Aida Nahira mendengus. Menatap pada dokter kandungan yang menatapnya nanar. Saat matanya berkilat, dan bibirnya menipis. "Kau tidak salah diagnosa?" Kepala dokter itu menggeleng. Saat Aida Nahira datang bersama keluhannya. Berpikir bahwa terjadi sesuatu dalam perut atau rahimnya, Nahira memeriksakan diri ke dokter spesialis. Berharap kalau itu hanya gejala menstruasi biasa. "Kau pernah bilang kalau aku hamil, dan ternyata hamil anggur," ucap Nahira sinis. "Dan sekarang? Kau bilang kalau benjolan itu tak berdetak dan tak bergerak? Itu artinya tumor?" Dokter kandungan itu menarik napas. Dokter bernama Ara itu menatap Nahira lekat. "Ini tidak sekali dua kali kau menggugurkan kandunganmu, kan? Ini resikonya. Sudah kukatakan, aborsi ilegal akan meninggalkan bekas." Nahira mendecih. "Tidak.

