Aydin menyingkap tirai pada jendela. Menatap hujan yang masih menyisakan rintik. Meninggalkan angin yang berhembus menerbangkan anak-anak daun. Matanya menelusuri pekarangan rumah Nala yang sepenuhnya basah. Hujan membuat mereka terlihat lebih hidup. Kepalanya terdongak. Aydin tidak membutuhkan pelangi malam ini. Dia hanya ingin melihat bintang dan bulan bersinar setelah hujan reda. Dan rasanya mustahil menunggu itu ada, karena sebentar lagi pagi menjelang. Desahan napasnya berubah pelan. Dia menutup kembali tirainya. Berjalan ke sisi sofa yang lain. Barang sedikit saja dia tidak bisa memejamkan mata. Melihat ponselnya dan masih tetap sama. Nata hanya mengabari bahwa semua urusannya baik-baik saja. Dan masih menunggu Aydin kembali untuk mengurus pekerjaan yang sempat terbengkalai. Kedua

