Kevin terkejut, saat ia menapakkan kakinya ke tanah. Bukan nya sebuah gedung tinggi nan megah tempat apartemen nya berada yang ia lihat. Tapi ia justru melihat sebuah rumah kecil sederhana. itu rumah Zizi. Kevin menggelengkan kepalanya. Ia pasti sedang bermimpi. Matanya lalu mengerjap-ngerjap, yakin jika itu hanya halusinasinya, efek dari mabuk. Namun hingga lima menit lamanya, rumah itu masih berada di depan matanya. Kevin mendengus kesal, marah pada dirinya sendiri karena mabuk. Mabuk membuatnya seperti orang gila. Tidak hanya kehilangan kesadaran tubuh, otak nya pun mati, bibirnya juga ikutan linglung. Di dalam taksi tadi, rupanya ia tanpa sadar menyebutkan alamat rumah Zizi, bukannya alamat apartemen nya. Sekarang ia tidak punya pilihan, selain masuk ke rumah Zizi. Tidak mungkin men

