"Oh, jadi di sini kamu operasi, ya, Mas?" Darahku berdesir sangat cepat mendengar suara Laras di balik punggung. Aku berbalik dan melihat sosoknya sedang menatapku tajam. Meski gurat wajahnya tampak tenang, tetapi aku tahu ada amarah yang sedang dia tekan dalam-dalam. Laras adalah wanita yang sangat matang secara emosi. Dia tahu di mana menempatkan diri, tahu bagaimana harus bersikap tanpa harus mempermalukan diri. Itulah salah satu karakter yang membuatku jatuh cinta padanya. Cinta yang beberapa bulan ini aku khianati dengan sadar. Aku mencoba meraih tangannya hendak menjelaskan. Alih-alih dia pergi begitu saja tanpa bicara apa-apa lagi. Aku bermaksud mengejar, tetapi Ayunda menahan lenganku. "Mas, biarkan saja dia. Bagus kalau dia sudah tahu. Jadi, kita enggak perlu kucing-kucingan l

