PENUTURAN NINI AMAS

1051 Kata
"Di mana dia, Bah?" "Kada tau lah, Mak. Ke mana tadi larinya?" "Ke halaman sini. Coba kita cari!" ajak Acil Mina. Bergegas mereka mengitari halaman depan. Lampu teras yang tak terlalu terang, kurang mampu memberikan pencahayaan yang cukup pada penglihatan mereka. Sampai akhirnya mereka mendengar suara. "Abah, su-suara apa ini?" tanya Mina mulai dirundung rasa takut. Tampak Paman Botek melangkah menuju pohon kecapi. Yang dulunya di tempat itu, juga terdapat pohon rambutan. "Tungguin, Bah!" Mina langsung berlari mengejar. Terdengar lamat-lamat suara yang bernyanyi lirih. Seperti berasal dari balik pohon kecapi. Paman Botek memberanikan diri, untuk melongok. Lalu, melihat sosok Sofia yang duduk berjongkok. Suaranya lamat-lamat berdendang, lagu yang tak dia pahami.  Kupu-kupu yang lucu Kemana engkau terbang Hilir mudik mencari, bunga-bunga yang kembang Berayun ayun, pada tangkai yang lemah Tidakkah sayapmu merasa lelah "Sof ... Sofia!" Sentak Paman Botek. Namun gadis itu seperti tak mendengar. Hingga Paman Botek menyenggol lengannya. Membuat Sofia geragapan, dan menoleh. "Pa-paman ...?!" Dia terlihat kebingungan. "Kenapa Sofia bisa ada di sini, Paman?" Lelaki itu tak menjawab. Dia menyuruh istrinya untuk membawa Sofia masuk ke rumah. "Paman, Sofia melihat dia lagi!" "Dia siapa?" sentak Paman Botek meninggi. "Sedari tadi tak ada siapa-siapa di sini Sofia! Kamu sebaiknya jangan terlalu bermajinasi." "Abah!" tegur Acil Mina pada suami. "Ayo, Sofia. Sebaiknya saya antar ke kamar!" ucap Acil MIna lembut. Sofia terperanjat dengan sikap Paman Botek yang tiba-tiba sinis padanya. "Kenapa ... Paman jadinya marah sama Sofia? Harusnya Paman ceritakan ada apa ini?" Sofia langsung mengibaskan tangan Acil MIna. Lalu berlari masuk kamar. Bruakkk! Gadis itu membanting pintu kamar dengan kuat.  "Aku salah, Mak." "Abah kenapa sampai terbawa emosi kayak tadi? Mau tidak mau, pada akhirnya Sofia akan mengetahui sendiri. Bagaimana rumah ini sebenarnya?" Lelaki itu, menghela napas panjang. Ada penyesalan yang dia rasa saat ini. Kenapa sampai harus membentaknya? Berulang kali Paman Botek menggeleng. "Sudahlah, Pak. Biarkan Sofia tenang dulu!" tegas Acil MIna. "Iya, Mak. Kamu bener jua." Keduanya kembali merebahkan tubuh di atas kasur, yang digelar di lantai. Hingga akhirnya mereka benar-benar terlelap. Hari pertama Sofia di rumah masa kecilnya. Telah mengalami banyak hal aneh dan sedikit membuat dirinya tercekam oleh ketakutan. Bagi Sofia, kenangan indah saat masa dulu bercampur dengan kenyataan yang membuatnya tersentak.  Sampai pagi menjelang. Tok tok tok! "Sofiaaa!" "Iya, Cil." "Ohhh, udah bangun lah?" "Udah, Cil." Sofia tak berniat beranjak dari tempat tidurnya. Dia masih merasa malas dan ngantuk. Walaupun mata tak bisa merem lagi. "Acil cuman mau bilang. Kalau udah Acil buatin sarapan, Sofia." "Makasih, Cil." "Kalau gitu Acil tinggal dulu pulang, sama Paman lah. Nanti ke sini lagi." "Iya, Cil. Nanti Sofia akan makan masakan Acil." Hening dan sunyi seketika. Tampak Sofia masih bermalasan di atas kasur. Sekilas pandangan mata melirik pada foto kusam yang tergeletak di atas meja, Tak ada niat yuntuk mengambilnya. Ditarik napas dalam-dalam. Sembari menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar. Sekilas bayangan tadi malam kembali melintas. "Siapa bayangan itu? Aku benar-benar melihatnya sembunyi di balik pohon kecapi depan. Dia pun nyanyi lagu anak-anak. Kayak jaman kecil aku dulu?" Sofia mencoba mengingat lagu itu lagi. "Kupu-kupu yang lucu," desis Sofia. Teringat ucapan Acil Mina, buru-buru dia turun dari ranjang. Dan berjalan keluar kamar. Sejenak perasaan tidak nyaman sempat mengusai dirinya. Namun dengan cepat Sofia tepis. "Ini sudah pagi, bentar lagi siang. Mana ada hantu berani keluar," bisiknya menghibur hati. Sinar mentari pagi mulai menyorot masuk rumah. Ternyata Paman dan Acil membuka semua jendela rumah. Sejenak Sofia merentangkan kedua tangan. Seakan ingin menghirup udara pagi yang masih segar. Gadis itu berjalan menuju ruang meja makan, yang bersebelahan dengan dapur. Tangannya bergerak mengangkat tudung saji. Beberapa makanan sudah tersaji. "Kapan masaknya? Udah ada ikan goreng, sambal kacak, terus ada udang greng juga. Hemmm ... kayaknya lezat ini." Lamat-lamat dia mendengar suara riuh dari arah luar rumah. Membuat Sofia mengurungkan niat untuk menjajal hidangan di meja. Dia menutup kembali tudung saji. Langkahnya bergegas ke luar rumah. Saat berdiri di teras rumah. Dia hanya melihat kerumanan, tak jauh dari rumahnya. Tanpa terasa kini Sofia sudah berdiri di depan pintu pagar yang sudah terbuka lebar. "Hemmm ... ternyata orang jual sayur. Aku kira apa."  Saat dirinya hendak berbalik.  "Tak biasanya kamu keluar?" Tiba-tiba, sebuah suara serak cukup mengejutkannya. Seketika Sofia berpaling. Dia menoleh ke belakang dan melihat sosok seorang wanita tua tengah menatap dirinya tajam. Sontak Sofia terpana, lalu tersenyum. "Ada apa ya, Nini?" "Tak biasanya kamu keluar rumah. Aku sering lihat kamu berdiri di dalam situ. Di jendela dalam rumah kamu.  Iya 'kan?" Apa yang dibicarakan wanita ini, semakin membuat Sofia penasaran dan bingung. Bagaimana tidak? Dia baru sehari semalam sampai di sini. Dan menginap di rumahnya. Akan tetapi apa yang dikatakan wanita tua ini, seolah sudah sering melihat dirinya. Sofia mulai garuk-garuk kepala. "Kenapa kamu melihat aku kayak gitu?" Sang Nenek protes pada  Sofia. Yang langsung menurunkan tangan. "Ehhh,. enggak apa-apa, Ni." Spontan Sofia mengulurkan tangannya. Namun, wanita tua itu tak menggubris Sofia sama sekali."Aneh," bisiknya. "Apa kamu punya saudara kembar?" "Saya, Ni?" Sofia menggeleng. Sejurus kemudian, tangan wanita tua itu bergerak lurus ke arah depan. Tepatnya rumah Sofia. Sampai membuat kening sang gadis berkerut. "Memangnya kenapa Nini menunjuk ke arah rumah saya?" "Ternyata dia yang sering kelihatan. Mirip sama kamu!" Deg! Dada Sofia berdebar-debar. Jantungnya seketika berdetak kencang. Apa yang dikatakn wanita ini, semakin membuat dia gila. Sampai salah seorang Ibu-ibu berteriak ke arah Sofia dan wanita tua itu. "Hei, Ni Amas! Jangan ganggu perawan itu! Dia baru saja datang, jangan malah Nini takutin sama cerita yang tak masuk akal." Sofia berpaling ke arahnya. Wanita paruh baya itu, menghampiri keduanya.  "Ayo, Ni Mas! Pulang duluan sana. Kasihan anak-anak di rumah udah nunggu!" seru wanita itu. Tampaknya si wanita tua yang bernama Nini Amas, mengikuti semua perkataan wanita tadi. Tanpa banyak penolakan, dia berjalan meninggalkan Sofia yang masih berdiri terpaku di tempatnya. "Maaf ya, Mbak." "Saya sungguh tak apa-apa kok, Bu. Cuman Nini tadi kenapa ya?" "Keluarganya meninggal sepuluh tahun yang lalu. Katanya sih, saat itu anaknya yang sulung sedang main layangan. Sampailah layangan itu tersangkut di buah kecapi depan." Pandangan mata Sofia beraih pada pohon yang dimaksud. "Terus, Bu?" "Namanya anak kecil, dia sama temannya melompati pagar. Nah, saat mau ambil itu layangan. Mereka seperti melihat bayangan orang di sekitar rumah Mbak." "Bayangan orang?" ulang Sofia. _Jangan lupa berikan love pada cerita ini, caranya klik tanda love kanan bawah pada cerita ini_     
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN