"Jika kau ingin memakamkan Aydin dekat dengan ibunya, pakailah pesawat milikku. Biar aku yang meng—," "Terima kasih banyak," ujar Nata parau. Saat dia menatap Nato Azda yang terluka pada bagian bawah matanya dan mendesah. "Argi juga sudah menawarkan. Aku akan dengan senang hati membawa Tuan Aydin kembali ke Tokyo." Argi hanya bisa memandang dalam diam. Saat pandangan lirihnya terlempar ke dalam kamar, di mana seharusnya Aydin sudah dibersihkan dan hanya menunggu untuk dikebumikan. Tetapi, Nata masih ingin membiarkannya tetap di Osaka untuk beberapa jam ke depan. "Kau dan aku ... kita tidak menyangka akan berakhir seperti ini, bukan?" Nala memejamkan mata. Berbicara pada Aydin yang tengah tertidur panjang membuat airmatanya nyaris tumpah. "Banyak kemungkinan yang terjadi. Dan tidak seha

