"Semua bisa mengucapkan cinta, tetapi belum tentu bisa menjanjikan kesetiaan."
Secangkir kopi panas kusajikan di atas meja. Uap dan aromanya meliuk-liuk seakan menertawakan kecanggungan kami. Hampir tiga puluh menit aku dan Mas Irwan duduk di teras rumah. Tak terlihat gelagat lelaki itu hendak berbicara. Begitupun aku. Dua tahun tak bertemu, membuat lidah kelu walau hanya untuk berbasa-basi.
Sesekali kulirik lelaki yang pernah merajai hati. Masih saja tampan. Wajahnya tak secerah dulu, lebih tirus, dan kusam. Bobot tubuh Mas Irwan jauh berkurang. Ada denyut nyeri di dadaku. Kenapa dia terlihat sangat menyedihkan? Apa Zahra tidak mengurusnya dengan baik?
Dua tahun kami bercerai, aku tak pernah bertemu langsung dengannya. Meski dua bulan ini dia mulai rutin menemui anak-anak di sekolah dan mengantarkankan mereka walau sampai pagar rumah saja. Kadang dia kuizinkan membawa Nandira dan Bayu berjalan-jalan. Aku tak pernah membencinya. Ini adalah takdir yang harus diterima sebagai ketetapan Tuhan. Aku selalu yakin ada hikmah di setiap kejadian. Bukankah setiap tangis dan luka adalah penggugur dosa?
Perceraian bagiku hanya memutus sebuah status, tetapi silaturahmi tetap harus dijaga. Bekas istri boleh saja ada. Namun, tak ada bekas anak. Mereka berhak mendapat kasih sayang dari kedua orang tua, meski telah bercerai. Hubunganku dengan Amak pun terjalin baik. Malah lebih akrab dari pada sebelum berpisah dengan Mas Irwan. Hanya saja aku belum siap bertatap muka langsung dengan putranya itu. Terlalu dalam luka yang telah ditoreh. Akan tetapi, saat mendengar suaranya di telepon tadi ada geleyar hangat merasuk ke hati. Sebuah perasaan yang tidak bisa diungkap dengan kata.
Mungkinkah di hatiku masih ada cinta untuknya? Cinta! Ah, segera menepis pemikiran bodoh itu. Berkali-kali mengingatkan diri sendiri. Mas Irwan milik orang lain. Aku mengibaskan tangan di depan wajah ketika kenangan indah kami tiba-tiba menghampiri. Jangan ingat-ingat lagi Laras! Aku bermonolog sendiri.
"Mikirin apa?" Suara Mas Irwan memecah sunyi yang membekukan kami.
"Hah! Apa?" Aku mengernyit bingung.
"Itu!" Mas Irwan mengibaskan tangannya, menirukan gerakanku tadi. "Kebiasaan kamu kalau lagi mikir yang aneh-aneh."
Aku terdiam. Lebih tepatnya salah tingkah. Untung lampu teras tidak terlalu terang, kalau tidak mungkin Mas Irwan bisa melihat wajahku yang memerah. Tak mengira dia masih mengingat kebiasaanku.
Aku berdehem. "Ada perlu apa?" tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.
Sorot mata Mas Irwan meredup. Sejenak tertegun melihat iris hitam miliknya masih mampu membiusku. Ada luka sekaligus rindu di sana. Tak ingin terjebak masa lalu, kuputuskan kontak mata dan mengalihkan tatapan ke barisan pot bunga hias di hadapan.
"Maaf, aku memaksa bertemu. Aku cukup sadar diri, tapi nggak bisa menahan hati lagi. Aku rindu kamu, Laras," lirih Mas Irwan dengan suara bergetar.
Sesaat dadaku berdebar mendengar pengakuannya. Debaran yang memanaskan retina, membuat bulir-bulir bening berlinang di kelopak mata. Jika ingin jujur hati ini masih menyimpan namanya. Sembilan tahun lebih bukanlah waktu yang sebentar. Banyak hal yang kami lalui. Jatuh, bangun, tawa, dan air mata sudah akrab sejak dahulu. Tak mudah melupakan sosoknya begitu saja. Namun, kala mengingat luka yang dia beri, membuat dadaku kembali menggelegak!
"Apa pantas seorang laki-laki mengatakan rindu pada wanita selain istrinya?! Oh, aku lupa. Mungkin ini kebiasaanmu, Mas." Tanpa basa-basi aku menyindirnya.
"Maaf, tapi aku nggak seburuk yang kamu pikir. Tadi siang aku melihatmu di rumah sakit. Siapa yang sakit? Apa hubunganmu dengan dokter Surya," tanya Mas Irwan. Walau terlihat tenang, jelas sekali terdengar nada cemburu dalam suaranya.
Aku tersenyum tipis. Untuk apa dia menanyakan hal seperti itu? Kami tidak punya hubungan lagi, harusnya dia sadar itu.
"Bukan urusanmu! Aku rasa nggak ada yang perlu dibicarakan lagi. Maaf aku mau tidur." Aku berdiri, lalu masuk ke dalam rumah, tetapi Mas Irwan mencekal lenganku.
"Lepas!" sentakku, tersinggung dengan kelancangannya.
"Nggak bisa kita bicara baik-baik? Aku nggak mau kita seperti ini terus, Laras," suara Mas Irwan terdengar lemah.
"Kita emang nggak baik-baik aja, Mas! Hatiku masih sakit dengan perbuatanmu." Aku mendebatnya dengan air mata yang mulai merembes ke pipi.
"Laras, kamu boleh membenciku, tapi aku bukan b******n seperti yang kamu pikir. Suatu saat kamu pasti mengerti. Ada rahasia yang harus aku jaga." Mas Irwan mulai terlihat frustasi
"Rahasia?!" Aku tersenyum sinis. "Rahasia kalau kamu sudah mencurangi aku di tahun kedua pernikahan kita? Kamu bermain di belakangku dan punya seorang anak!" Emosiku mulai tak mampu lagi dikendalikan.
"Itu nggak semuanya benar, Laras," sanggah Mas Irwan menatapku sendu.
"Lalu apa yang benar? Aku nggak percaya lagi apa pun yang kamu ucapkan, Mas!"
"Percayalah, Laras. Aku--"
"Pembohong! Kebusukan tidak akan tersimpan lama. Serapat apa pun kau sembunyikan akan tercium juga!" Aku mulai histeris. Amarah karena merasa ditipu kulampiaskan tanpa jeda.
"Demi Tuhan, Laras! Dia bukan anakku!" pekiknya terlihat frustasi.
Hening. Teriakan Mas Irwan membekukan otakku. Dia terduduk lemah dengan kepala tertunduk, sementara kedua tangannya terkulai di sisi tubuh.
"Dia bukan anakku, Laras. Aku hanya ingin menutup aib. Mak Adang memohon padaku. Zahra hamil dan kekasihnya meninggal karna over dosis. Dulu pergaulan Zahra sangat bebas. Awalnya aku menolak, tapi Mak Adang menjanjikan akan memberi suntikan dana pada perusahaanku yang baru berkembang. Kamu ingatkan tahun kedua pernikahan kita? Perusahaan mengalami krisis keuangan," tuturnya dengan nada lemah.
Ingatanku melayang ke beberapa tahun silam. Mas Irwan pernah pulang ke Padang selama satu bulan tanpa mengajakku. Alasannya ingin bertemu investor baru. Begitu besar rasa percaya pada dia kala itu. Tak pernah sedikit pun terbersit di pikiran dia akan mencurangiku.
"Aku tak punya pilihan lain. Selain membutuhkan tambahan modal, Mak Adang juga selalu mengingatkan tentang jasanya kepada keluargaku. Aku tak berkutik. Beliau memintaku menikahi Zahra agar status dia jelas di mata masyarakat. Kami menikah di sebuah dusun di luar kota Padang. Di sana pula dia tinggal sampai melahirkan." Mas Irwan menganjur napas sejenak, lalu menatapku. "Sejak itu dia mulai berubah. Lebih tenang dan belajar agama dengan benar. Beberapa bulan setelah anak itu lahir, Mak Adang memintaku melangsungkan resepsi untuk menguatkan status Zahra. Akan tetapi, gadis itu menolak."
Aku terpaku, sulit percaya cerita yang baru saja kudengar. Apalagi saat Mak Adang menghadapi sakratul maut, beliau memaksa Mas Irwan menjaga Zahra dan putranya. Gadis itu tak memiliki saudara lagi selain keluarga Amak.
"Laras, percayalah. Aku tidak pernah mengkhianatimu. Hanya kamu wanita yang aku cintai dari dulu hingga nanti." Mas Irwan menggenggam kedua tanganku.
Aku terdiam, rasanya semua tidak masuk akal. Segera kutepis tangan Mas Irwan saat mengingat sesuatu.
"Benarkah?! Jika itu bukan anakmu dan kamu begitu mencintaiku, kenapa menolak menceraikan Zahra?" Aku menatapnya sinis. Jangan harap cerita bualan itu bisa meluluhkan hatiku.
"Aku punya alasan lain, Laras. Aku kasihan pada Zah--"
"Sudahlah, Mas. Aku lelah. Sudah malam, sebaiknya kamu menemani istri dan anakmu," tukasku cepat.
Tak ingin lagi mendengar penjelasan apa pun dari mulutnya. Entah! rasanya sulit percaya lagi dengan kata-katanya. Kututup pintu dengan keras. Masih kudengar suara Mas Irwan memanggil dari luar, tetapi tak kuhiraukan. Kepala ini sakit mendengar fakta yang dia ceritakan. Membaringkan tubuh di atas ranjang sambil memijit pangkal hidung, tak butuh waktu lama aku lelap ke dunia mimpi.