"Kau sudah izin pada suamimu?" Nala melepaskan pandangan kagumnya dari kedai roti mungil bergaya minimalis unik, dengan d******i warna cokelat tua dan putih yang mencolok. "Hmm. Saat aku pergi, dia sedang tidur. Azda akan tidur setelah meminum obatnya." "Dia punya tangan kanan yang setia," Aydin menatap Nala hampa. "Dan istri yang berdiri di sampingnya. Sesulit apa pun jalannya." Nala kembali menoleh. Menatap lurus ke mata Aydin yang kini berpendar pedih. "Bukankah, itu tugas istri? Tidak, maksudku, bukankah itu yang harus dilakukan pasangan yang menikah? Bersama saat suka dan duka." Aydin mendengus. Memasukkan kedua tangannya ke saku mantelnya dan menggeleng pelan. "Kau ini naif sekali ternyata," katanya dingin. "Dilihat dari sisi mana pun, Azda tidak bersamamu saat dia senang, dan

