37

2060 Kata

"Selamat pagiiii!" Suara Aydin menyapa. Membuat Nala terkejut di pagi hari karena pria itu sudah berdiri di depan pintu. Dan yang membuatnya heran, mengapa Aydin tidak mengetuk pintu? "Kau tidak mengetuk pintu?" Kepala itu menggeleng. "Kau terbiasa bangun pagi, kan? Aku akan menunggu di sini seperti patung selamat datang. Dan kau pasti terkejut menemukanku di sini." Senyumnya melebar. Membuat kantuk yang sempat Nala tahan terbang bebas. Nala mendengus, menatap pria itu dengan gelengan geli. "Di luar dingin, masuklah. Di dalam lebih hangat." "Bolehkah?" "Tentu," Nala mengangkat alis. "Kenapa tidak?" Aydin berdeham. Dia menoleh ke arah mobilnya. Sudah terparkir dengan baik, lalu masuk sembari menenteng sarapan untuk mereka berdua. "Aku belikan sesuatu. Di antara bubur dan pasta, aku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN