Bangun dini hari sudah jadi rutinitasku selama enam bulan terakhir. Memulai hari dengan salat di sepertiga malam, memohon kebaikan, dan kelapangan rezeki untuk kami. Selesai salat aku beranjak ke dapur, bersiap mengolah berbagai macam penganan kue yang dititipkan di beberapa warung langgananku.
Menjelang subuh, kue-kue tersebut telah matang, tinggal mengemasnya agar terlihat menarik dan higienis. Sembari menunggu dingin, aku membangunkan Mas Irwan serta anak-anak. Dia rutin melaksanakan salat subuh berjamaah di masjid. Sedari dini kami memang menanamkan kecintaan terhadap masjid kepada kedua buah hati kami, terutama Bayu.
Ketika Mas Irwan pulang dari masjid bersama Bayu, aku pun telah selesai mengemas semua kue-kue yang dimasak tadi. Bika ambon, brownies kukus, risol, dan puding coklat kutata di kotak-kotak kecil agar nanti gampang dibawa. Sarapan pun telah terhidang di meja makan, nasi goreng dengan irisan telur dadar di atasnya, kopi hitam untuk Mas Irwan, dan teh manis hangat untuk aku serta anak - anak. Setelah sarapan Mas Irwan bersiap berangkat ke toko, sekalian mengantar anak-anak sekolah. Sekolah dan toko material tempatnya bekerja searah, sehingga kedua anak kami tidak perlu berdesakan dalam angkutan umum.
"Ra, ini bunda udah siapin kue buat dititip di kantin, nanti sekalian minta uang kue yang kemarin, ya," ujarku, seraya menata beberapa macam kue yang akan dibawa Nadira ke sekolah.
"Iya. Nanti Dira pulang agak telat, ya, Bun," sahutnya sambil memakai sepatu.
"Mau ke mana?" Aku meletakkan kantong kresek hitam yang berisi kue di sebelahnya.
"Mau buat tugas kelompok di rumah Mega."
"Oo, ya, udah, tapi pulangnya jangan terlalu sore takut kehujanan."
"Beres bun."
"Ayo buruan, Ayah udah nunggu dari tadi."
Kuantar Bayu dan Nadira ke luar. Mas Irwan sudah menunggu di teras, setelah berpamitan mereka pun berangkat.
*
Detik, menit, dan jam berlalu begitu cepat. Tanpa terasa malam kembali menguasai hari. Bayu dan Nadira telah lena ke pulau impian sedari tadi, hanya aku yang gelisah mondar-mandir di ruang tamu. Melirik jam yang tergantung di dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Tidak biasanya Mas Irwan pulang selarut ini. Di luar hujan turun sangat deras, ditingkahi petir, dan guruh yang bersahutan.
Jantungku berdetak sangat kencang, berulang kali menyebut Asma Allah, memohon perlindungan untuk Mas Irwan. Entah berapa kali mengganti program televisi, tetapi tak mampu mengalihkan perhatianku. Mungkin terlalu lelah menunggu dan rasa kantuk tak dapat ditahan, perlahan mataku menutup membawa ke alam mimpi.
*
Suara ketukan di pintu membangunkanku. Sekilas kulihat jam di dinding, pukul lima pagi. Gegas membuka pintu dan melihat Mas Irwan berdiri dengan wajah kusut, pakaiannya pun acak-acakan. Alarm di kepalaku langsung bereaksi, pertanda ada yang salah. Ingin bertanya, tetapi dia sudah lebih dulu bersuara.
"Laras, kamu siap-siap, ya, kita ke rumah Mak Adang," perintahnya lembut. Wajahnya begitu kusam dan sorot mata terlihat letih.
"Ada apa, Mas? ke mana kamu semalam?" Aku mengekori Mas Irwan ke kamar.
"Mak Adang kemarin sore kena serangan jantung." Dia menjawab singkat, membuka jaket dan T-shirt yang dikenakannya.
"Ya Allah! Trus gimana keadaan beliau, Mas?"
"Dini hari tadi beliau meninggal dunia. Semalam aku menemani beliau di rumah sakit. Sekarang kamu bangunkan anak-anak, minta tolong Uni Yuli untuk menjaga mereka. Mas mau balik ke rumah sakit lagi. Nanti kamu Mas antar ke rumah almarhum buat bantu-bantu di sana," terang, Mas Irwan.
"Iya, Mas, kita salat dulu." Gegas berwuduk dan membentangkan sajadah untukku dan Mas Irwan.
Setelah salat segera kubangunkan anak-anak. Memastikan mereka sarapan, lalu menitipkan keduanya ke rumah uni Yuli--tetangga sebelah rumah kami--Uni yuli sudah seperti kakak bagiku. Dia banyak membantu sejak kami pindah ke Padang.
Setelah beres dengan urusan anak-anak, kami berangkat ke rumah almarhum. Aku dan Almarhum pernah sekali bertemu saat di pernikahan kami. Beliau Kakak tertua dari Amak suamiku. Lima belas menit berkendara motor Mas Irwan berhenti di rumah yang sangat besar dan terbilang mewah. Mengingatkan pada rumah kami dahulu di Jakarta. Terlihat banyak pelayat yang berdatangan. Setelah menurunkanku, dia pergi begitu saja. Meninggalkanku dalam kebingungan karena tak seorang pun yang dikenal di sini.
Memasuki rumah besar itu, kulihat Amak Mas Irwan duduk di dekat dipan kayu, sepertinya akan digunakan untuk meletakkan jenazah. Aku menghampiri dan mencium takzim punggung tangan beliau.
"Kama si Irwan?" Amak melihatku sekilas, lalu kembali sibuk menata kain kafan, kapas, dan beberapa sabun mandi di atas tilam.
Walau aku bukan orang minang, tetapi aku mengerti apa yang di tanyakan Amak. "Ke rumah sakit Mak, mengurus jenazah, Mak Adang," jawabku, lalu duduk di samping Amak.
Beliau diam. Hening segera bermain di antara kami. Aku juga tak tahu harus bagaimana, rasanya semua yang kulakukan tidak benar di mata Amak.
Raungan sirine ambulans memecah keheningan itu. Aku mengikuti Amak yang bergegas keluar. Terlihat beberapa orang lelaki mengeluarkan jenazah Mak Adang dari mobil yang bertuliskan nama sebuah rumah sakit dan menggotong ke dalam rumah.
Di belakang mereka terlihat seorang lelaki dan wanita berjalan, membuat mataku terbelalak. Rasanya oksigen di sekitar terasa menipis, hingga d**a terasa sesak. Nyeri pun segera memagut jantungku. Wanita itu menyandarkan kepala ke d**a bidang Mas Irwan, sementara suamiku itu merangkul bahu wanita tersebut dengan erat. Mengingat suasana berkabung, aku menahan diri untuk bereaksi. Mencoba berbaik sangka pada mereka berdua.
Mas Irwan melewatiku begitu saja. Siapa wanita itu dan mengapa dia begitu terlihat melindunginya? Mencoba meredam gejolak hati. Aku harus tenang, setidaknya di rumah nanti aku bisa meminta penjelasan darinya.
Sebelum salat Asyar, jenazah Mak Adang selesai dikebumikan. Para pelayat pun telah pulang satu per satu, hanya kami keluarga dekat saja yang tinggal. Aku mencoba mencari Mas Irwan karena sejak pulang dari kuburan sosoknya sama sekali tidak terlihat.
Sekali lagi pertahananku diuji. Di dalam rumah, di sebelah ranjang kayu, kulihat lelakiku itu memeluk erat wanita tadi. Sang wanita menangis dalam pelukan suamiku. Meremas ujung kerudungku mencoba menenangkan badai di hati, tak ingin berburuk sangka, lalu mengotori pikiran dengan hasutan setan.
"Mas ...." Aku memanggil lirih. Lelakiku itu menoleh, dia melepaskan pelukannya dari tubuh wanita itu.
"Laras, duduk di sini." Mas Irwan meraih tanganku, menepuk lantai di sebelahnya.
Aku menggeleng, rasanya tak mampu menahan ngilu yang memilin jantung. "Mas, bisa pulang sekarang. Aku khawatir sama Bayu dan Nandira."
"Kalau nio pulang, duluan selah, bia si Haris yang maantaan." Tiba - tiba Amak menyela dari belakang. "Irwan masih paguno disiko."
(Kalau mau pulang, pulang saja. Biar Haris yang mengantar. Di sini Irwan masih dibutuhkan)
Aku hanya diam memandang Mas Irwan, berharap dia mencegah. Namun, justru anggukan yang kudapat. Dia setuju dengan Amaknya. Aku pasrah diantar Haris, adik bungsu suamiku. Sepanjang perjalanan pulang bayangan Mas Irwan memeluk wanita itu terus menghantui. Banyak tanya menggelayuti benak. Siapa wanita tersebut? Mengapa keduanya terlihat begitu dekat, apa hubungan mereka? Semakin dipikirkan, semakin dadaku berdenyut nyeri. Menganjur nafas pelan berharap semua baik-baik saja.