44

1197 Kata

"Kenapa kau tidak mau melakukannya? Jangan sok suci. Ini bisa meloloskanmu ke beasiswa terbaik di masa depan. Kau mau mengejar cita-citamu, kan? Maka ini, kau harus lakukan ini." Nala mulai jijik. Terlebih pada dirinya sendiri yang tak berdaya saat disentuh. Ketika telapak tangan kasar itu mengusap kulit tangannya, dan merasakan bulunya meremang bukan karena nikmat. "Lepaskan!" Nala mengerang. Menghentak tangan itu kasar saat dia terengah-engah. Menatap sinis pada kepala yayasan yang masih menyunggingkan senyum melecehkan. "Aku tidak mau!" Suaranya serak, bercampur sesak. "Bagaimana bisa Anda melakukan hal ini di sekolah? Di ruangan Anda sendiri?" Kepala yayasan itu hanya terkekeh. Menatap Nala seolah dia hanya objek fantasi seksual. "Kenapa memangnya? Ini ruanganku, ini area priba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN