"Hidup tak pernah lepas dari masalah karena itu cara Tuhan menjadikanmu lebih kuat dan dewasa."
-------------------
Satu minggu telah berlalu sejak malam yang penuh amarah serta air mata. Di depan Bayu dan Nandira, aku bersikap tak pernah terjadi apa-apa. Namun saat sendiri, denyut nyeri kembali memancing bulir bening jatuh di pipi. Sejak malam itu aku tidak pernah sama lagi. Hati ini telah patah dan hancur berkeping-keping tanpa mampu terselamatkan.
Malam itu aku memilih kalah pada amarah. Melepas Mas Irwan adalah jalan terbaik yang harus ditempuh, dalam mimpi pun tak pernah terbersit menjalani hidup berpoligami. Bukan membenci syariat. Aku hanya wanita biasa. Memiliki cemburu cenderung posesif dan tak rela berbagi apa pun yang menjadi milikku. Apalagi suami.
Prinsipku jelas! Satu lelaki untuk satu wanita. Egois memang, tetapi itu sikapku sejak dulu. Apa pun masalah selama pernikahan selalu bisa diselesaikan dengan bijak. Namun, untuk kali ini tak ada maaf untuk Mas Irwan. Entah berapa kali lelaki itu mencoba membujuk. Memohon mengubah keputusanku. Bahkan menjadikan anak-anak sebagai alasan, tetapi kutolak mentah-mentah. Bagaimana bisa membesarkan mereka dengan baik? Jika, jiwaku saja terluka bila terus bersamanya.
Zahra. Gadis itu juga membujukku agar mengubah pendirian dan memaafkan Mas Irwan. Entah apa yang ada dalam pikirannya, harusnya dia senang akan menjadi satu-satunya istri dari lelaki itu. Ketika kutantang untuk mundur, dia menolak. Aku tersenyum kecut saat menyadari Zahra juga menginginkan suamiku. Tidak! Suami kami. Dia rela menjadi yang kedua di mata hukum. Namun, aku tidak setegar itu. Lebih baik mati berkalang tanah dari pada memutih mata melihat kebersamaan mereka. Aku tidak sesholeha Sarah dan tidak pula sekuat Siti Hajar.
*
Siang ini untuk pertama kalinya Amak mengunjungi kontrakanku. Entah angin apa beliau datang. Sebelumnya jangankan datang berkunjung, bertemu denganku saja acuh dan terkesan mengabaikan.
Hening menyelimuti suasana di ruang tamu. Baik Amak maupun aku tidak ada yang membuka suara. Sesekali kudengar wanita itu menarik napas lelah, wajahnya terlihat letih.
"Laras, Irwan alah mancaritokan sadoalahnyo ka, Amak." Beku itu pecah oleh suara lirih Amak.
(Laras, Irwan sudah menceritakan semuanya kepada Amak.")
Amak menjeda kalimatnya sesaat. Aku menunduk, memilin jemari di pangkuan, serta mencoba menyiapkan diri terhadap semua kemungkinan. Bukankah Amak membenciku dan menyayangi Zahra? Pasti beliau akan menyalahkanku atas semua kejadian ini.
"Amak kecewa samo Irwan jo Zahra. Sampai hati manyuruakkan masalah sagadang iko dari Amak. Amak sangko inyo baduo cuma batunangan sajo, nyatonyo ...." Amak tak sanggup meneruskan kalimatnya. Tangan kurusnya mengelap air mata yang jatuh di pipi keriputnya.
(Amak kecewa dengan Irwan dan Zahra. Mereka tega menyembunyikan masalah sebesar ini dari Amak. Amak kira mereka hanya bertunangan saja, ternyata ....)
"Amak mungkin indak suko samo kau, tapi Amak indak pernah mambanci kau, Laras. Amak cuma kecewa. Baa keluarga kau ndak mencari tau pakaro si Irwan dulu sabalun manikah. Amak maraso indak dihargoi salaku Induaknyo."
(Amak mungkin tidak menyukai kamu, tapi Amak tidak pernah membencimu, Laras. Amak cuma kecewa. Kenapa keluargamu tidak mencari tahu tentang asal usul Irwan sebelum menikah. Amak merasa tidak di anggap sebagai Ibunya.)
Mata yang telah menua itu menitikkan air mata, perlahan menjadi sebuah isakan halus. Hancur hatiku melihat wanita yang kuhormati menangis karena perbuatan kami. d**a ini terasa berdenyut nyeri, walau begitu ada setitik rasa lega mengetahui perasaan Amak padaku.
Perlahan mendekati beliau. Merendahkan tubuh di hadapannya, hingga tubuh kami sejajar. Kugenggam tangan ringkih Amak. "Laras minta maaf, Mak. Ini salah Laras. Terlalu bahagia saat Mas Irwan melamar, hingga percaya saja dengan semua kata-katanya." Susah sekali berujar. Suaraku lebih terdengar seperti bisikan.
Amak menyentuh wajahku dengan telapak tangannya, sorot matanya penuh kasih. Kenapa setelah aku ingin berpisah dengan Mas Irwan baru merasakan kasih sayang mertuaku ini?
"Laras, apo ndak ado jalan lain salain bacarai? Ibo jo anak-anak. Indak bisa kalian hiduik basamo?"
(Laras, tidak adakah jalan lain selain bercerai? Kasihan anak-anak. Tidak bisakah kalian hidup bersama?")
Aku menggeleng cepat. Air mata yang sedari tadi menggenang di kedua mata, segera tumpah tanpa bisa ditahan lagi.
"Kalau Amak bisa mamilih, Amak akan manyuruah Irwan mancaraikan si Zahra, tetapi keadaannyo indak mamungkinkan. Kiniko Zahra paralu Irwan dan Irwan pun indak nio mancaraikan Zahra. Apolagi kini Zahra indak punyo dunsanak salain kami."
(Kalau Amak bisa memilih, akan lebih memilih Irwan menceraikan Zahra, tetapi tidak mungkin. Saat ini Zahra butuh Irwan disisinya dan Irwan juga tidak mau menceraikan Zahra. Lagipula dia tidak punya keluarga lagi selain kami.").
Sakit? Yah, itulah yang kurasakan kini. Meski ini keputusanku, aku tidak mengira Mas Irwan lebih condong kepada gadis itu. Seakan sembilan tahun pernikahan kami tidak ada artinya sama sekali.
Munafik!
Menikah tanpa cinta, terpaksa karena keadaan, dan banyak alasan yang diucapkan hanya sekadar pembelaan diri saja. Nyatanya, Mas Irwan lebih memilih Zahra dari pada aku. Istri yang mendampinginya dalam suka, duka, serta memberi dua orang anak. Tentu saja dia enggan menceraikan Zahra. Bukankah gadis itu sangat cantik? Hartanya banyak. Mungkin Mas Irwan sudah menuntaskan hasratnya yang tertunda pada gadis itu.
Aku menekan wajah dengan telapak tangan. Beristigfar di dalam hati. Tak ingin berprasangka buruk pada keduanya. Biar aku yang mengalah. Inilah akhir perjalanan rumah tangga kami. Ikatan suci yang kujaga dengan pengabdian tertinggi. Berharap akan manis hingga menua, ternyata pahit empedu kuterima di tengah perjalanan.
*
Proses perceraian kami berjalan alot, Mas Irwan tidak mau menceraikanku, tetapi semua bukti yang kuberikan pada hakim, mau tidak mau membuatnya menyerah. Hakim mengabulkan keinginanku. Mas Irwan mengajukan syarat agar kami tetap tinggal di Padang sampai Bayu dan Nadira tamat sekolah dasar. Dia berjanji akan mengirimkan sejumlah uang untuk biaya hidup kami.
Aku dan anak-anak pindah ke kontrakan lain. Mencoba kembali menata hidup yang berantakan. Tak ingin terus menggantungkan hidup dari kiriman Mas Irwan. Mencoba memulai usaha kecil-kecilan dengan membuat berbagai penganan kue, lalu menitipkan ke beberapa warung. Aku tidak pernah mengabarkan perihal perceraian kami kepada keluarga besar di Jakarta. Mas Irwan adalah pilihanku. Jadi, apa pun yang terjadi akan kujalani dengan ikhlas.
Aku selalu menguatkan hati kala hidup terasa berat. Tertatih keluar dari bayang-bayang masa lalu yang kadang sering datang menggoda. Yakin hidup tak pernah lepas dari masalah karena itu cara Tuhan menempa diri menjadi lebih kuat dan dewasa. Percaya bahwa semua adalah takdir dari-Nya. Sering d**a ini terasa sesak ketika melihat kedua anakku kehilangan keceriaan mereka. Janji Mas Irwan yang akan rutin mengunjungi mereka, menguap entah ke mana. Begitu tidak berharganya kami di hatimu, Mas? Tidakkah jiwamu bergetar mengingat buah cinta kita? Tidak ada yang bisa dilakukan selain membesarkan hati kedua anakku. Tak jarang kami berpelukan dan menangis bersama. Kulirihkan doa sepenuh hati, berharap menembus langit. Semoga Allah mengganti setiap tetes air mata kami dengan kebahagiaan.
*
Setahun menggeluti usaha ini, terseok, dan beberapa kali gagal. Akhirnya Tuhan membuka pintu rezeki kami di tahun kedua. Pelangganku bertambah banyak, bersamaan dengan itu kiriman dari Mas Irwan berhenti. Aku tidak mempermasalahkan dan tak ingin bertanya. Biarlah dia tenang dengan hidupnya, aku dengan kedua anakku.
Setahun berikutnya kuberanikan membuka toko kue dan menerima pesanan katering baik skala kecil maupun besar. Aku bersyukur usahaku semakin maju pesat. Beberapa karyawan mampu kugaji demi kelancaran toko. Kun Fayakun! Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Janji Allah itu nyata. Jika, kita berusaha dan berdoa.
*
Hari ini aku menghantarkan pesanan katering ke sebuah rumah sakit. Keberuntungan ini kudapat berkat bantuan seorang teman yang merekomendasikan usahaku. Namanya, Surya. Dia seorang dokter bedah di rumah sakit ini. Berawal dari bekal yang dibawa Bayu. Anak itu selalu membawa dua porsi makanan. Aku tak pernah bertanya, hanya sesekali dia bercerita makanan itu untuk salah seorang temannya. Bayu berujar jika temannya tersebut tak memiliki ibu, hingga tak pernah lagi merasakan masakan rumahan.
Suatu hari seorang pria berkulit putih, berhidung mancung, dan bertubuh tegap mendatangi tokoku. Memperkenalkan diri sebagai Surya, ayah dari Baim. Keningku berkerut mencoba mengingat siapa anak yang dimaksud. Setelah dia bercerita barulah aku mengerti. Lelaki tersebut ayah dari teman yang selalu diberi bekal oleh bayu. Sejak saat itu, dia selalu mampir, meski hanya untuk berbincang.
"Hai! Pantas perutku keroncongan. Tau banget makanannya udah datang." dr. Surya menyongsongku yang baru saja berjalan keluar dari dapur rumah sakit.
Kami menyamakan langkah menyusuri lorong rumah sakit menuju parkiran, sesekali bercanda, dan tertawa. Tiba-tiba tubuhku terpaku saat sepasang manusia berjalan ke arah kami.
"Kamu kenal mereka?" sepertinya Surya mengetahui arah pandanganku. "Kasihan sudah enam tahun anak mereka dirawat disini."
Seketika tubuh ini kaku. Telingaku pun berdenging hebat. "Enam tahun?! Itu artinya ...."