SIAPA DIA (?)

1022 Kata
Sofia mengikuti langkah Paman Botel yang berjalan menuju ruang tengah. Acil hanya membuka mata sesaat. Lalu, melanjutkan tidur lagi.  Sofia yang masih gemetaran, langsung meneguk air putih sampai habis tanpa sisa. “Sekarang Sofia sudah tenang?” “Sudah Paman. Tapi, seperti ada sesuatu yang aneh. Sofia seperti bermimpi Paman?” “Bermimpi?” Gadis itu langsung mengangguk cepat. “Sofia melihat sosok gadis yang berdiri di pojok kamar. Dia membelakangi Sofia, tapi perawakannya seperti saya, Paman. Saat Sofia tanya, kamu siapa? Dia malah menjawab, aku adalah kamu. Saat itu juga Sofia merinding, takut,” ucapnya sambil bergidik. “Mungkin Sofia kecapekan, jadi melihat yang aneh-aneh. Sudah tidur lagi aja, ini masih malam!" "Iya, Sofia. Benar apa yang dibilang sama Paman," sahut Acil yang ternyata masih terbangun. "Ayo, Paman antar!" Sofia berjalan mendahului. Walau ragu, akhirnya dia masuk kamar. Paman Botek segara menutup rapat pintu kamar Sofia. Gadis itu merebahkan tubuhnya, masih dengan pikiran yang tidak tenang. Bayangan dan suara yang terus terngiang, membuat Sofia tak bisa tertidur.   "Baju yang dia pakai, aku seperti pernah ingat." Sejenak Sofia berpikir. Lalu, membalikkan tubuhnya. Merasa foto tadi mengganjal pada bagian punggung. Segera Sofia meletakkan di meja. "Aku ingat sekarang! Baju itu kayak punya aku dulu. Waktu aku kecil, kayaknya pernah punya."  Saat Sofia tersadar, dia kembali teringat akan sosok bayangan pada foto tua itu. Kini, pandangan matanya telah beralih pada foto yang tadi dia letakkan di meja. Kedua matanya memicing. "Bayangan itu ...!" desis Sofia. "Bayangan itu menghilang. Tak ada sama sekali. I-ini ... jadinya aneh," bisik Sofia. Berkali-kali Sofia mengucek kedua mata. Namun, tetap saja dia melihat sesuatu yang ganjil pada gambar dirinya. Foto yang semula tersenyum. Namun, saat ini seperti cemberut marah. “Jangan-jangan …?” Pyaaar! Foto itu sudah terlempar ke lantai. Membuat Sofia terbangun, dengan mata yang terbeliak dan mulut terperangah.  "Haaahhh ... bagaimana bisa foto itu terlempar begitu saja?" Bersamaan dengan rasa yang mencekam dirinya. Sebuah ketukan di pintu terdengar lagi. Tok tok tok! "So-Sofiaaa! Ada apa?!" teriak Paman Botek, terdengar cemas. "Ahhh ... ehhh, itu Paman." Suara Sofia terbata dan kebingungan saat hendak emnjawab. Perlahan dia pun turun dari ranjang. Berjalan pelan menuju arah pintu. Tok tok tok! "Sofia!" Krieeet! Pintu telah terbuka lebar. Sofia bisa melihat kecemasan pada rau wajah lelaki yang berdiri di hadapannya. "A-ada apa?" Sofia tak menjawab. Dia hanya menunjuk ke arah pecahan kaca pigura di lantai. Tanpa banyak tanya lagi. Paman Botek langsung menerobos masuk. Buru-buru dia membersihkan dengan tangan. Mengambil satu persatu pecahannya. "Kenapa bisa sampai pecah? Apa ... Sofia banting kah?" "Kada lah Paman. Buat apa Sofia banting? Yang ada tuh foto kebanting sendiri di lantai." (Kada = tidak) Sontak Paman Botek menoleh pada Sofia yang masih berdiri di depan pintu. "Paman kada paham lah," ucap Paman Botek menggeleng. (Kada = tidak) Sembari menghela napas panjang, Sofia mendekati dan ikut berjongkok. Dia pun ikut membantu memungut kepingan kecil pigura. Tak lupa dia meraih foto yang sudah kusam itu. "Foto ini tadinya, saat Sofia melihat. Kelihatan aneh, Paman." "Aneh bagaimana?" Lelaki itu langsung menoleh pada Sofia, yang  tertuju pada foto dalam genggaman kedua tangan. "Paman coba lihat