DERING PONSEL BERSAMAAN

1218 Kata
Lelaki itu pun tidak langsung menjawab. Sejenak terdiam dalam waktu sekian detik. Membiarkan Sofia menatap dengan penuh tanya. "Kayaknya dulu Paman pernah dengar nama ini, Sofia." "Apa dia juga berasal dari barat pulau Laut, Paman?" "Sepertinya, iya. Dia semacam orang pintar gitu. Cuman untuk apa kamu ini mencarinya?" "Sofia akan terus mencari titik terang, asal muasal Sofia Hirang, Paman. Kenapa sampai ada sosok yang menyerupai ulun, tapi jahat dan mengganggu? Hal ini yang menjadi alasan ulun." Paman Botek langsung terdiam. Dia sangat mengerti apa yang dirasa oleh Sofia saat ini.  "Baiklah, Paman minta kalian harus hati-hati. Banyak hal yang kalian tidak ketahui dan mengerti tentang hal ghoib ini." "Maksudnya Paman?" tanya Alam. Lelaki tua itu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Melihat reaksinya, membuat Alam dan Sofia saling berpandangan. Begitu juga dengan Eno dan Aulia. "Dulu sekali, aku pernah ke pulau Laut. Kota yang berada di pesisir pantai. Aku datang bersama Pak Hasbi. Kami hanya berdua waktu itu, Bu Lidia tinggal di rumah. Beliau tidak mau ikut karena takut kecapekan." Paman Botek mengembuskan napas panjangnya, sampai terdengar oleh mereka berempat.    "Cuman kamu masih belum ada Sofia." "Ohhh, jadi Papa hanya sama Paman saja?" "Iya. Paman pun belum nikah waktu itu." "Lalu, tujuan Papa ke pulau Laut apa, Paman?" "Papa kamu mendapat omongan dari seseorang. Yang menyuruh untuk mendatangi orang pintar di daerah sana. Waktu kita datang ke pulau Laut, kita kada bisa menemukan alamatnya. Padahal banyak orang yang tahu. Tapi, setiap kita datang sesuai alamat. Selalu bukan orang yang kita cari. Pasti kalian mikirnya aneh. Memang!" "Terus, Paman?" lanjut Sofia semangat. "Kita akhirnya balik pulang, dengan tangan kosong. Kalau kamu hendak tanya, ada urusan apa Papa kamu ke sana? Aku juga kada tahu. Pak Hasbi kada bilang apa-apa sama sekali. Cuman waktu itu ada dia bilang ingin segera punya anak." Sofia pun manggut-manggut. Dia tahu cerita itu, dari diary sang mama, yang menceritakan kalau tidak memiliki momongan sejak 10 tahun pernikahan mereka. "Jadi Paman Botek langsung pulang?" "Iya. Malam itu juga kami balik." Alam sedikit mendoyongkan tubuhnya hingga sedikit mendekati Paman Botek. "Apa Paman tahu arti kayu berwarna hitam yang ada di ruang tengah?" "Hemmm, yang ada tulisan Sofia Hirang itu?" Alam mengangguk cepat. "Benar sekali Paman. Kenapa ada tulisan nama Sofia? Dan maksud Hirang itu apa?" "Jadi setelah aku balik. Satu bulan setelahnya. Pak Hasbi sama Bu Lidia, berangkat sendiri ke pulau Laut." Seketika Sofia mengernyitkan dahi. "Untuk apa ke sana?" Kembali Paman Botek menggeleng. "Aku pun kada tahu juga. Dua hari setelahnya. Mereka datang dari sana dan menyuruh aku bikin kotak dari kaca itu. Lalu, menaruh sebuah kayu hitam di dalamnya." "Terus di kasih nama?" lanjut Alam penasaran. "Kada juga! Masih belum ada kasih nama. Satu tahun apa dua tahun setelah itu, Bu Lidia hamil Sofia." "Jadi kapan bila Papa atau Mama kasih namanya?" "Aku juga kada terlalu ingat nah. Kayaknya satu tahun setelah kamu lahir." Sofia langsung teringat bayangan hitam yang berada di belakang foto dirinya saat masih bayi.  "Ehhh, Paman kira-kira orang sana apa masih ingat nama Ansyah ini?" "Kurasa masih, Sofia. Itu nama di sana sudah terkenal." Setelah mendapat keterangan dari Paman Botek, dan bakso yang disuguhkan habis. Mereka pun berpamitan pulang. "Besok kalian akan berangkat jam berapa?" tanya Mina. Sofia melirik pada Alam. "Eno, jam berapa besok?" "Aku sih terserah aja. Cuman lebih enaknya pagi. Paling lambat jamn enam lah." "Oke, kita sepekatai jam enam," sahut Alam. "Ya udah kalau kalian handak pergi jam enam, Acil ke sana jam lima an, bawain kalian sarapan." Spontan tangan Sofia bergerak meneolak. "Kada usah Acil. Merepotkan nantinya. Biar kita beli di jalan aja buat sarapannya." "Ehhh ... gampang kalau mau beli lagi. Yang penting dari rumah udah sarapan dulu. Besok pagi, Acil bawakan nasi kuning iwaknya haruan bumbu