"Jika kamu pernah merasakan sakit karena didustai, maka jangan berikan sakit yang sama kepada orang lain."
------------------
Setelah selesai salat subuh, aku
mengaktifkan data seluler di ponsel. Tidak berapa lama, serbuan notifikasi dari aplikasi w******p menyerbu masuk. Jariku bergerak membuka aplikasi bergambar telepon itu. Terlihat dua nama yang pesannya belum terbaca, Surya dan Mas Irwan.
Aku mengembuskan napas perlahan. Mengalihkan pandangan ke luar jendela yang terbuka. Penjelasan Mas Irwan semalam masih berputar-putar di benak. Apa benar semua yang dia ceritakan? Apa Amak tidak mengetahui semua itu? Atau mereka memang sengaja menutupi? Lalu untuk apa lelaki itu menceritakan semuanya sekarang? Toh, tidak akan mengubah apa pun. Nasi telah menjadi bubur, sakit telanjur dia gores. Menjelaskan kebenaran saat ini justru semakin memperdalam luka di d**a. Dia memilih mengasihani gadis dan anak--yang katanya bukan darah dagingnya--dan mengabaikan kami.
Huft! Lagi-lagi jantungku berdenyut ngilu. Meremas d**a, berharap sakit yang merayapi sekujur tubuh tak memantik air mata. Aku lelah menangisi masa lalu, letih meratapi cinta yang ternoda. Aku juga berhak bahagia, 'kan?
Dering ponsel mengembalikan kesadaranku. Terlihat nama Surya tampil di layar sebagai pemanggil. Menggeser ikon hijau dengan gambar telepon, lalu menempelkan ke telinga.
"Assalammualaikum, Koki cantik! Nggak usah bilang makasih. Iya, aku tahu aku romantis." Belum menjawab salamnya, lelaki itu memberondongku dengan pujian. Dasar usil!
"Pagi-pagi ngapain bucinin Ibu-ibu?" jawabku ketus, berbanding terbalik dengan senyum yang terulas di bibir
Terdengar tawa renyah di seberang sana. "Nggak papa lagi. Bukannya kamu calon Ibu anak-anakku? Eh, anak kita maksudnya."
Lelaki ini benar-benar mampu membuatku salah tingkah. Melihat ke arah cermin dan meraba pipi yang memerah. Duh, Laras! Kamu itu bukan ABG lagi. Jangan sedikit-sedikit tersipu dengan rayuan receh seperti itu! Suara di kepala membuatku kembali sadar pada kenyataan. Aku dan Surya bagai langit dan bumi.
"Laras! Masih di sana, 'kan? Hallo?"
"Iya," jawabku singkat.
"Kirain pingsan dengar rayuan aku. Eh, itu bukan rayuan, lho." Lagi-lagi Surya berhasil menciptakan percikan kembang api di dadaku.
"Udah ngerayunya? Kalau masih ada, ayuk! Keluarin semua." Aku sengaja menjawab ketus agar Surya berhenti membuat jantungku jumpalitan.
"Ish, jangan marah. Ilang jeleknya," balasnya lagi, membuatku mau tidak mau kembali tersenyum.
"Jangan lupa pagi ini kita ada kencan sama anak-anak. Masakin menu yang enak, aku nggak mau makan di jalan," ujarnya lagi.
"Bilang aja nggak mau keluar duit."
"Jangan suuzhon. Buat kamu apa aja aku beliin. Cuma, nggak ada masakan yang bisa bikin aku kenyang kalau bukan kamu yang masak."
Aku menggaruk kepala. Tidak gatal sebenarnya, tetapi rayuan Surya yang over dosis membuatku kewalahan. "Iya! Kututup dulu. Nggak jadi masak kalau ngobrol sama kamu terus."
Aku mengakhiri pembicaraan. Mimpi apa lelaki itu semalam? Pagi-pagi sudah mengumbar rayuan maut. Duh, lama-lama aku bisa suka sama dia. Jangan sampai! Luka karena perceraian dulu masih basah. Aku belum siap sakit untuk yang kedua kali.
*
Sambil menyiapkan bekal ke dalam kotak Tupperware, aku juga meminta Nandira dan Bayu sarapan. Membiasakan sarapan di pagi hari baik untuk mendukung aktivitas anak-anak yang tak menentu, apalagi bila mereka bersekolah. Tepat pukul delapan, sebuah mobil Avanza hitam memasuki pekarangan rumah. Setelah memarkir mobil tersebut, sosok tampan dan seorang bocah sebaya dengan Bayu turun dari sana.
Aku tersenyum. Surya sangat gagah. Dengan kaus oblong berwarna putih dan celana pendek selutut berwarna biru telur asin berbahan jeans, membuat penampilannya sangat santai. Dia menggunakan sepatu kets berwarna putih dan ransel kecil di punggungnya. Dia lelaki sempurna dengan karir yang cemerlang. Wanita manapun pasti akan terpana saat menatapnya.
Surya sudah lima tahun menduda. Mantan istrinya meninggal karena kecelakaan tunggal saat menjemput sang putra dari sekolah. Sejak itu dia membesarkan Baim seorang diri. Sama denganku, Surya juga seorang pendatang di kota Padang. Keluarganya berasal dari Bogor. Tugas kedinasanlah yang membuatnya datang ke kota ini sekaligus hendak melupakan kenangan buruk di kota kelahirannya.
"Ngelamun, Buk? Kenapa? Terpesona sama aku," godanya, sambil mengedipkan sebelah mata.
Aku mendelik padanya. Terlalu asyik menatapnya tak menyadari dia sudah berdiri di hadapan. Dasar mata! Tidak bisa lihat orang ganteng.
Tidak sekali dua kali Surya bertingkah tengil, tetapi aku selalu menghindar. Berpura-pura tak mengerti meski lelaki itu berulang kali mengirimkan sinyal padaku. Bukan tidak tertarik, aku belum siap memulai hubungan romantis dengan lelaki manapun. Lebih tepatnya takut bila nanti terluka lagi.
"Jadi pergi nggak, sih? becanda mlu." Aku merajuk sambil melipat tangan di d**a dan mengerucutkan bibirku.
Surya terkekeh melihat wajahku yang ditekuk. "Iya, gitu aja ngambek. Ayo anak-anak berangkat! Ntar Nenek sihirnya ngamuk." Surya melirikku seraya mengulas senyum, membuat tawa anak-anak tersembur keluar.
Aku mendengkus keras. Memilih meraih tas dan berjalan mendahului gerombolan usil itu ke mobil.
"Bekalnya nggak dibawa?!" seru Surya.
"Bodo amat! Bawa sendiri," jawabku ketus, membuat tawa mereka semakin keras.
*
Perjalanan ke Bukittinggi sangat menyenangkan. Sepanjang jalan anak-anak berceloteh dan sesekali bernyanyi. Kami seperti keluarga bahagia, terlihat begitu sempurna. Dahulu Bukittinggi pernah mendapat julukan Paris van Sumatera. Kota yang berada di rangkaian Pegunungan Bukit Barisan--sekitar 90 kilometer dari Kota Padang--terletak di tepi Ngarai Sianok dan dikelilingi Gunung Singgalang serta Gurung Marapi ini berhawa sangat sejuk karena berada pada ketinggian 909-941 mdpl.
Di sana kami mengunjungi banyak destinasi wisata. Seperti kebun binatang, Lubang Jepang, benteng Fort de Kock, museum Bung Hatta, Ngarai Sianok, dan tentu saja tak ketinggalan Jam Gadang yang pada zaman Kolonial disebut sebagai The Kurai Wilhelmina Tower. Perjalanan hari ini sangat menyenangkan. Saat pulang, Surya juga mengajak kami singgah ke pasar Aur untuk membeli beberapa helai celana batik khas Bukittinggi.
*
"Makasih, ya, Sur. Kamu udah bikin anak-anak senang hari ini," ucapku ketika kami dalam perjalanan pulang ke Padang.
Surya melihatku sekilas. "Anak-anak doang, nih? Ibunya nggak ikut senang?" godanya sambil menaik-turunkan alis.
Aku tersenyum, lalu mengangguk. "Iya, aku juga senang banget, makasih, ya." Mata kami bertemu, tetapi hanya sesaat karena aku mengalihkan pandangan ke depan. Berusaha mengusir desir halus yang menjalar di d**a.
Dari ujung mata kulihat Surya tersenyum. "Laras, kamu tau gimana perasaan aku ke kamu, lebih dari teman. Kurasa kita udah sama-sama dewasa. Jadi, aku nggak perlu menyatakan perasaanku kayak ABG labil."
Aku berdehem. Melirik sekilas anak-anak yang tertidur di bangku belakang untuk mengalihkan gugup yang seketika menyergap hati. "Aku ... aku nggak tau mesti jawab apa."
"Nggak usah kamu jawab sekarang, kita jalanin aja. Kalau kamu sudah siap, baru kasih tau aku."
Aku hanya mengangguk. Tak mampu menjanjikan apa pun kepada Surya. Trauma pada lelaki masih membuatku takut memulai hubungan lebih dari sekadar pertemanan. Tanpa terasa mobil yang dikemudikan Surya memasuki pekarangan rumah. Aku segera membangunkan Nandira dan Bayu, lalu membawa kantong belanja kami ke dalam rumah. Setelah memastikan tak ada barang yang tertinggal, Surya pamit setelah mengingatkan agar aku segera beristirahat. Lagi-lagi perlakuan manis yang membuatku hampir goyah.
Setelah membersihkan diri dan salat Isya, aku mengecek keadaan anak-anak di kamar. Terlihat keduanya telah lelap di atas pembaringan. Aku tersenyum melihat wajah bahagia mereka, berkat Surya keceriaan selalu menghampiri buah hatiku. Merapikan selimut mereka hingga menutupi bahu, lalu membubuhi kecupan di kening Nandira dan Bayu. Mematikan lampu, kemudian menutup pintu kamar pelan-pelan. Baru saja hendak mematikan lampu ruang tamu, terdengar seseorang mengetuk pintu. Melirik jam yang tergantung di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Dahiku berkerut, siapa yang bertamu di saat seperti ini. Mencoba mengintip dari jendela rumah. Aku terkejut melihat sosok yang sedang berdiri di depan pintu. Mengapa dia datang ke sini?
Tbc
*mdpl. = meter di atas permukaan laut.