Nala tanpa kata duduk di kamar ibunya. Meninggalkan Aydin yang termenung, menatapnya dalam diam. Aydin tidak bicara apa-apa saat mereka di perjalanan. Nala hanya diam. Melamun menatap pemandangan dari dalam mobil dan sesekali menangis. Nata meremas tangannya. Menatap punggung Aydin dengan pandangan yang sulit diartikan. Saat kepala Aydin menoleh ke arahnya, dan pria itu berjalan menghampirinya. "Apa ada baiknya kita pulang saja? Membiarkan Nona Nala sendiri?" Aydin mengusap wajahnya yang pucat. Ada kalanya dia harus memberikan Nala waktu untuk sendiri. Seperti saat ini misalnya. Saat Andari pergi, Aydin pun sama. Membutuhkan waktu sendiri untuk berkabung. Untuk belajar melepaskan. Belajar merelakan ibunya bahagia di alam lain. "Aku akan kembali untuk membawakannya makan malam," ujar Ay

