Sejak hari itu Laras seolah-olah tak tersentuh. Dia terus membentang jarak denganku. Senyumnya terlihat hanya saat bersama anak-anak, selain itu dia seakan tidak mengenal kata ramah baik di wajah maupun di setiap kata-kata. Kami kembali menjadi dua orang asing. Meski aku berusaha menjalin kedekatan kembali, di detik itu pula dia memutuskan. Dia selalu menghindari berada satu ruangan denganku. Tidur pun kami terpisah. Laras menguasai kamar utama sementara aku harus mengalah ke kamar tamu. Bahkan, semua barang-barangku juga sudah dipindahkan ke tempat itu. Laras juga tidak pernah bertanya lagi bagaimana hubunganku dengan Ayunda. Dia seolah-olah tidak peduli, mungkin baginya aku tidak penting lagi di hatinya. Aku pulang atau tidak, sudah makan atau belum, tak lagi dia acuh. Kenapa sekarang h

