Hans mengangguk pelan seraya mundur dengan langkah kecil sedikit demi sedikit.
Tanpa melontarkan sepatah kata pun, Redd menarik lengan Hans lalu membawanya ke dalam arena. Raut wajah Redd menunjukan ketakutan yang masih belum jelas karena apa. Ia menggenggam lengan Hans dengan begitu kuat sambil menatap tajam matanya melotot. Semakin lama genggaman Redd terhadap Hans semakin kuat dan napas Redd menjadi terengah-engah seperti orang yang panik akan sesuatu.
“Redd … ada apa deganmu. Aku minta maaf karena tidak sengaja melihatmu tadi,” ujar Hans yang sepertinya lebih ketakutan dibuat Redd.
Bukannya menjadi lebih tenang kini tingkah Redd menjadi lebih parah, sudah seperti orang yang tidak waras. Redd menghela napas panjang lalu berhenti menggenggam lengan Hans. Namun, kini ia malah mencekik lehernya. Pengaturan napas Redd benar-benar aneh, terlihat aneh dan nampak seperti hewan buas yang kelelahan mengejar mangsa lalu ingin memakannya dengan segera.
“S- sebenarnya ada apa denganmu, Redd. K- kenapa kau menjadi seperti ini?” tanya Hans dengan lirih yang mulai kesulitan untuk berbicara karena cekikan Redd. “Aku benar-benar meminta m- maaf ….”
“Semua manusia sama saja. Maaf sebagai alat untuk membuka jalan pengulangan kesalahan.” Redd berbicara dengan suara yang teramat berat tidak seperti biasanya.
Redd dengan cekikan yang masih menempel di leher Hans mendorong Hans kuat-kuat hingga menabrak dinding arena. Hans kini terpojokkan.
“Apa yang bisa k- kulakukan?” tanya Hans yang sepertinya semakin tercekik.
“Hanya diantara bunuh diri atau mati … kau bisa memilihnya sekarang. Semua itu karena manusia rendahan tidak pernah pantas untuk menginjakkan kaki di dunia ini,” jawab Redd yang mendekatkan wajahnya kepada Hans.
Untuk beberapa saat mereka hanya bertatapan. Redd semakin kuat degan cekikannya dan Hans harus terus bertahan menahan rasa sakit dari cekikan Hans. Malam itu sangatlah sunyi yang sepertinya membuat Hans berpikir dua kali untuk berteriak meminta bantuan.
“Kenapa kau diam saja? Apa kau ingin belaga menjadi para pendosa itu yang takut kepada kematian tetapi terus melakukan kesalahan?” Kini Redd berkata dengan suara yang lebih tinggi. “Bailah jika kau ingin mati di sini juga, akanku gunakan waktu yang berharga itu. Karena kau diam, berarti kau mengiyakan untuk mati di tanganku.”
Nampaknya Redd kini sudah berada di luar kendalinya. Ia semakin menguatkan cekikannya kepada Hans. Ketika cekikan itu semakin kuat dan sepertinya Hans sudah tak bisa menahannya lagi, datanglah Julian yang mencoba menghentikan Redd dengan sihir cahayanya.
“Lepaskan ia sekarang juga!” perintah Julian seraya menembakkan sihir cahayanya lagi.
Dengan tembakan sihir Julian tersebut yang langsung megenai lengan Redd, akhirnya Redd melepaskan cekikannya kepada Hans.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Julian.
Hans hanya mengangguk sambil memegangi lehernya yang memerah.
Setelah itu Julian melihat sebuah perisai besi yang terjatuh dari dinding arena. Ia langsung mengambil lalu melemparkannya kuat-kuat ke arah Redd. Entah bagaimana caranya refleks dari Redd bisa menjadi begitu cepat dengan ia menangkap perisai tersebut dengan tangan kosong. Setelah perisai itu digenggam Redd, betapa mengejutkannya ketika perisai itu perlahan berubah menjadi cairan besi.
“Astaga,apa itu? Apakah itu adalah kekuatan sihir asli milik Redd?” batin Hans yang kebingungan.
Julian menghempaskan napasnya perlahan. “Sihir cahaya: Tembakan Cahaya!”
Julian telah melancarkan serangannya kepada Redd tetapi serangan itu nampaknya tak begitu berarti. Akhirnya Julian memutuskan untuk menggunakan kembali sihir tersebut secara terus-terusan hingga akhirnya Hans tersungkur dan pingsan.
“Hei, apa yang kau lakukan pada Redd?” tanya Hans kepada Julian.
“Aku terpaksa harus melakukannya sebelum ia menjadi benar-benar di luar kendali.”
“Sebenarnya apa yang terjadi pada Redd? ia menjadi sangat menyeramkan tadi.”
“Bolehkah aku yang bertanay balik? Apa yang kau lakukan padanya hingga ia menjadi di luar kendali seperti itu.” Julian bertanya.
“Aku sehabis pergi ke kamar kecil, lalu tidak sengaja melihat seperti ada orang di dalam arena. Karena penasaran, jadilah aku mengintip dan tidak sengaja melihat Redd tengah membusukkan buah apel.” Julian berterus terang kepada Julian.
“Pantas saja dia jadi di luar kendali. Ia tidak ingin ada seorang pu yang melihat sihirnya, ia masih memiliki trauma akan hal itu,” ujar Julian.
“Jadi itu benar-benar sihirnya? Lalu kenapa ia menjadi trauma seperti itu, padahal sihirnya hebat sekali di mataku.” Hans berkata.
“Sihirnya adalah tentang waktu. Ia dapat memberikan atau mengambil waktu. Kau sudah melihat ia mengembalikan keadaan arena dan baru saja melihat ia mengubah perisai besi kembali menjadi cairan, kan?”
Hans mengangguk fokus mendengarkan Julian.
“Ia pernah membunuh orang dengan sihir itu. Aku tidak bisa menjelaskan detailnya. Tetapi ia membunuh orang tersebut dengan mengambil waktunya. Yang sebelumnya masih sehat dan kekar, menjadi tua keriput dengan tubuh kurus kering. Bahkan rambutnya langsung rontok pada saat itu juga. Karena kondisi yang berubah drastic dengan cepat, ia tidak bisa menahannya dan berakhir meninggal dunia di tempat,” lanjut Julian menjelaskan semuanya.
Hans membisu setelah mendengarnya. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar tentang Redd. “A- aku sungguh tidak dapar mempercayai kebenarannya,” ujar Hans.
“Apa kau ingin mengatakan ia seperti monster? Maka dari itu ketika kau ingin bertarung dengan Hans aku mencegahnya. Aku tidak ingin kau memancingnya hingga ia menjadi di luar kendali,” kata Julian.
“Ya ampun, aku harus berterima kasih kepadamu,” ucap Hans.
“Itu bukan masalah, untung saja aku ingat jika Redd tengah berada di arena. Jika tidak aku sudah tidak tahu apa yang akan terjadi padamu.”
Tak lama setelahnya, Redd terbangun. Julian dan Hans langsung menghampirinya.
“Redd apa kau sudah baik-baik saja?” tanya Julian seraya membantu Redd ke posisi duduk.
“Aku merasa sedikit pusing. Tapi sebelum itu … aku meminta maaf kepadamu, Hans. Aku hanya tidak ingin ada orang lain yang mengetahui sihirku seain Julian, Jholrd dan Jrackst.”
Hans tersenyum. “Tidak apa-apa, aku berjanji akan menjaga rahasia ini. Kau bisa menjabat tanganku sebagai bukti untuknya,” ujar Hans sambil mengulurkan tangan dan Redd langsung menjabatnya sambil tersenyum.
“Hans, lebih baik kau kembali ke tenda. Besok kita akan kembali ke penginapan di pagi hari. Jadi, pastikan kau mendapatkan istirahat yang cukup,” tutur Julian menyarankan Hans untuk kembali.
“Baiklah, pastikan juga kalian mendapatkan istirahat yang cukup. Aku pergi dulu.”
Hans pergi meninggalkan arena beserta Julian dan Redd di dalamnya. Sepertinya ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia alami. Namun, kini ia membawa janji sebuah rahasia yang harus ia pegang hingga kapanpun.
-Path-
Bertahun-tahun lalu di perbatasan antara wilayah keluarga terpandang dengan wilayah keluarga bangsawan.
Dua orang remaja tengah duduk pada papan di tepi sungai sambil melihat arus sungai dengan ikan-ikan di dalamnya berenang melalui arus.
“Peto, tidakkah kau ingin pergi dari wilayah keluarga terpandang? Semua di sini memang sangat maju dari segi teknologi. Tetapi kesombongan, iri dengki dan semacamnya menempel pada semua orang. Tidak ada kasing sayang di tempat ini.” Julian berkata.
“Jika tuan Julian bertanya seperti itu aku harus bagaimana? Aku hanya seorang b***k dari area warga biasa yang ditugaskan untuk menemanimu.” Peto menanggapi.
“Astaga, lalu bagaimana jika aku bertanya tentang impianmu? Rasanya sangat tidak mungkin kau ingin menjadi b***k terus-terusan hingga kau tua.”
Peto tertawa karenanya. “Kau benar, aku tidak mungkin terus menjadi b***k hingga akhir hayatku. Sebenarnya jika boleh jujur, aku ingin sekali menjadi perancang busana. Itu impianku sejak kecil yang tidak pernah menemukan titik terangnya hingga sekarang karena harus menjadi budak.”
“Tunggu, apakah kau suka menjahit dan semacamnya?” tanya Julian.
“Sejak kecil aku sudah suka menjahit karena diajarkan ibuku. Kami hanya mengambil kain-kain bekas di pembuangan lalu mejadikannya pakaian baru sehingga keluarga kami tidak perlu membeli pakaian yang harganya cukup mahal.” Peto mengugkapkannya. “Di kamarku juga ada mesin jahit, aku kerap menggunakannya di malam hari. Ketika pekerjaanku sudah selesai,” tambahnya.
“Lalu, maukah kau menemaniku kabur dari wilayah keluarga terpandang ini?”
Peto mengerutkan dahinya. “Apa kau sudah gila? Bagaimana bisa kita keluar dari tempar ini?” tanya Peto.
“Apa kau tidak melihat kita sedang ada di mana? Ini adalah sungai perbatasan. Jika kita menyebrang, kita sudah sampai di wilayah keluarga bangsawan,” tutur Julian.
“Lalu bagaimana dengan keluargamu? Kau adalah anak pertama yang nantinya akan meneruskan tahta kepala keluarga dari ayahmu.”
Julian tersenyum. “Apabila aku tidak ada, maka otomatis tahtanya turun kepada adikku.”
“Umm, entahlah aku harus bagaimana. Tetapi aku akan memercayakan semuanya kepadamu,” ujar Peto. “Ayo kita kembali ke kediaman keluargamu. Langit sudah mulai memerah. Aku bisa terkena omelan jika kita kembali saat langit sudah gelap.”
Julian pun megangguk dengan ajakan Peto.
Hampir tengah malam dan sebagian besar penerangan sudah dimatikan. Julian yang sedang bersama Peto terlihat berada di depan pintu sebuah ruangan. Keduanya membawa tas yang penuh dengan barang-barang. Tak lama kemudian mereka mengetuknya untuk beberapa kali.
“Siapa di sana?” Samar suara seorang wanita dari dalam ruangan.
Saat pintu terbuka, itu adalah seorang gadis yang teramat cantik. “Kakak, untuk apa tengah malam begini ke kamarku?” Dan ternyata gadis tersebut adalah adik perempuan Julian.
“Neria, ada yang ingin kubicarakan denganmu. Sebentar saja, apa boleh?” tanya Julian.
“Bersama Peto juga?” Neria bertanya balik.
“Emm, iya. Bersama Peto.”
“Masuklah dan langsung katakan apa yang kau ingin katakan. Tidak perlu basa-basi,” ujar Neria.
Julian dan Peto memasuki kamar Neria. Sebelum duduk, Peto memastikan pintu kamarnya sudah tertutup rapat.
“Begini, apa kau ingin menjadi kepala keluarga Atvasi?” tanya Julian yang benar-benar tanpa basa-basi.
“Sebenarnya itu bukan masalah besar dan sepertinya tidak buruk juga untuk menjadi kepala keluarga. Mengapa mendadak sekali menanyakan hal itu? Lagi pula kau masih ada di sini, dan apa kau lupa jika adikmu ini adalah seorang perempuan?” Neria berkata.
“Begini, aku dan Peto berencana untuk kabur dari rumah. Kami ingin pergi dari wilayah ini untuk menemukan kehidupan yang baru. Tidak berada di bawah nama keluarga terpandang atau apapun itu,” kata Julian.
“Apa kau sudah gila? Bagaimana bisa kau megatakan itu dengan begitu mudah di depan wajahku?” Neria nampaknya begitu terkejut dengan pernyataan kakaknya itu.
“Aku ingin meminta bantuanmu untuk berpura-pura memberikan pesanku sebelum pergi dari rumah pagi ini. Sebagai gantinya, kau bisa mengambil tahta kepala keluarga itu saat ayah akan pensiun. kau bisa menggunakan kamarku dan aku meninggalkan banyak barang termasuk sebagian uangku di sana. Kau bisa menggunakanitu sepuasnya, tetapi berjanjilah untuk menjaga hal ini dan membantuku seolah aku kabur dari keluarga ini.”
“Kau benar-benar gila. Apa kau serius akan meninggalkan keluarga ini hanya untuk kehidupanmu?”
“Tolonglah aku kali ini. Kita akan bertemu beberapa tahun dari malam ini. Pastikan saat itu kau sudha menjadi kepala keluarga Atvasi, yang memimpin dan menjalankan keluarga ini.”
“Kau sungguh akan melakukannya? T- tapi maksudku, mengapa semua ini sangat tiba-tiba? Aku tidak akan bisa memimpin keluarga ini.” Neria sudah pesimis.
“Kita bisa saling megirimkan surat. Selalu kabari aku dan beri tahu ketika ada sesuatu.”
Neria menghela napasnya dalam-dalam lalu meghembuskannya perlahan. “Ingatlah bahwa kali ini kau merelakan segala yang kau miliki. Aku akan mengatakan kau pergi ke benua lain menggunakan perahu ilegal,” ucap Neria.
Julian tersenyum lebar. “Kau sangat baik, Neria. Tunggu aku membalas kebaikanmu,” ujar Julian.
“Pelukan terakhir sebelum pergi?” pinta Neria. Julian pun memeluknya dengan erat.
Sementara itu, Peto hanya dapat memandangi kehangatan dari kakak beradik dari sudut ruangan sambil tersenyum tipis.