MIMPI BURUK AULIA

1114 Kata
"Keluarganya meninggal sepuluh tahun yang lalu. Katanya sih, saat itu anaknya yang sulung sedang main layangan. Sampailah layangan itu tersangkut di buah kecapi depan." Pandangan mata Sofia beralih pada pohon yang dimaksud. "Terus, Bu?" "Namanya anak kecil, dia sama temannya melompati pagar. Nah, saat mau ambil itu layangan. Mereka seperti melihat bayangan orang di sekitar rumah Mbak." "Bayangan orang?" ulang Sofia. "Iya, Mbak. Padahal kan kita semua orang lama yang tinggal di sini. Pada bingung sama cerita si Irul ini, anak si Nini. Yang katanya di dalam rumah ada orang. Kita tahu dari tahun berapa, almarhum Bapak Hasbi sama Ibu Lidia meninggal. Terus anaknya dibawa ke Jawa sama Neneknya." "Saya anaknya Pak Hasbi, Bu." Segera Sofia mengulurkan tangan. Wanita itu dengan senang hati menyambutnya.  "Panggil saja, saya Mamak Eno. Anak saya namanya Eno. Seumuran Mbak juga." "Ohhh, iya Mamak Eno. Kalau Nini Amas seumuran 60 tahunan, apa anaknya yang bernama Irul sudah besar?" "Nini Amas hampir 70 tahun umurnya." "Wahhh, masih punya anak kecil?" lanjut Sofia. "Itu anak adiknya. Saat itu, si Irul umur 15 tahun kalau tak salah. Sudah gede, Mbak." Sofia mengajak Mamak Eno, untuk bercerita di dalam rumah. Namun, wanita itu menolak. "Di sini saja, Mbak." "Coba Mamak Eno lanjut lagi ceritanya. Saya kok jadi makin penasaran." "Jadi, si Irul sama dua temannya kayak melihat orang di dalam rumah yang jelas-jelas kosong. Mereka tak cuman ambil layangan. Malah penasaran sama rumah Mbak Sofia." "Lalu, Mamak?"  "Mereka mengintip ke dalam rumah. Nah, katanya si Irul. Ada cewek seumuran dia juga. Lagi berdiri di ruangan tengah. Kayak menghadap ke cermin gitu. Nah, temannya si Irul malah lari, tinggal si Irul yang sendirian. Dia masih saja lihatin tuh cewek. Sampai akhirnya, si cewek menoleh. Barulah Irul ini lari ketakutan dianya." "Memang yang dia lihat apa, Mamak?" "Katanya orang-orang, cewek itu tak ada mata, hidung bibir. Wajahnya ini datar alias tak tampak sama sekali. Hanya kelihatan kulit yang gosong saja." Seketika bulu kuduk Sofia merinding. "Saya kok jadinya merinding ini, Mbak. Baiknya saya pulang dulu aja nah. Takut juga lah!" Sofia masih melongo, tak membalas ucapan Mamak Eno. Hingga dia berlalu cukup jauh, barulah Sofia tersadar. "I-iya, Mamak." Sejenak Sofia terdiam. Lalu, mengejar langkah wanita paruh baya itu. "Mamak Eno!" teriak Sofia. Seketika wanita itu menoleh. Dengan dahi yang berkerut. Tatap mata yang mengarah pada Sofia. "A-ada apa ya, Mbak Sofia?" "Bentar, Mamak!" Sofia berlari mendekat. Napasnya pun masih tersengal. "Maaf, Mamak. Saya cuman ingin tahu, di mana rumah Nini Amas." "Memangnya Mbak Sofia mau ngapain?" "Ehhh ... saya cuman ingin tahu rumahnya saja kok, Mak." Walau awalnya ragu dan enggan memberitahu Sofia. Pada akhirnya dia luluh. Karena Sofia terus memaksa. "Kamu lurus aja melewati rumah, Mbak Sofia lagi. Nanti ada pertigaan, belok kiri. Ada tiga rumah, yang paling jelek. Itu rumahnya." Sofia manggut-manggut. "Makasih, Mamak Eno." "Sama-sama. Cuman sebaiknya Mbak Sofia jangan pergi ke sana sendirian. Akan bahaya! Soalnya Nini Amas kesehatan mentalnya cukup terganggu." "Iya, akan saya perhatikan Mamak." Langkah Sofia bergegas kembali ke rumah. Dia masih terngiang apa yang diucapkan oleh Nini Amas. Seperti sedang menimbang-nimbang apa yang ada dalam pikiran. Akhirnya Sofia putuskan untuk menemui Nini Amas. "Aku harus cari tahu kejadian yang sbenarnya. Kenapa juga Paman tak beritahukan sama sekali soal ini?" Sembari langkah Sofia memasuki ruang tamu. Dia terus berjalan menuju kamar.  