Sakit yang Memilin Jantung

1680 Kata
Suara ketukan serta uluk salam membangunkanku yang hampir lena ke alam mimpi. Rasa kantuk dan lelah membuatku enggan membuka mata, tetapi suara itu terdengar lagi. Lamat-lamat mendengar seperti suara Mas Irwan. Gegas membuka pintu, terlihat lelaki itu mengulas senyum hangat. Meraih tangan dan menciumnya, lalu dia merangkul bahuku dan menuntun masuk ke dalam rumah. "Belum tidur, Sayang," tanyanya menatapku lembut. Aku menggeleng dan tersenyum. "Baru mau, Mas." "Anak -anak mana?" Kepalanya celingukkan mengitari ruang tamu. "Udah tidur. Mereka nungguin Mas dari tadi." Aku mengusap wajah lelakiku yang terlihat letih. "Mas, mandi dulu, ya, kusiapin air panas." Mas Irwan mengangguk, mengiyakan tawaranku. Beranjak ke dapur bermaksud memanaskan air untuknya, lalu kembali ke kamar untuk mengambil handuk baru dari dalam lemari, tak lupa kaus oblong dan celana pendek selutut untuk pakaian ganti. Sambil menunggu Mas Irwan mandi, aku memanaskan lauk yang dimasak tadi sore, lalu menghidangkan di atas meja. Lelakiku itu mendekat, sambil menggosok rambutnya dengan handuk kecil berwarna putih. Wajahnya terlihat lebih segar dan tentu saja tampan. "Kamu masak, Sayang?" Dia menyampirkan handuk kecil itu di sandaran kursi, lalu menarik dua buah kursi untuk kami. "Iya, Mas cuma oseng pare sama telur balado." jawabku, sambil menuangkan air mineral ke gelas kosong, lalu mengangsurkan ke depannya. "Wah, mantap ini, ambilin nasi dong," pintanya, sambil menyodorkan piring padaku. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat kemanjaannya. Menyendokkan nasi dan lauk untuknya. Mas Irwan terlihat sangat lahap, bahkan menambah hingga dua kali. Senang rasanya masakanku dinikmati. Rasa sakit karena kejadian tadi siang perlahan pudar. Biarlah malam ini suamiku menikmati makan malamnya dengan tenang. Hal yang mengganjal tadi bisa kutanyakan nanti. * Mengobrol sebelum tidur sudah menjadi kebiasaan sejak awal menikah. Berbagi cerita tentang keseharian maupun kejadian di sekitar, meski sibuk dengan rutinitas yang padat tidak membuat komunikasi kami renggang. Mungkin itulah yang menyebabkan rumah tangga kami masih seperti pengantin baru. "Mas, aku boleh nanya ngga? tapi kamu ngga boleh marah." "Serius banget, Sayang. Ada apa?" Mas Irwan membelai lembut kepalaku. "Perempuan yang Mas peluk tadi siapa? Sampai istri sendiri dilupain," tanyaku sedikit merajuk. Mas Irwan terdiam, gerakan jarinya di kepalaku juga terhenti sesaat. "Namanya Zahra. Dia putri tunggal almarhum. Aku cuma menguatkan dia, ngga ada maksud apa-apa. Zahra sangat shock dengan kepergian almarhum Bapaknya," jelas Mas Irwan yang entah mengapa membuat hatiku lega. "Masa segitunya, peluk-peluk segala?" "Cemburu, ya, Sayang? Zahra udah kuanggap adik sendiri. Lagian sekarang keluarganya cuma aku, Amak, sama Haris doang. Jadi wajar jika aku menjaganya." "Tapi, Mas, orang-orang di sana mengira kamu suaminya. Aku, 'kan jadi kesal," debatku masih memerlihatkan rasa kesal. "Udah, jangan marah melulu. Mas janji ngga bikin kamu kesal lagi." Mas Irwan merengkuh pundakku, lalu berbisik lirih. "Mas, kangen, Sayang." Entah karena rasa cinta yang teramat besar, dengan mudahnya aku luluh. Mas Irwan menyakinkanku bahwa hanya aku satu-satunya ratu di hatinya. * Sebulan sejak meninggal Mak Adang, Mas Irwan dipercaya mengelola semua toko material milik beliau. Toko tersebut tidak hanya di Padang, tetapi juga berada di Padang panjang, dan Bukittinggi karena itu sebulan sekali dia harus pergi ke kota tersebut untuk mengecek keadaan toko. Hal itu berimbas pada kebersamaan kami. Dia selalu sibuk. Pergi pagi dan baru pulang setelah pukul sepuluh malam. Sering kali Nandira dan Bayu protes karnra sang Ayah tidak punya waktu lagi untuk mereka, bahkan untuk sekadar bersenda gurau. Aku selalu berusaha memberi pengertian, meski tak jarang ada resah yang mengusik hati. Akan tetapi, selalu mengenyahkan pikiran buruk tersebut. Aku percaya, Mas Irwan tidak akan pernah mengkhianati keluarganya. * Siang ini aku berencana ke rumah Amak. Mas Irwan berujar semalam beliau sakit, tak lupa membeli buah-buahan untuk Amak. Aku bingung memilih buah yang mana karena tak tahu apapun tentang Mertuaku itu. Menelepon Mas Irwan juga tak diangkat. Akhirnya kuputuskan membeli beberapa kilo jeruk dan sesisir pisang. Menyandarkan sepedaku di balai-balai yang ada di depan rumah amak. Rumahnya tidaklah besar, tetapi sangat asri dan terawat. Terdapat dua pohon kelapa di sisi kiri dan kanan rumah. Dari besarnya diameter pohon itu aku bisa menerka seumur dengan Mas Irwan. Bunga beraneka ragam tertata rapi di dalam pot di teras rumah. Amak memang pecinta bunga hias. Hari-harinya dihabiskan menanam bunga mawar dan anggrek. Mengetuk pintu dan mengucap salam. Sekali, dua kali, tak terdengar suara jawaban. Baru salam ketiga terdengar jawaban dari dalam. Begitu pintu dibuka, wajah Amak yang semula cerah berubah datar saat melihatku, membuatku menelan ludah kasar dan mengeratkan pegangan pada kantong kresek yang aku tenteng. "Laras! Dari, ma?" tanya amak, membuka pintu lebih lebar. ( Laras! Dari mana?) "Dari rumah, Mak. Mas Irwan bilang Amak sakit." Aku melihat Amak sepertinya enggan bertemu denganku. "Oo, masuaklah. Sakik saketek. Asam urek Amak naik." Amak menjawab acuh, lalu duduk di kursi rotan yang ada di ruang tamu, membuatku kikuk karena sama sekali tak dipersilakan duduk. (Ooo, ayo masuk. Ngga apa - apa. Cuma asam urat Amak kambuh). Aku memilih duduk di hadapan Amak. Tidak ada percakapan di antara kami. Tak ingin berada di situasi canggung, aku sesekali bertanya tentang kesehatan beliau. Tetap saja Amak hanya menjawab seperlunya saja. Aku tak suka suasana seperti ini. Mencoba mencari topik lain selalu ditanggapi dingin oleh beliau, hingga seseorang memecah kebekuan ini dengan uluk salamnya. "Zahra! Baa kaba, Nak? Ndeh lah lamo indak kamari, taragak Amak samo Zahra." Amak spontan berdiri dan terlihat bahagia melihat siapa tamunya. ( Zahra! Apa kabar, Nak. Kok, udah lama ngga ke sini. Amak kangen sama Zahra). Entah mengapa hatiku nyeri melihat sambutan Amak kepada perempuan itu, tetapi ... Zahra! Bukankah dia sepupu Mas Irwan? Wanita yang dipeluk erat waktu itu. Entah mengapa ada desir tidak suka melihatnya. Ah, apa aku cemburu? "Eh ado tamu ruponyo?" Zahra baru menyadari kehadiranku. Setelah beramah-tamah dengan Amak. ( eh, ada tamu rupanya?) "Iyo, iko bininyo si Irwan." Amak memperkenalkanku. ( iya, ini istri Irwan). "Oo, apa kabar, Uni? Saya Zahra." Perempuan itu mengulurkan tangan dan tersenyum ramah. "Laras." Aku menyambut uluran tangannya. Kupandangi Zahra. Perempuan itu terlihat cantik, itu kesan pertama yang kutangkap. Matanya bulat dengan iris hitam, alis tebal alami, wajah putih mulus tiada cacat, bibir mungil merah merekah, dan hidung yang mancung. Belum lagi lesung pipit di kedua pipinya yang jelas tercetak saat tersenyum. Pria mana pun tak akan berkedip melihat semua pesona ini. Apalagi hijab lebar yang membalut tubuh tinggi semampainya. Rasa rendah diri tiba-tiba menyergapku. Bukan karena aku tak secantik Zahra. Aku juga memiliki semua pesona itu, hanya saja mataku tak sebesar Zahra, juga tidak memiliki lesung pipit. Saat ini aku terlihat sangat kusam. Jangankan merawat diri, untuk mengurus rumah tangga sambil membantu Mas Irwan mencari nafkah sudah menguras waktuku. Apalagi untuk membeli produk kecantikan. Bisa makan sehari-hari pun harus pintar berhemat. "Uni melamun?" Suara Zahra membawa kesadaranku kembali. "Eh, iya, maaf." Dia tersenyum, lalu beralih memandang Amak. "Zahra baok kue kesukaan Amak. Disalin dulu, yo." Zahra masuk ke dapur di ekori Amak. (Zahra bawa kue kesukaan Amak, Zahra pindahin ke piring dulu ya). Aku seperti orang asing di rumah mertua sendiri. Lama keduanya di dapur, membuatku merasa memang Amak tak menginginkan kehadiranku. Bermaksud pamit, aku menyusul Amak ke dapur. Namun, langkahku mati ketika mendengar percakapan keduanya. Aku menajamkan pendengaran. Bukan bermaksud menguping, tetapi mendengar namaku disebut membuat rasa penasaran bercokol di hati. "Dari ma tau Amak sakik?" Terdengar suara Amak. Beliau sengaja merendahkan suaranya. Entah, mungkin takut aku mendengar. (Tau dari mana Amak sakit). "Uda Irwan maagiah tau, Mak." (Uda Irwan yang ngasih tau mak). "Bilo basuo si Irwan?" (kapan ketemu Irwan?) "Tiok pagi basuo taruih. Uda Irwan yang maantaan Zahra ka kampus, pulang Uda juo nan manjampuik." (Tiap pagi ketemu terus. Uda Irwan yang antar Zahra ke kampu. Pulang Uda juga yang jemput). "Cubolah waktu itu si Irwan indak mamutuihan patunangan, tu, kareh manikahi si Laras, pasti kiniko Zahra yang jadi minantu Amak." (Andai saja saat itu Irwan tidak memutuskan pertunangan dan ngotot menikahi Laras, pasti Zahra yang jadi menantu Amak). "Sudahlah, Mak. Usah disasali, jodoh indak ka batuka." (Sudahlah, Mak. Jangan di sesali jodoh ngga bakal tertukar) Aku terhenyak! Tidak mengira mendengar fakta ini dari mulut Amak. Tega sekali Mas Irwan menutupinya. Ke mana prinsip saling percaya dan terbuka yang kami ikrarkan sejak menikah. Sakit! Jantung ini seperti ditikam ribuan belati. Terasa perih, hingga tubuhku gemetar. Otak ini tak mampu berfikir lagi. Seperti dihamtam gelombang tsunami yang memporak-porandakan hati, menyapu semua cinta, dan rasa percaya kepada Mas Irwan. Perlahan genangan air di mataku luruh. Tidak! Aku tidak boleh menangis, tak boleh lemah. Gemetar tangan ini mengusap deraian air mata yang jatuh di pipi. Kembali duduk di tempat semula dan menyatukan jemari erat di pangkuan, berharap ada sedikit kekuatan agar tangisku tak meledak di sini. Terdengar langkah kaki mendekat, kuangkat kepala dan tersenyum manis. Setelah berbasa-basi sebentar, aku berpamitan pada keduanya. Jika bertahan sebentar lagi, aku takut tak bisa menahan luapan emosi yang membakar hati. * Kukayuh sepeda dengan kencang. Tak peduli hujan deras menghantam tubuh ini. Sepanjang perjalanan air mataku berbaur dengan hujan. Kata-kata Amak berdengung keras di gendang telinga. Tidak pernah kukira sampai detik ini beliau tidak ikhlas menerimaku sebagai menantu. Ya, Tuhan ... kuatkan hati ini. Begitu sampai di rumah, aku membiarkan sepeda tergeletak begitu saja di teras. Masuk ke kamar dan menghempaskan tubuh yang kuyup di atas ranjang. Roboh sudah pertahananku. Air mata ini meluncur deras jatuh ke pipi. Kedua tanganku membekap mulut agar tangis tak terdengar keluar kamar. Aku tak mau anak-anak melihat keadaan Bundanya yang menyedihkan. * Sebuah sentuhan lembut membangunkanku. Mungkin terlalu lelah menangis membuatku tertidur. Hangat sentuhan ini, aroma tubuh ini sangat kukenal selama sembilan tahun pernikahanku. "Maaf, aku membagunkanmu. Capek, ya, Sayang?" Tangan Mas Irwan lembut membelai rambutku. Aku menggeleng. "Ngga papa, maaf ... aku ngga, tau, Mas udah pulang. Mas mau mandi apa makan dulu?" "Mandi aja, tadi udah makan di rumah Zahra." Sesaat aliran darahku rasanya berhenti, memaksa benakku terpental mengingat kejadian tadi siang. Entah sadar atau tidak, Mas Irwan baru saja menabur garam di atas luka ini. Ngilu dengan cepat merayapi sekujur tubuh. Ingin rasanya menjerit agar lelaki itu tahu kepedihan ini. Pandanganku pun mulai nanar karena air mata yang mulai menggenang di kelopak mata. Menganjur napas perlahan, sembari menekan d**a. Mencoba menguatkan sebongkah daging yang mulai berdarah. "Mas, boleh aku bertanya ... siapa Zahra?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN