Nala menoleh, mengintip ke dalam ruang kerja suaminya dalam diam. Pandangan matanya nanar, memandang lurus pada Azda yang menopang dagu, menatap datar ke arah laptop kerjanya. Pandangan Nala bertaut pada sandal rumah. Menarik napas panjang saat dia menatap sekali lagi, lalu memberanikan diri untuk masuk. Mengetuk pintu dua kali dengan kepala menyembul ke dalam ruangan. "Boleh aku masuk?" Azda meliriknya. Mengangguk sekilas sebelum akhirnya Nala masuk. Berjalan mendekat sembari mengendik ke arah pintu. "Aku buat sesuatu. Sisanya akan kukukus besok. Aku akan mengantarkannya pada ibu dan Aydin." Alis Azda terangkat. "Aydin?" Dia menatap mata istrinya. "Kau dekat dengannya sekarang?" "Kami hanya teman," balas Nala pelan. "Bukankah, tidak masalah bagimu kalau aku dekat dengan siapa pun?"