habang." Sofia yang tak bisa menolak, hanya mengangguk senang. Karena itu makanan favoritnya. Tampak Paman Botek dan istri mengantar mereka hingga pagar luar. "Bujurlah, kalian harus hati-hati!" (Bujur = benar) "Baik, Paman." Mereka menjawab hampir bersamaan. Segera mereka mengayunkan langkah meninggalkan rumah Paman Botek. Masih terlihat lelaki itu yang terus menatap kepergian mereka. "Paman Botek itu, bener-bener sayang sama kamu Sofia," celetuk Aulia. "Memang. Apa mungkin karena kada punya anak cewek kali." "Ohhh, apa cowok semua anaknya?" lanjut Aulia, mencecar. "Iya, tapi udah nikah semua." Saat berada di ujung jembatan, Alam berbalik ke arah mereka. "Menurut kalian, ada keperluan apa sampai orang tua Sofia pergi ke pulau Laut?" "Enggak tahu juga, Mas." Aulia dengan cepat menjawab. "Pasti ada sebuah tujuan yang memang penting. Makanya di jaman itu, di belain pergi ke tempat yag jauh begitu." "Udahlah, kita bahasnya di rumah. Ini kayaknya mau turun hujan," tukas Sofia. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Menyusuri kembali jembatan kayu yang terlihat lapuk dan reot. "Hati-hati jalannya. Kayaknya banyak kayu yang lapuk nah." Embusan angin malam, terasa sangat kencang mempermainkan rambut mereka. Dikomandoi oleh Eno, mereka akhirnya berlari kecil mengikuti langkah gadis tomboy itu. "Ayuk, cepat! Buru hujan deras bakal turun ini," teriak Eno. Mereka mulai berlari kecil, hingga membuat napas ngos-ngosan. Hanya dalam waktu sekian menit. Pada akhirnya mereka pun sampai rumah. "Kunci ... kunci!" ucap Eno dengan emndekap dadanya. Dia merasa kedinginan. Setelah pintu terbuka, tiba-tiba mati lampu. Blep! "Haaaahhh! Mati lampu kah ini?" tanya Sofia penasaran. "Kada juga! Lihat tuh di rumah aku, kelihatan gelap. Berarti semua mati lampu." Terlihat bila Sofia enggan masuk rumah. Dia pun langsung duduk di teras depan. "Memangnya mau sampai jam berapa kamu duduk di situ, Sof?" Alam menghampirinya. "Sebentar lagi, Mas." Dengan bantuan senter dar HP masing-masing. Mereka akhirnya masuk rumah, dengan Alam yang lebih dahulu masuk. "Sebaiknya langsung kunci aja pintu rumah, Eno!" Kebetulan memang Eno yang berada di belakang sendiri. "Siap, Sofia." Mereka mulai meletakkan setiap ruangan satu HP. Ada di ruang tengah, kamar Sofia dan Kamar Alam. Serta di ruang belakang. "Nah, kalau gini kan terang juga," cetus Aulia. Sembari melihat pada Eno dan Sofia. "Cuman kita enggak bisa main HP sih." "Bisa aja kalau mau. Cuman ini udah jam sepuluh, kita besok berangkat pagi." Sofia langsung menarik tangan Aulia dan Eno masuk kamar. Sedangkan Alam sudah masuk kamarnya terlebih dahulu. Pintu kamar pun telah dikunci rapat. "Kenapa juga pake acara mati lampu." "Kalau di Jawa nih, En. Kalau kayak gini biasanya mau turun hujan." "Ahhh, sama aja di sini, Sof." Mereka mulai merebahkan tubuh yang letih. Eno berada di antara Sofia dan Aulia. Pandangan mata mereka masih belum ada yang terpejam, sama sekali. "Aku belum ngantuk," bisik Aulia. "Sama! Aku juga," sahut Sofia. "Huum, aku juga," tandas Eno. Dalam sekian menit ke depan. Masih saja mereka tidak bisa tidur.  "Mana nyamuknya banyak lagi," celetuk Aulia terus mengomel. "Di meja ada lotion anti nyamuk. Pakai aja, Lia!"  "Oke, Sof." Saat Sofia berusaha memejamkan mata. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara ponsel yang berdering. Spontan Eno dan Sofia terbangun. "HP siapa yang bunyi?" tanya Sofia. Aulia menunjuk pada HP Sofia di meja. Lantas Aulia meraihnya dan memberikan pada Sofia. "Dari siapa?" "E-enggak tahu, kada ada nomer." Dalam waktu yang bersamaan. Mereka juga mendengar ketiga HP lainnya juga berbunyi bersamaan. "Ka-kalian dengar itu?" bisik Aulia, merapatkan tubuhnya pada Sofia. "I-itu, bukannya HP kalian di luar yang bunyi?" Eno dan Aulia mengangguk pelan. "Apa perlu kita lihat?" Eno menatap tajam pada Sofia. Lalu dia melihat arah layar HP yang masih terus berdering. "Kalian bisa lihat sendiri. Semua HP tiba-tiba menyala bersamaan. Menurut kalian ini apa?'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN