"Yang Damian katakan benar. Kalau putrinya ternyata senikmat ini." Aida Nahira mematung. Menatap hampa pada langit-langit kamar yang temaram. Saat pria itu berdiri, menatap tubuhnya yang penuh akan peluh dengan tatapan lapar sekali lagi. "Apa kau siap dengan permainan selanjutnya? Aku rasa, kau masih sanggup melayaniku." Nahira mengembuskan napas berat. Saat matanya menatap lirih pada perut buncit Tuan Aaron dan meringis. "Apa kau mau berjanji setelah ini tidak ada korban lagi? Hentikan perbuatan menjijikan itu." "Kau meminta sesuatu?" Nahira mencibir ketika mendengar panggilan itu. "Sebenarnya, itu tidak cukup. Aku ingin menikmati tubuh dari anak yayasan lain. Kau tahu Asha Nala? Dia benar-benar gadis yang membuat gairahku meledak. Aku tidak tahu apa istimewanya gadis itu sampai-sam