Setelah membongkar tas. Gadis itu mengambil handuk dan perlengkapan mandi. Barulah Sofia tersadar. Sejak kedatangannya mulai kemarin, tak membuka ponsel sama sekali. Sesaat dia duduk di tepian ranjang. Awal ingin mandi, Sofia mengurungkan niatnya. Dia lebih memilih untuk membaca pesan yang masuk satu persatu. "Mas Alam?" Seketika dua bola matanya berbinar senang. Kala Alam mengirimkan pesan kerindun untuknya. {Kamu gimana di sana, Sofia? Awas! Jangan ngelirik cowok ganteng!} Sofia senyum senyum sendiri. Sembari terus membaca berulang-ulang semua pesan Alam.  "Mas Alam, sukanya cemburu mulu," bisik Sofia terkikik. {Kenapa tak balas pesan aku?} {Kenapa kalau sampai tak kasih kabar?} {Kamu, baik-baik aja 'kan Sof?} Semua pesan dari Alam Satriawan, kekasih Sofia. Membuat gadis tersenyum lebar. Sangat senang Sofia membuat cemburu lelaki manis berperawakan jangkung itu. Segera jemari tangan Sofia bergerak cepat. Dia membalas semua pesan dari kekasihnya. {Aku baik, Mas. Maaf karena terlalu capek, tak sempat balas semua pesan. Bahkan buka HP juga tak sempat} Ting! Bersamaan dia mengirim pesan ke Alam. Sebuah notifikasi pesan masuk. "Si Lia?" {Aku mimpiin kamu. Cuman, mimpi itu agak aneh} Segera Sofia menelepon Aulia. "Hallo!" "Assalamualaikum, Neng." "Waalaikumsalam. Kamu emang mimpi apaan?" Sejenak Aulia terdiam. Dia menarik napas dalam-dalam. "Kok malah diam sih?" tegur Sofia tak sabar. Dia ingin mendengar cerita dari bibr Aulia sendiri. "Udahlah, Sof! Lupain aja. Lagian mimpi jelek itu tak boleh diceritain ke orang lain 'kan?" "Dengan kamu ngomong kayak gitu. Yang ada aku makin penasaran, Lia!" Lamat terdengar tawa renyah Aulia.  "Oke. Dengerin ya!" "Iya." "Ehhh ... aku itu, mimpiin kamu kayak diikutin sama cewek. Tapi, semuanya tak jelas. Aku cuman lihat soosk cewek itu dari arah belakang. Perawakannya persis kayak kamu, Sof." Deg! Kembali jantungnya berdentum kencang. Sofia berusaha untuk menarik napas pelan-pelan. Dia berusaha setenang mungkin. "Terus, Li?" "Dia ... ehhh--" Aulia terdiam sejenak. "Li!" teriak Sofia semakin gusar. "Ehhh, cewek tadi kayak mencengkeram kamu Sofia. Kayak ingin bunuh kamu. Terus, lama-lama dia itu jadi ... kamu!" Kali ini keduanya sama-sama diam. "Mimpi aku itu, kayak nyata, Sofia. Makanya aku langsung japri kamu." Masih saja Sofia terpaku. Tak ada tanggapan yang dia berikan. "Sof ... Sofia!" "I-iya, aku dengerin kamu. Lalu, dalam mimpi itu, aku baik-baik aja?" "Sepertinya enggak."  Hanya terdengar embusan napas yang keras dari keduanya. "Ka-kamu yakin, LI?" "Aku yakin kalau itu memang beneran kamu, Sof. Cewek itu, terus membanting badan kamu ke lantai. Sampai kamu kesakitan. Saat aku mau menolong kamu. Dia kembali menjadi diri kamu. Aku sampai lari, terus akhirnya kebangun." "Ohhh!" "Banyak-banyak baca doa dan ayat Qursi ya?" "I-iya. Mungkin aku akan temani kamu di sana, sampai urusan kamu selesai." "Yang bener?!" teriak Sofia girang. "Mana pernah aku bohong sama kamu?" Spontan Sofia mengangkat kedua tangan ke atas kepala.  "Aku beneran seneng kalau kamu ke sini." "Memangnya urusan kamu akan selesai berapa lama sih?" "Paling sekitar dua mingguan sih. Kalau tak ada halangan lho ya." "Mulai besok aku ambil cuti tahunan aku. Lumayan 'kan kalau tak aku ambil?" "IYa, sih. Tapi serius kamu ke sini, Li?" "Iya, Sofia Hasbi. Hadahhh ... dibilangin kagak percaya mulu." "Ya, udah. Aku tunggu kamu!" Sofia memutus teleponnya. Segera dia menyambar handuk dan membawa perlengkapan mandi. Segera menuju ke kamar mandi. Guyuran air di tubuhnya terasa segar.  Ting ting ting! Sontak dia menghentikan guyurannya. Dia terdiam dengan mengusap wajah.  "Apa ... Paman sama Acil udah datang?" Kembali Sofia melanjutkan mandinya. Ting ting ting! Suara sendok yang beradu dengan gelas kembali terdengar. "Pamaaan ... Aciiil!" _oOo_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN