Hujan turun deras malam itu, mengetuk-ngetuk jendela rumah besar yang pernah menjadi istana cinta Erika dan Alvaro. Di kamar tidur yang megah tapi dingin, Erika duduk di ujung ranjang, tubuhnya membungkuk, jemari gemetar saat memegang map berisi foto-foto yang diberikan wanita misterius di Kafe Lotus. Foto-foto itu seperti duri yang menusuk langsung ke dalam hatinya. Wajah Xavier terpampang jelas, berulang kali bersama perempuan-perempuan muda. Senyumnya penuh kemenangan, penuh nafsu, seakan menandakan betapa dirinya bukan sekadar pengusaha, tapi predator yang haus kekuasaan dan tubuh wanita. Erika menutup map itu dengan kasar, lalu menjatuhkannya ke lantai. Napasnya berat. “Kenapa aku bisa sedekat ini dengannya…?” gumamnya. Matanya terpejam, dan bayangan Alvaro muncul di dalam pikiran

