52

1918 Kata

"Papa, aku mau es krim!" "Iya. Mau rasa apa?" "Cokelat! Hehe." Aida Nahira terpaku. Menatap interaksi hangat antara ayah dan anak yang terjadi di bangsal anak. Mereka mendapatkan waktu untuk keluar dari kamar inap, berjalan-jalan mengitari rumah sakit saat senja tiba. Kedua mata birunya berpendar sendu. Kala dia menatap siluet oranye yang perlahan mulai menipis. Napasnya berubah sesak. Saat Nahira menarik tiang infusnya sendiri untuk mendekat pada kursi tunggu, lalu duduk di sana. Meratap dalam diam, menikmati sepi yang melingkupi. Kedua matanya mengerjap. Menemukan anak berambut pendek, nyaris sebentar lagi gadis kecil itu kehilangan rambutnya. Begitu tipis dan mudah rontok. Nahira menipiskan bibir. Menemukan sang ayah menggandeng tangannya dengan senyum, dan si anak terus berceloteh

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN