"Tuan Darren pergi menyendiri ke Berlin. Aku mendapat bukti keberangkatannya pagi ini." Alis Aydin terangkat. "Dia pergi sendiri?" Kepala Nata terangguk. "Sendiri. Tidak bersama siapa pun. Tidak ada perempuan, tidak ada siapa-siapa. Dia pergi dengan pesawat komersil biasa. Kelas satu. Bukan pesawat pribadi." Aydin menghela napas. Udara dingin yang berhembus dari pendingin ruangan sama sekali tidak berefek padanya. Dia hanya diam. Tubuhnya yang kaku semakin kaku saat mendapati Andari kejang-kejang sebelum subuh. Membuat Aydin panik, terus memanggil nama sang ibu dengan lirihan pedih. Nata kembali berpaling. Menatap Nyony Andari di atas ranjang. Dia tahu, tahu benar kalau Aydin sedang kalut. Karena dokter yang menangani Nyonya Andari perlahan menunjukkan tanda menyerah. Reaksi tubuh Anda

