Dua jam berlalu.
Sofia masih terlelap.Tiba-tiba ....
Kriiieeet!
Pintu kamar berderit, pelan. Seperti ada seseorang yang sedang membuka, secara perlahan. Angin menerobos masuk. Berembus sepoi, menerpa wajah dan tubuh sang gadis. Sofia menarik selimut. Dan merasakan tubuhnya dingin seketika.
"Ihhh ... kok dingin banget sih?"
Sesaat dia membuka kedua mata, dan mengerjap beberapa kali. Saat melihat ke arah pintu, tampak kesal menghiasi gurat wajahnya.
"Ini kok pintunya bisa kebuka sih? Tak mungkin Paman sama Acil, apa kuncinya rusak?" gerutu Sofia benar-benar jengkel.
Lantas Sofia turun dari ranjang, sejanak dia melongok, menoleh kiri kanan. Tak terlihat siapa pun juga.
"Ehmmm ...."
Sofia pun berjalan keluar, menuju dapur. Dia mengambil segelas air putih, meminumnya sampai habis. Setelah meletakkan gelas di atas meja. Dia mengurungkan untuk masuk kamar. Lalu, meneruskan langkahnya ke ruang tengah. Sofia melongok, melihat Paman dan Acil.
"Sepertinya Paman sama Acil ngantuk berat. Pulas sekali tidurnya," bisik Sofia. Sembari tatap matanya mengitari seluruh ruang. Hingga akhirnya tertuju pada cermin itu lagi.
"Hiii ...!" Seraya bergidik dan bergagas pergi meninggalkan ruang itu.
Sofia kembali masuk ke dalam kamar. Tampaknya rasa kantuk yang tadi dia rasakan, kini hilang. Sofia masih duduk di pinggiran ranjang.
Pandangannya tertuju pada foto tua itu. Dia meraihnya. Mengusap kaca yang menutupi foto yang telah kusam. Menggosok pelan dengan telapak tangan.
"Mama sama Papa, aku masih ingat di mana kita foto ini. Di halaman rumah dekat pohon kecapi."
Bibirnya tersenyum simpul. Seakan kenangan masa kecil, melintas indah begitu saja. Namun, tiba-tiba kedua mata Sofia sedikit memicing. Mimik wajahnya sedikit berubah. Dahi yang tadi biasa saja, kini terlihat mengernyit. Seolah ada sesuatu yang membuat Sofia heran dan aneh.
Foto yang ada di pangkuannya, dia angkat hingga sejajar dengan pandangan mata. Memandang lurtus dengan soro yang tajam. Memperhatikan seksama;
Beberapakali dia menelan ludah. Hanya untuk sekedar membasahi tenggorokkan yang tiba-tiba mengering dan serasa serak.
"I-ini ... ada siapa?"
Sofia seperti melihat sosok lain yang berada di belakang tubuhnya. Dia melihat kaki dan tangan kecil, yang memegang pundak, serta rambut dari sosok itu yang panjang terurai. Menutup sebagian wajah.
"Haaahhh!" sentak Sofia. Foto itu sampai terlempar di atas kasur.
Seketika tengkuk Sofia terasa dingin. Dadanya berdebar-debar. Hingga gadis itu, merasakan bulu kuduk yang berdiri merinding.
“A-apa aku salah lihat ya?" Dia memberanikan diri melirik ke arah foto. Ingin hati untuk mengambil foto itu lagi. Hanya saja, ada perasaan yang mencekam dalam diri Sofia. Entah karena apa? "Tapi ... aku yakin tadi itu, benar-benar melihat ada seseorang. Dia kayak berdiri di belakang aku. Cuman, siapa dia ya?”
Sang gadis, mencoba mengingat kembali di masa dulu. Saat mereka berfoto. Walau sulit bagi Sofia mengingat, karena saat dalam foto, dia masih berusia sekitar 8 tahun.
“Aku sangat yakin, tak ada orang lain selain kami bertiga. Terus bayangan itu tadi, siapa? Kenapa, dia mirip dengan sosok yang sering aku lihat bersembunyi di balik pohon rambutan itu?”
Krieeet!
Belum rasa bingungnya terjawab. Kali ini pintu kamar kembali berderit dan terbuka lebar. Sofia langsung menoleh. Bulu kuduk yang sedari tadi meremang. Semakin merinding. Perasaan Sofia menjadi tidak nyaman.
"Paman ... Acil!" Seru Sofia lirih. Dia berharap ada yang menjawab dirinya saat ini.
Namun suasana tetap saja hening dan sunyi, tak ada suara yang terdengar. Selain bunyi cicak dan jangkrik. Buru-buru, Sofia beranjak dan menutup pintu kamar serta menguncinya.
"Mungkin aku tadi lupa kunci kali."
Memberanikan dirinya, Sofia meraih foto yang tergeletak tak jauh dari dia duduk. Saat pandangan mata beralih pada foto itu lagi, sosok bayangan yang dia lihat, kini menghilang. Sofia menggeleng pelan.
"Ini ... benar-benar mulai aneh deh. Apa mungkin karena rumah ini, udah lama kosong ya?"
Dug dug dug!
Sofia terkesiap. Dia merasa mendengar kalau pintu kamar seperti ada yang mengetuk pelan. Bersamaan dengan suara ketukan. Degub jantung Sofia berdetak lebih cepat.
"S-siapa? Pamankah? Eeehhh ... atau Acil?"
Perasaan Sofia semakin tidak menentu. Antara membuka pintu atau membiarkannya. Sesaat dia hanya bisa terdiam, dengan bola mata yang mengarah pada pintu kamar.
Dug dug dug!
Ketukan lirih itu kembali terdengar. Membuat Sofia semakin gelisah. Pada akhirnya dia putuskan, beranjak dari tempat tidur.
Langkahnya perlahan, bergarak mengarah pada pintu. Jemari tangan Sofia terlihat gemetaran. Apalagi saat memegang kenop pintu. Tangannya bergerak memutar pelan-pelan. Sampai pintu kamar mulai terbuka.
Terdengar hela napas yang berat dari Sofia. Gadis itu, mulai mengintip dari celah pintu. Tak ada seorang pun yang dapat dia lihat. Hingga pandangan mata tertuju, pada pintu kamar orangtuanya yang terbuka lebar.
“Loh, bukannya tadi udah dikunci sama Paman? Apa karena angin? Tapi, kalau angin mana bisa buka pintu yang udah dikunci sih?” bisiknya.
Tanpa pikir panjang lagi. Sofia memberanikan diri, melangkah ke luar kamar. Sesaat Sofia berdiri di ambang pintu. Lalu, melongok ke dalam kamar. Ruang kamar ini, terlihat sangat benderang.
Buru-buru, Sofia langsung menarik kenop pintu dengan cepat. Namun, pintu itu terasa berat. Hingga dia harus masuk ke dalam kamar untuk menariknya.
Sesaat dia merasakan seperti ada seseorang yang tengah mengawasi. Buru-buru Sofia berbalik arah. Tubuhnya langsung memutar ke belakang. Pandangan mata Sofia seperti melihat seseorang tengah berdiri di sudut kamar, dengan paras yang membelakangi.
Seorang gadis, dengan perawakan yang sama seperti dirinya. Bahkan rambutnya pun tergerai sebahu. Sama persis dengan rambut Sofia. Sosok gadis itu, mengenakan gaun putih selutut. Dengan motif bunga-bunga kecil. Ada gambar burung merak di tengahnya.
“Si-siapa ka-kamu?” tanya Sofia dengan suara yang tertahan.
Degub jantungnya semakin berdebar kencang.
“Aku adalah kamu ....”
Suaranya terdengar menggema ke seluruh ruang kamar.
“A-apa maksudnya?”
“Kamu adalah aku ….”
Jawaban sosok gadis itu, membuat Sofia ketakutan. Langkahnya seketika mati dan kaku. Dia hanya bisa berdiri mematung. Dengan raut wajah yang seketika pias.
“Sofia!”
Tiba-tiba, sebuah tepukan lembut mendarat di bahunya. Hampir saja gadis itu, melompat tinggi.
"Pamaaan!" Sofia terhenyak. Kulit wajahnya memerah menahan ketegangan yang baru saja dia rasa. Paman Botek sudah berdiri di sampingnya dengan sorot mata tajam memandang Sofia.
”Kenapa Sofia di sini?” tanya Paman Botek penuh selidik.
“Aaahhh … eeehhh! Sofia juga kada tau Paman.” (Kada = tidak)
Gadis itu berjalan pelan ke luar kamar, dengan kebingungan. Seolah apa yang baru saja dia lihat adalah mimpi. Akan tetapi Sofia merasa melihat dan mendengar saat sosok gadis itu berkata.
“Kenapa aku jadi berhalusinasi seperti ini?” desisnya.
“Sofia, minum dulu nah!”
Paman Botek sudah membawa segelas air putih kepadanya.
"Ayo, duduk sini dulu!"
Sofia mengikuti langkah Paman Botel yang berjalan menuju ruang tengah. Acil hanya membuka mata sesaat. Lalu, melanjutkan tidur lagi.
Sofia yang masih gemetaran, langsung meneguk air putih sampai habis tanpa sisa.
“Sekarang Sofia sudah tenang?”
“Sudah Paman. Tapi, seperti ada sesuatu yang aneh. Sofia seperti bermimpi Paman?”
“Bermimpi?”
_oOo_