ini!" Sofia mengarahkan foto itu sampai menghadap pada Paman Botek. Sang Paman ikut memperhatikan, sesuai yang diminta. Lalu dia kembali menggeleng. "Ada apa memangnya Sof? Paman kada lihat hal yang aneh." "Tadi, Sofia melihat bayangan seseorang di belakang aku, Paman. Jelas sekali, kada mungkin Sofia salah lihat. Cuman, sekarang bayangan itu kada ada lagi. Aneh 'kan Paman?" (Kada = tidak)  Lelaki tua itu, hanya terdiam. Tak ada sepatah kata yang terucap. "Mungkin kamu kecapekan, Sofia." "Hemmm ... dari tadi Paman bilang kalau Sofia kecapekan terus. Pasti Paman tahu sesuatu, cuman sengaja kada mau bilang!" seru Sofia kesal. Karena dia yakin lelaki ini, mengetahui sesuatu. "Maksud Sofia gimana? Sesuatu apa?"  Kali ini pandangan mata Sofia saling beradu dengan manik mata Paman Botek. "Apa, rumah ini berhantu?" "Hussst! Jangan nggawur kamu. Biar pun kosong, Paman selalu bersihkan rumah ini." Sofia terdiam dengan pandangan masih tak percaya. Lalu berdiri dan meletakkan foto itu di atas meja. "Kalau Paman masih kada percaya juga. Ayo ikutin Sofia!" Walau ragu, pada akhirnya Paman Botek mengikuti langkahnya keluar kamar. Sofia menuju ruang tengah. Dia melihat pada Acil yang juga terbangun dan memandang aneh ke arahnya. "Nih, Paman sama Acil lihat!" Tanpa disangka oleh mereka. Sofia menarik kain penutup cermin. Wussshhh! Dalam sekejap, kain penutup itu terlepas. Cermin tua dengan bingkai yang terukir indah terpampang kokoh. Seolah dia siap memberikan pantulan yang terbaik bagi siapa saja yang bercermin padanya. "Paman lihat ini!" Kedua pasang suami istri hanya bisa saling berpandangan. Mimik wajah mereka berdua sangat tegang. Apalagi Acil dia sampai menutup mulutnya sendiri. "Sof ... Sofia!" Namun, gadis itu tak mendengarkan panggilan Paman dan Acil yang serempak. Dia berjalan pelan hingga berdiri tepat di depan cermin, "Paman perhatikan cermin ini!" Sofia mengangkat salah satu tangan ke atas. Lalu, tersenyum lebar. Akan tetapi semua diluar perkiraan sang gadis. Semua terlihat normal dan biasa saja. Bayangan dirinya di dalam cermin tak ada yang aneh. Semua wajar-wajar saja. "Kenapa tadi aku pas sendirian, bayangan aku tak seperti ini?" bisik Sofia. "Kenapa Sof? Kada ada yang aneh 'kan?" "Entahlah Paman. Kepalaku tiba-tiba pusing. mUngkin benar yang Paman bilang, kalau aku kecapekan."  Sorot mata yang tajam masih melihat ke arah cermin. Saat Sofia masih memperhatikan bayangannya. Sekejap dia melihat sesuatu yang melintas. "Siapa itu?!" teriak Sofia langsung menoleh ke belakang. Membuat Paman Botek dan Acil ikut menoleh.   Tanpa menunggu Paman Botek dan Acil. Sofia langsung berlari mengejar bayang yang tadi berkelebat. Menuju arah luar rumah.  Sedangkan Sepasang suami istri itu, masih terpaku diam tak bergerak. Sampai Acil menepuk sang suami. "Sofia, Bah! Kita kejar sekarang!"  Acil langsung menarik tangan Paman Botek. Mereka mengikuti langkah Sofia yang sudah berlari lebih dulu.  Pintu rumah terbuka lebar. Mereka pun langsung menuju halaman rumah. Mencari di mana keberadaan Sofia. "Di mana dia, Bah?" "Kada tau lah, Mak. Ke mana tadi larinya?" "Ke halaman sini. Coba kita cari!" ajak Acil Mina. Bergegas mereka mengitari halaman depan. Lampu teras yang tak terlalu terang, kurang mampu memberikan pencahayaan yang cukup pada penglihatan mereka. Sampai akhirnya mereka mendengar suara. _Follow IG Raifiza_lina, sss Raifiza Lina_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN