"Cinta tak pernah salah. Hanya saja banyak orang-orang yang melakukan kesalahan atas nama cinta."
---------------
Tubuhku membeku di tempat. Waktu seolah bergulir sangat lambat. Tanpa bisa dicegah alam bawah sadarku terpelanting ke belakang. Mencari-cari apa yang telah terlewati sepanjang perjalanan rumah tangga kami. Enam tahun? Artinya ketika aku mengandung Bayu, Zahra juga tengah hamil. Luar biasa! Sungguh Mas Irwan pelakon sempurna untuk sebuah skenario bertema dusta.
Ingin rasanya detik ini juga menghampiri mereka. Memaki dan memuntahkan semua amarah yang menggerogoti jiwa. Rasanya dadaku menggelegak mengingat betapa lihai keduanya bersandiwara malam itu. Teringat wajah polos Zahra yang membuatku simpati serta perkataan Mas Irwan tentang cintanya hanya untukku. Akan tetapi, logika cepat menyentil hati yang sedang membara. Kami orang asing sekarang. Apa pun yang dilakukan lelaki itu bukan urusanku lagi. Cukup sudah dusta yang dibalut dengan kata cinta.Tidak mau merusak hati dan pikiran yang telah tenang hanya karena masa lalu.
"Hai! Kok bengong?" Surya menjentikan jarinya di depan wajah, membuyarkan serabut ingatan masa lalu yang hampir terhubung sempurna.
Aku tersenyum kikuk. "Oh, maaf. Emm, aku pulang dulu." Tanpa menunggu jawaban Surya, aku berjalan ke arah berbeda agar tidak berpapasan dengan keduanya.
"Aku antar ke parkiran." Aku menoleh, Surya ternyata mengikutiku. "Tidak ada bantahan, Laras!" Dia berkata tegas saat melihat bibirku hendak bergerak.
"Anak mereka sudah enam tahun dirawat di sini," jelas Surya sambil mensejajarkan langkah kami.
"Selama itu? Memangnya sakit apa?" Dahiku berkerut karena bingung mendengar informasi dari Surya.
"Thalasemia," jawab Surya singkat.
Langkahku seketika berhenti. "Tha- thalasemia?! Kamu ngga bercanda, 'kan, Sur?" Mencoba bertanya lagi untuk memastikan pendengaranku tak salah. Ini sangat mengejutkan! Penyakit itu bukan penyakit sembarangan.
"Serius. Sebenarnya nggak selalu di rawat. Hanya harus rutin melakukan transfusi darah, tapi tiga tahun belakangan ini sering drop. Jadi, lebih sering dirawat," jelas Surya, lagi.
"Berapa usia anak itu sekarang?" cecarku lagi. Sungguh aku penasaran dengan anak itu.
"Tujuh tahun. Kenapa? Tumben kamu kepo sama pasien aku?" tanya Surya dengan tatapan menyelidik.
"Emm, nggak, cuma prihatin aja. Nggak kebayang mesti ngerawat anak dengan penyakit separah itu," kelitku sedikit gugup dengan tatapan Surya yang begitu dekat seolah hendak memindai wajahku dengan matanya.
Duh! Kenapa pipiku terasa panas?
"Kalau gitu aku balik dulu, ya. Mau jemput anak-anak di tempat kursus." Aku mengalihkan topik agar lelaki itu berhenti menatap seperti itu. Bisa gawat jika terus mencari tahu. Surya sangat peka dan rasa penasarannya sangat tinggi.
Surya mengangguk. "Maaf, ya, aku nggak bisa nganter. Masih ada pasien," ujarnya sambil mengulas senyum.
"Nggak papa! Bye," balasku, lalu bergegas menuju mobil dan meninggalkan pelataran parkir rumah sakit.
*
Entah kenapa kata-kata Surya terus terngiang di telinga. Tujuh tahun? Jika, umur anak itu tujuh tahun, artinya Mas Irwan dan Zahra sudah berhubungan di tahun kedua pernikahan kami? Miris! Aku tersenyum sinis. Tidak disangka di balik sikapnya yang perhatian, penuh cinta, dan setenang danau, Mas Irwan tega mencurangiku. Sementara aku seperti orang t***l mengira pernikahan kami baik-baik saja.
Dering telepon membuyarkan lamunanku. Sedikit malas meraih benda pipih di atas meja di samping ranjang. Melihat nama yang tampil di layar ponsel, senyumku segera mengembang. Suasana hati yang tadinya memburuk seketika berubah cerah.
"Kok, tiba-tiba ingat kamu, ya?" Sebuah suara segera menyapa gendang telingaku
Senyumku semakin lebar. Lelaki ini selalu sukses mengembalikan suasana hati menjadi lebih baik.
"Masa? Jangan bilang minta digojekin sop buntut lagi?" Aku menebak karena beberapa hari ini dia selalu meminta menu yang sama setiap malam.
Kebiasaan Surya yang meminta di waktu-waktu tak terduga, membuatku selalu menyetok bahan-bahan mentah di dalam lemari pendingin. Pernah lelaki itu mendesak dimasakan ayam kecap. Dia bahkan rela ke supermarket pukul sepuluh malam, lalu menghantarkan ke rumah. Dia juga keras kepala menunggu di dalam mobil sampai aku selesai memasak pesanannya. Sungguh lelaki keras kepala! Untung pelangganku hanya satu seperti dia. Andai dua, mungkin satu kudeportasi ke planet Mars.
"Tau aja! Kebiasaan ini perut kalau lapar ingatnya kamu." Terdengar kekehan renyah di seberang sana yang menghantar rasa nyaman di hatiku.
Aku diam mendengarkan tawa itu mengetuk gendang telinga.
"Kok, diam?" Surya menegurku pelan.
Aku lagi-lagi tersenyum. Ini sudah tidak benar! Hanya mendengar deru napasnya di ujung telpon saja mampu membuat hati ini berdesir. Seperti remaja yang baru jatuh cinta. Aku menggeleng pelan saat menyadari statusku. Sama sekali tak sebanding dengan Surya. Menepuk kepala pelan agar pikiran yang tidak-tidak keluar dari benak.
Sadarlah, Laras. Kamu janda beranak dua, sementara dia lelaki kaya yang diminati banyak wanita. Kau tak akan mampu bersaing. Ah, aku sudah tidak waras karena bicara pada diri sendiri.
"Laras, Baim ngajakin jalan, tuh." Terdengar suara Surya kembali menyapaku.
"Alasan! Bilang aja Ayahnya," dengkusku pelan.
"Iya, sih." Terdengar tawa kecil di telepon. "Mau, ya? Bawa Bayu sama Nadira. Udah lama, 'kan, nggak jalan bareng." Surya membujukku. Aku bisa membayangkan bagaimana rautnya saat mengucapkan itu. Senyum lebar dengan wajah dibuat memelas. Aku hapal jurus lelaki itu saat meminta sesuatu.
"Duh, nggak janji," jawabku singkat.
"Bayu sama Nadira udah setuju."
Apa! Refleks kumatikan sambungan telepon. Apa-apaan ini orang? Belum hilang keterkejutanku, Nandira dan Bayu menerobos masuk ke kamar.
"Bunda, besok Om Surya ngajakin ke Jam Gadang. Bunda ikut, ya? Udah lama, 'kan, kita nggak jalan-jalan." Bayu bergelayut manja di lenganku.
Surya memang licik! Dia tahu aku akan menolak. Jadi, dia menyabotase anak-anak terlebih dahulu.
"Boleh, ya, Bunda?" rajuk Nandira. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Binar ceria segera terpancar dari wajah mereka.
"Licik! Nyabot anak-anak duluan." Kukirim pesan pada Surya setelah Nandira dan Bayu kembali ke kamar mereka.
Dasar tengil! Pesanku malah dibalas dengan emotikon tertawa sebanyak satu baris dan dibanjiri emotikon love.
"Deal, ya, Laras. Kujemput pukul delapan."
Tak kubalas lagi, percuma! Jika, sudah berhubungan dengan anak-anak aku pasti kalah. Baru saja meletakkan di atas meja, ponselku kembali berdering. Pasti Surya ingin mengerjaiku lagi. Tubuh dan otakku mulai lelah menanggapi. Jadi, membiarkan saja suara merdu Afgan meramaikan kamar.
Sepertinya si penelepon tak kenal kata menyerah. Ponselku terus saja berdering. Aku menganjur napas pelan. Apalagi yang akan dibahas lelaki itu sekarang? Tanpa melihat layar ponsel, aku menekan tombol hijau untuk menjawab.
"Apalagi, sih, Sur? Iya, besok kita jalan. Jemput aku dan anak--"
"Laras." Sebuah suara memotong ucapanku.
Aku tertegun. Suara ini ... hampir tiga tahun tak mendengar. Suara yang dulu selalu memberi rasa nyaman dan tenang. Tak pernah sekalipun aku lupa siapa pemiliknya.
"Mas Irwan?" Aku bertanya dengan suara lirih. Tanganku meraba d**a yang mulai berdebar tak keruan.
"Laras, aku di depan rumahmu sekarang. Bisa kita bertemu? Aku ... aku rindu," ucapnya serak.