Semesta Menghukumku

794 Kata
"Uda, aku minta maaf udah mengecewakan. Ini di luar kuasaku," lirih Zahra saat kubantu dia memegang air minum. Wajah gadis itu memucat nyaris serupa mayat. Rasanya aku tidak tega meninggalkannya. Namun, rasa rindu yang telah lama kutekan jauh ke relung hati, mendesak untuk keluar. Apalagi tanpa sengaja aku sering melihat seorang lelaki menemui Laras. Keduanya terlihat sangat dekat menyulut rasa cemburu di d**a. Aku sadar kami tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Siapa saja bebas mendekati Laras. Namun, aku tetap saja gagal mengusir rasa cemburu yang bercokol di d**a. Apalagi dua tahun ini aku tidak pernah lagi bicara dengannya. Kami benar-benar asing. Hubungan kami hanya sebatas anak-anak saja. Aku tidak pernah singgah untuk berbasa-basi, meski ingin. Segan rasanya, apalagi Laras tidak pernah menampakkan diri di hadapanku. Seolah-olah aku adalah virus yang bisa membuatnya sakit. Namun, malam ini aku tak bisa menahan kerinduan padanya. Setelah mengumpulkan keberanian, aku mengetuk pintu rumahnya. Inilah kali pertama setelah dua tahun aku mengetuk pintu itu. Biasanya aku hanya memberi isyarat membunyikan klakson agar anak-anak tahu aku sudah datang, itu pun hanya sampai pagar saja. Jantungku berdetak sangat kencang ketika mendengar langkah kaki mendekat. Napasku terasa sesak saat wajah Laras tampak mengintip dari jendela. Mata wanita itu membesar melihat kedatanganku. Seketika aku tidak tahu harus berkata apa. Beruntung Laras masih sudi menyuguhkan segelas kopi panas untukku. Lama hening bermain di antara kami. Lampu temaram di teras rumah Laras tidak mampu meredupkan kecantikan wanita itu. Aku tersenyum tipis melihat wanita itu sedikit gugup. Sama sepertiku, duduk berdua dengannya menghadirkan rasa yang sampai kini masih bersemanyam di d**a. Andai ... andai waktu bisa kuulang, tidak akan semudah itu melepas Laras. Hanya dia wanita yang aku cintai, meski cintanya kugadaikan demi sebuah masa depan. Benar perkataan orang bijak, lebih baik berhutang uang daripada budi karena sampai kapan pun tidak akan bisa dibayar. Sungkan menolak keinginan Mak Adang membuatku terpaksa menduakan Laras. Namun, aku juga tidak bisa meninggalkan Zahra begitu saja. Gadis malang itu lebih membutuhkan perhatianku. Putranya yang keluar masuk rumah sakit membutuhkan biaya yang sangat banyak. Zahra tidak punya siapa-siapa lagi. Hanya aku famili terdekat yang dia miliki. Sebagai saudara laki-laki sudah sepatutnya menjaganya. Maaf tidak kudapat dari Laras. Masih terbayang sorot terluka dari mata beningnya. Tangisnya malam itu tidak hanya menghancurkan hatinya, tetapi juga meremukkan dadaku. Pernikahan kami runtuh di malam kelabu itu. Meski aku mencoba mempertahankan. Apalah dayaku jika kepercayaan dan kesetiaan yang menjadi pondasi pernikahan telah retak. Laras memilih mundur. Dia tidak seperti wanita lain yang terluka. Dia tidak menyakitiku, tidak memaki Zahra. Dia hanya menangis semalaman, kemudian esoknya diam seribu bahasa. Aku merasa rendah diri saat matanya menatapku. Pasti di benaknya ada pertanyaan mengapa aku terlihat menyedihkan. Iya, bobot tubuhku jauh berkurang. Dua tahun ini aku fisik dan pikiranku dikuras habis-habisan. Selain mengurus toko peninggalan Mak Adang, aku juga pontang-panting mencari uang untuk membiayai pengobatan putra Zahra. Penghasilan toko menurun drastis sejak setahun belakangan. Bahkan, hutang di bank menumpuk banyak sekali. Aku terhenyak ketika satu per satu aset peninggalan Ayah Zahra disita. Mungkin air mata Laras telah membuat semesta menghukumku. Aku berbasa-basi sejenak menanyakan keadaan Laras. Awal percakapan yang buruk sekali. Untuk apa aku bertanya karena dia terlihat bahagia. Apalagi saat melihatnya sekilas di rumah sakit. Dia tertawa bahagia bersama dokter Surya. Ada cemburu yang menikamkan ngilu ke d**a melihat pendar di mata Laras berbinar terang. Rasa cemburu itu yang membuat lidahku bergerak untuk bertanya. Kesalahan fatal karena nada bicara seperti seorang kekasih yang sedang kesal. Laras mengamuk. Dia malah menudingku sebagai laki-laki munafik. Memiliki hubungan dengan Zahra sampai memiliki anak. Apa pun bantahan yang kusampaikan dimentalkan olehnya. Ini kedua kalinya aku melihat kemarahan wanita itu. Matanya menatap setajam pedang yang siap mencincang seluruh bagian tubuhku. Dia meracau meledak-ledak seperti gunung erupsi dan mengeluarkan magma yang kemudian membakarku dalam penyesalan. Aku berusaha menjelaskan berharap dia memahami keadaanku. Namun, Laras malah mengusirku pergi. Dia menulikan telinga tak mau mendengarkan penjelasanku. Meski aku memohon, tetapi permohonan itu menguap di udara ditelan sepi malam. Sering aku bertanya kepada Tuhan. Kenapa hidupku seperti ini? Orang lain yang memakan nangka, tetapi aku yang terkena getah. Andai keadaan Zahra tidak mengkhawatirkan, sejak awal sudah kutinggalkan dia. Namun, setiap mengingat jasa Mak Adang niat itu seketika urung. Lama aku terpaku di depan pintu rumah Laras. Berharap wanita itu luluh dan membuka pintu. Namun, hingga detik, menit, berganti jam papan kayu bercat cokelat tua itu tetap tertutup rapat. Merasa tak ada harapan hubungan kami diperbaiki, aku meninggalkan rumah itu dengan hati nelangsa. Langkahku gontai, tubuhku lunglai. Inilah takdir yang harus kuterima. Meruntuhkan istanaku sendiri demi menerangi kepunyaan orang lain. Meski begitu, tetap saja sinarnya tak pernah sama karena bintang yang membuat hatiku hangat hanya Laras. Tuhan, andai aku diberi kesempatan, kembalikan aku ke masa lalu. Akan kutempuh jalan yang lain agar tetap satu bahtera bersama wanita itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN