Aida Nahira mendesis. Menatap pemandangan di depan mata dengan bibir gemetar dan gigi bergemelatuk. Bagaimana bisa interaksi di antara mereka berdua sehangat itu? Sial. Nala menyukai Azda. Tidak, gadis itu ada di taraf dia tidak bisa membedakan antara rasa suka dan cinta. Hubungan mereka terlanjur erat, dan Nahira menyadari pembatas yang terjadi di antara keduanya adalah dirinya sendiri. Nato Azda jelas memiliki ketertarikan dengan dirinya. Nahira tahu itu. Dan Nala berpura-pura membutakan pandangannya. Berpikir bahwa arti tatapan mata Azda hanya semu. Hanya halusinasinya saja. Untuk apa dia mengejar pria berwajah buruk rupa yang sayangnya kaya seperti Azda? Cih. Jalan bersamanya saja membuat Nahira muak. Dan sekarang? Laki-laki itu menaruh rasa padanya? Benar-benar dunia sedang bercan

