ALASAN SOFIA

1019 Kata
"Yup, aku juga setuju," Eno melirik ke arah Sofia yang langsung terdiam. Dia seperti berpikir panjang. Menimbang baik dan buruk, serta apa yang nanti terjadi kalau dia bilang yang sebenarnya pada Paman Botek. Setelah menimbang banyak hal.  "Mas Alam benar. Malam ini juga kita ke rumah Paman Botek," tegas Sofia.  _Tepat pukul tujuh malam_ Mereka bersiap pergi ke rumah Botek.  "Apa jauh kah Eno?" tanya Aulia. "Ehhh, dekat. Cuman kalau jalan kaki yah lumayan sih. Lumayan berkeringat, bagaimana? Kita jalan apa naik mobil?" Eno menunggu jawaban mereka. Ketiganya saling pandang.  "Berapa meter?" Aulia menatap Eno datar. "Ehmmm, enggak sampai satu kilo sih." "Ahhhh, ayok kita jalan aja!" ajak Alam. "Lagian biar kita tahu sekitar sini. Sekalian jalan-jalan." Akhirnya mereka sepakat untuk berjalan kaki menuju rumah Paman Botek. Setelah mengunci pintu rumah dan pagar, mereka pun berjalan santai. Sampai teriakan kencang memanggil Eno. Membuat gadis itu berbalik. "Eno! Mau ke mana kamu  malam-malam?"  "Kita mau cari makan dulu Mak." "Jangan malam-malam. Apa kamu tidur di rumah Sofia lagi?" "Iya, Mak. Boleh ya?" "Boleh, tapi jangan macam-macam!"  Eno pun mengangkat jempol dua dan tersenyum lebar untuk sang mamak. "Eno, maksud Mama kamu enggak boleh macam-macam itu apa?" Aulia mensejajari langkah gadis tomboy itu. "Ya, Mamak aku takut lah sama rumah ini. Maksudnya ya si sosok itu. Dia kada ingin lah anaknya ada apa-apa." Mereka mulai menyusuri sebuah jembatan kayu yang tak terlalu lebar. Di sekitar jalan yang mereka lalui, kanan kiri adalah sungai. "Kampung sekitar sini, jalannya kayak terputus dari pertigaan dekat rumah kamu tadi ya Sofia?" Alam menoleh pada kekasihnya. "Katanya dulu kampung ini, kada nyambung sama kampung di tempat Sofia, Mas. Mereka bikin jalan baru sampai akhirnya kayak ini." "Kalau bawa mobil ada jalan lain kah?" "Ada Mas Alam," sahut Eno. "Kita lewatnya jalan raya, lebih jauh lagi." Tampak lelaki tampan itu manggut-manggut. Saat langkah mereka sampai di ujung jembatan. Dari jarak cukup jauh sebuah cahaya motor cukup membuat mereka silau. Sampai akhirnya motor itu berhenti di depan mereka. "Sofia?" Suara Acil Mina terdengar. "Kalian ini mau ke mana?" "Ehhh, Acil. Kita ya mau ke rumah Acil Mina." "Lah, kita nih mau pergi ke orang hajatan. Tadi Paman 'kan udah bilang." "Sofia cuman mau ngomong bentar kok Paman." Sofia pun menghampiri mereka. Tampak Paman Botek dan istri, mamandang penuh heran. "Ada apa Sofia?" "Ulun mau pamitan Paman." Sontak perkataan Sofia membuat kedua orang itu sangat terkejut. Hingga membuat Paman Botek mematikan mesin motor. "Maksaud kamu apa, Sofia?" "Paman jangan kaget dulu. Ulun cuman ingin jalan-jalan ke pulau Laut." Deg! Seketika Paman Botek merasakan d**a yang berdebar-debar. Tatap matanya nyalang, terus memperhatikan gelagat gadis yang berdiri di sebelah motor. "Ke pulau Laut?" ulang Paman Botek, yang langsung menoleh pada istri. "Pulau Laut itu jauh loh Sofia. Sekitar delapan jam dari sini." "Iya, kita udah tahu Paman. Hanya ingin melihat-lihat saja." "Pastinya kalian menginap lah?" tanya Acil MIna. Yang langsung dijawab anggukan oleh Sofia. "Berapa lama?" "Yaaa, mungkin dua sampai tiga hari, Cil." "Kayak gini aja. Kalian tungguin kita berdua di rumah lah. Biar tahu juga rumah Paman." Eno menoleh ke arah mereka bertiga, yang saling berpandangan dan bergantian melihat Sofia. "Enggak masalah sih kalau aku nih," sahut Alam. "Biar tahu juga rumah Paman Botek." "Nah, Eno kamu antar mereka ke rumah lah!" Gadis itu mengangguk. "Ayo kalau gitu lanjut jalan lagi kita." "Paman kada lama, Sofia. Cuman bentar aja di sana nanti." "Baiklah Paman. Biar kita tungguin di rumah saja." Segera Paman Botek menyalakan motor lagi, dan segera meninggalkan mereka. "Masih jauhkah, En?" tanya Aulia. "Dikit lagi." Setelah berjalan cukup jauh, barulah Eno berhenti di depan sebuah rumah.  "Ini rumahnya Eno?" "Iya, Sofia. Kayaknya memang kada ada orang. Kita tungguin di teras aja."  Ketiganya mengikuti langkah Eno yang mendahului. Lalu, mereka duduk di lantai kayu. "Sudah berapa lama Paman Botek ikut keluarga kamu, Sofia?" "Lama sekali, Mas. Kalau kata Nini sih sebelum Paman nikah, soalnya Paman Botek ini nikah tua.." "Wahhh, makanya dia memperlakukan kamu kayak anaknya sendiri." Hampir tiga puluh menit mereka menunggu. Terdengar suara motor yang berjalan ke arah mereka. Ternyata benar, motor itu memang milik Paman Botek. Acil Mina segera turun dari boncengan, dengan membawa bungkusan. "Maaf lah, kelamaan ya nungguin kita?" ujar wanita itu pada mereka. Segera Acil MIna membuka pintu rumah yang terkunci. "Santai aja Acil," sahut Sofia. "Yuk, kalian masuk! Jangan di luar kayak gitu." Mereka berempat segera masuk dan duduk di kursi yang berada di ruang tamu. "Pastinya belum makan. Ini tadi ada bakso Jawa lewat. Enak rasanya." Wanita itu sudah emmbawa dua mangkok bakso. Segera Sofia mengikuti langkahnya ke dapur dan membantu Acil Mina. "Kenapa Acil repot-repot segala nah?" "Kada apa-apa. Senangnya kamu datangin." Sofia kembali tersenyum.   Disela mereka mekan bakso, Paman Botek kembali menanyakan kepergian mereka. "Kenapa harus ke pulau Laut? Banyak di sini tempat wisata selain di sana." "Kada, Pamn. Pengennya ke sana." Terlihat wajah lelaki itu tegang, saat Sofia bersikeras ingin tetap pergi ke kota itu. "Apa ada alasan lain?" Sepertinya lelaki tua ini, bisa menebak. "Kalau ada alasan lain, tolong Paman dikasih tahu." Sofia melirik pada Alam, yang mengangguk sebagai tanda agar Sofia boleh menceritakannya. "Gini loh, Paman. Sebelumnya ulun minta maaf dulu. Sebenarnya ulun handak ke pulau Laut itu, mencari seseorang bernama Ansyah." (Ulun = saya)  Dalam waktu yang bersamaan, dari arah dapur. Pyaaaarrr! Mangkok yang dipegang Acil Mina, terlepas dan pecah berserakan di lantai. Mmebuat mereka berempat langsung menoleh ke arah Acil Mina. "Ada apa, Mak?"  "Kada apa-apa, Bah. Cuman licin aja nih mangkok." Perasaan Sofia mulai tidak tenang. Dia merasa masih ada sesuatu yang disembunyikan pasangan suami istri ini. Walau Paman Botek berusaha bersikap tenang, sorot matanya tidak bisa diingkari. Sofia bisa merasakannya. "Apa Paman pernah mendengar nama ini?" Lelaki itu pun tidak langsung menjawab. Sejenak terdiam dalam waktu sekian detik. Membiarkan Sofia menatap dengan penuh tanya. "Kayaknya dulu Paman pernah dengar nama ini, Sofia." "Apa dia juga berasal dari barat pulau Laut, Paman?" "Sepertinya, iya. Dia semacam orang pintar gitu. Cuman untuk apa kamu ini mencarinya?" "Sofia akan terus mencari titik terang, asal muasal Sofia Hirang, Paman. Kenapa sampai ada sosok yang menyerupai ulun, tapi jahat dan mengganggu? Hal ini yang menjadi alasan ulun."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN