"Ayunda meminta aku menikahinya." Kata-kata itu berhasil membuat jantungku kembali berdenyut nyeri. Tanganku yang sedang mengusap wajah dengan kapas seketika berhenti. Mati-matian kutenangkan badai yang sedang mengamuk di dalam d**a. Jika memperturutkan hati ingin rasanya melempar apa yang ada di hadapan ke wajah Surya. Apa lelaki itu tidak punya hati? Masih tega dia meneteskan asam ke atas lukaku. Namun, aku tidak akan berbuat seperti itu. Surya pasti akan bangga melihat amukanku yang artinya dia masih berharga bagiku. Tidak! Aku tidak akan menghancurkan tembok tinggi yang sudah kubangun sejak pertengkaran kami. Aku akan terus menyiksanya dengan ketidakpedulianku. Memperlihatkan padanya apa pun yang dia lakukan tidak akan berpengaruh apa-apa padaku. "Silakan saja, itu bukan urusanku.

