku mimpi kamu deh. Datang ke kamar tapi enggak pakai baju sama sekali."
Deg!
Sofia dan Eno saling berpandangan.
"Apa yang kalian pikirkan?" tanya Alam keheranan.
"Kurasa itu tadi bukan lah mimpi!" tegas Eno. "Bener kada Sof?" Eno menoleh pada Sofia yang masih terus memandang Alam.
"Memang bukan mimpi itu, Mas. Kenapa feeling aku mengatakan, kalau si Sofia Hirang ini mengejar Mas Alam?"
Mereka yang mendengar perkataan Sofia, langsung terhenyak.
"Maksud kamu apa?" tanya Alam.
"Sepertinya Sofia ini ingin menggantikan posisi aku."
Tak ada yang bicara sepatah kata. Mereka pun memikirkan apa yang dikatakan oleh Sofia. Tiba-tiba, lampu menyala terang.
Sontak mereka berteriak bersamaan, "Alhamdulillah!"
"Kalau begitu, Mas Alam harus waspada, serta harus bisa membedakan mana Sofia dan yang mana Sofia HIrang," ujar Eno dengan pandangan awas.
"Iya, Eno. Akan aku ingat hal ini!"
Mereka mengambil ponselnya masing-masing, dan segera masuk kamar. Hingga terlelap sampai pagi menjelang.
Dug dug dug!
"Sofiaaaa ...! Bangun nah udah kesiangan kalian."
Suara Acil Mina berteriak kencang, sembari Paman Botek terus menggedor jendela kamarSofia.
Dug dug dug!
"Sofiaaaa!"
Tampak gadis itu menggeliat lemah. Sayup Sofia mendengar suara teriakan Acil Mina yang mengejutkan dirinya.
"Haaaahhh!" Sontak Sofia terbangun dan melihat jam dinding. "Waduhhh, udah setengah enam."
Buru-buru dia membangunkan Eno dan Aulia. Lalu, berlari keluar kamar untuk membuka pintu.
"Paman ... Acil!"
"Kalian semua kesiangan?"
Sofia mengangguk pelan.
"Ulun bangunkan Mas Alam dulu, Cil."
"Ya, udah sana! Ini Acil bawakan nasi kuning. Bisa dimakan diperjalanan kalian nanti."
"Makasih, Cil."
Sofia berlari menuju arah kamar Alam, yang ternyata sudah terbangun.
"Cepetan kalian mandinya!"
Di dalam siapa?" teriak Alam.
"Si Eno, Mas," sahut Aulia.
"Pakailah kamar mandi yang ujung. Udah aku perbaikin kemarin," ucap Paman Botek.
"Ohhh, kirain masih rusak Paman." Bergegas Alam mengayunkan langkah lebar. Dia mendahului sebelum Aulia dan Sofia merebutnya.
Dalam waktu hampir satu jam, barulah mereka siap hendak berangkat. Tampak Acil Mina membungkus nasi kuning yang tadi dibelinya.
"Berkumpullah kalian di sini dulu!" pinta Paman Botek.
Mereka berempat pun duduk di ruang tamu.
"Ada apa Paman?"
"Kalian tahu jarak tempuh ke Kota Baru ini sangatlah jauh. Apa kada sebaiknya naik pesawat aja lah."
"Memangnya ada Paman?"
"Ada. Paman pun lupa kemarin bilang. Nnati sampai di sana kalian barulah sewa kendaraan. Ini, Paman sudah kontak kawan yang ada di sana. Nanti dia yang jemput kalian. Paman pun kada tahu nanti sewanya berapa."
"Kalau naik pesawat berapa Paman?" tanya Sofia.
"Kurang lebih empat ratus sampai lima ratusan lah. Tapi, kalian cuman sebentar sampai. Setengah jam lah. Kayak apa? Dari pada di jalanan delapan jam nah."
Mereka kembali berpikir ulang, rencana yang sebelumnya matang kembali harus direncanakan ulang.
"Paman juga sudah kontak kawan yang jualan tiket. Kalau mau nah, ini ada tiket empat orang tapi buat jam dua belas nanti. Kayak apa Sofia?"
Tanpa berpikir panjang lagi, Sofia mengangguk.
"Ulun ambil semua tiketnya, Paman. Apa yang Paman pikirkan itu memang benar. Ulun kada tahu kalau ada pesawat ke arah sana."
"Ada, kena sampai sana biar dipandu kawan Paman, Bapak Firman. Ini nomer kontaknya Sofia. Kalau memang kalian jadi, habis ini Paman telpon orangnya."
"Jadi, Paman! Sekalian kita ambil empat tiketnya."
Segera lelaki tua itu menelpon Firman temannya, dan memberitahukan keberangkatan Sofia jam dua belas siang.
"Aku juga minat email buat kirim tiketnya, Sof. Atau kamu kontak langsunglah sama agennya nah. Paman kada mengerti urusan email kayak gitu."
"Baik, Paman."
Setelah mengurus tiket dan semua selesai. Acil Mina menyuruh mereka untuk sarapan dahulu.
"Mending kalian sarapan. Bisa irit duit lah. Ke sana juga kada murah!" tegas Acil Mina.
Mereka pun memenuhi apa yang dikatakan oleh wanita itu. Setelah selesai tepat pukul sembilan. Paman Botek pun bersiap untuk mengantar mereka ke bandara.
"Nama bandaranya apa, Paman?" tanya Sofia.
"Gusti Sjamsir Alam, Sof."
"Bagus ya namanya. Jadi penasaran juga sama kotanya," sahut Aulia.
Mereka pun segera berpamitan dengan Acil Mina, yang masih membungkus beberapa kue khas Banjar.
"Kalian bawa dan dimakan! Jangan dibuang!"
"Ihhh, ya kadalah Acil," tukas Sofia tersenyum padanya. "Ulun berangkat dulu ya, Cil."
"Iya, kalian harus hati-hati!"
Segera mereka masuk mobil. Saat mobil hendak berjalan keluar pagar, Mamak Eno berlari kecil menuju arah mereka dengan melambaikan tangan. Eno pun menurunkan kaca jendelanya.
"Ada apa, Mak?"
"Ini makanan, buat kalian di jalan nanti."
Eno pun menerimanya.
"Mamak, ulun berangkat dulu lah."
"Iya, Nak. Hati-hati lah."
Mobil mulai melaju pelan, menyusuri jalanan berpasir yang sebagian belum beraspal. Tampak Paman Botek yang menyetir dengan tenang. Di sebelahnya Alam menikmati suasana perkampungan di rumah Sofia.
"Paman sangat khawatir semalam, karena kalian ini mau menempuh jalan darat. Akhirnya Paman tanya-tanyalah sama kawan. Disarankan naik pesawat aja, terus dia nanti yang akan temani kalian di sana."
"Makasihlah, Paman. Sudah khawatirkan Sofia."