Setelah pelukan hangat itu Julian berpamitan untuk pergi kepada adiknya. Julian bersama Peto pergi keluar dari kamar Neria. Keduanya ternyata sudah menyiapkan sebuah tali yang sudah terikat untuk turun dari lantai atas kediaman keluarga Atvasi langsung meuju halaman depan.
“Ambil tali itu dan kita bisa langsung menuju halaman depan,” ujar Peto.
“Kau memang selalu dapat diandalkan untuk melakukan sebuah rencana.” Julian sambil tersenyum menyanjung Peto.
Mereka turun menggunakan tangga tersebut. Setelah turun, Peto langsung mengambil sebilah pisau lengkap dengan sarungnya. Ketika diangkat dari sarungnya, pisau itu nampak masih baru dan sangat tajam. Tanpa berpikir panjang, Peto langsung memotong sambungan talinya. Dengan itu, mereka dapat mengurangi jejak kaburnya.
“Sekarang kita akan lewat mana? Apakah kita akan menyelinap lewat pintu belakang?” tanya Peto.
Julian langsung menggeleng. “Kita akan menggunakan tumpukan batu pada dinding di bagian samping rumah. Batu itu tadinya akan digunakan untuk pembangunan tapi tidak jadi.”
Mereka melewati dinding tersebut diam-diam tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Masih dengan sembunyi-sembunyi mereka berjalan pelan menghindari penjaga yang terlihat masih berdiri terjaga di pintu belakang.
Sesampainya di sungai yang sama dengan sebelumnya. Mereka pergi menuju jembatan dan melntasi perbatasan tersebut. Kini keduanya berada di wilayah keluarga bangsawan. Mereka terus berjalan selama beberapa jam untuk menjauh dari perbatasan. Mungkin terasa begitu lelah setelah berjalan cukup lama, mereka memutuskan untuk berhenti di pinggiran bangunan keluarga bangsawan. Sebuah g**g kecil yang sempit, dengan genangan air di ujungnya. Bagian belakang dari rumah seseorang yang sepertinya akan dijadikan Julian dan Peto sebagai tempat beristirahat untuk semalam.
Julian menghempaskan napas lega. ”Akhirnya kita bisa beristirahat juga.”
“Perjalan itu tidak terasa, tetapi saat berhenti semua lelahnya seperti datang bersamaan,” ujar Peto.
“Kakiku benar-benar lemas saat ini.”
“Omong-omong, kau sangat hebat karena bisa merelakan semua yang kau punya kepada adikmu sendiri. Terlebih lagi reputasi nama keluargamu yang kau relakan begitu saja,” kata Peto.
“Itu bukan menjadi masalah. Sebenarnya Neria juga sudah lama ingin memimpin keluarga dengan caranya sendiri. Namun, ia sadar bahwa masih ada diriku lalu ditambah lagi ia yang seorang perempuan.”
“Memang apa salahnya jika perempuan yang memimpin sebuah keluarga?” Peto bertanya.
“Tidak akan ada yang mendukungnya. Stereotip orang-orang tentang perempuan hanyalah berjaga di rumah atau melakukan hal lain. Yang jelas, stereotip pemimpin itu selalu mengarah kepada laki-laki. Padahal, tidak menutup kemungkinan juga seorang perempuan dapat memimpin dengan lebih baik,” jelas Julian.
“Ah, jadi begitu. Jika kau tahu nantinya akan seperti itu, mengapa dengan mudahnya kau memberikan hal itu kepada Neria adikmu?” tanya Peto sambil menggaruk kepala.
“Sebenarnya dia sudah sangat berambisi sedari dulu untuk menjadi pemimpin keluarga pertama yang adalah seorang perempuan. Ia mungkin hanya tidak enak jika berterus terang deganku kalau ia akan menjadi penerus ayah menggantikanku.”
“Banyak hal belum aku ketahui ….” Peto melirih.
“Hei, tenanglah. Tujuan kita kabur untuk mencari kehidupan yang baru. Hidup tanpa tekanan serta kompetisi di sekitaranmu,” ucap Julian.
“Lagi-lagi aku di buat kagum olehmu, Julian. Kau bahkan rela tidur di dalam g**g sempit seperti ini. Padahal biasanya kau tidur di kasur yang teramat empuk, kan?”
Julian tertawa kecil. “Anggap saja ini sebuah awal. Nantinya juga akan terbiasa.”
Peto hanya tersenyum lalu ia melihat langit-langit yang dihiasi beberapa bintang terang.
“Ini tidak buruk, aku merasakan ketenangan di sini,” ucap Julian.
Mereka melanjutkan malam itu dengan mengobrol satu sama lain. Entah membicarakan apa. Dengan sunyinya sekitaran, hanya desir angin dan sesekali suara jangkrik terdengar. Hingga pada akhirnya mereka terlelap di dalam g**g kecil tersebut. Tanpa selimut bahkan alas, keduanya mencoba untuk bisa tidur dengan senyaman mungkin.
Hingga cahaya matahari perlahan memasuki g**g itu, kicauan burung juga turut membangunkan Julian dan Peto. Mereka meregangkan badan sambil menguap seperti orang-orang lain ketika baru bangun dari tidurnya.
“Astaga, malam yang amat melelahkan. Untung saja dapat tidur dengan nyenyak,” ujar Julian.
“Setelah ini kita akan pergi ke mana?” tanya Peto.
“Mungkin kita akan menuju area warga biasa. Jika aku tidak salah ingat, di sana banyak sekali pekerjaan yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan uang.”
“Kau serius ingin bekerja untuk mendapat uang? Seorang Julian yang merupakan anak laki-laki tunggal keluarga Atvasi akan melakukannya?” Peto terkejut mendengar perkataan Julian yang ingin bekerja.
“Hei, jangan membawa nama keluargaku,” kata Julian. “Karena aku tidak membawa terlalu banak uang, maka di sanalah tempat yang paling tepat.”
Mereka mengemasi barang-barang yang dibawa. Dengan segera, mereka meninggalkan g**g sempit itu lalu berjalan menuju area warga biasa melewati daerah pinggiran wilayah keluarga bangsawan. Mungkin mereka sedang mendapatkan kesialan saat jalan yang dilewati ternyata buntu sehingga harus memutar. Dalam perjalanan, perut Julian malah berbunyi memberi tanda sudah waktunya untuk makan. Untungnya, setelah memutar mereka bertemu dengan sebuah toko roti kecil di sudut jalanan.
“Ingin sarapan dengan roti?” Julian bertanya dan Peto langsung memberikan anggukan mengatakan `iya` untuk tawaran dari Julian.
“Permisi, bisakah aku membeli tiga buah roti?” pinta Julian kepada penjual itu.
Si penjual langsung menyiapkannya dengan ecepat. “Tiga buah roti di dalam kantung. Nampaknya kau sangat kelaparan, aku berikan ini hanya satu koin perak saja,” ujar penjual itu melihat Julian yang terus-terusan memegangi perutnya dan nampak dari pakaian yang digunakan sedikit kotor.
“Terima kasih banyak, ini uangnya!” Julian berterima kasih seraya tersenyum memberikan koinnya lalu mengambil roti untuknya sarapan.
“Julian, kenapa kau beli tiga buah?” tanya Peto.
“Dua untuk kita sarapan, satu lagi akan kita bagi dua untuk sore nanti. Tidak apa-apa, kan?”
Peto lantas tersenyum mengangguk. “Tidak apa-apa, ayo kita makan rotinya terlebih dahulu. Kau itu sudah terbiasa sarapan pagi. Jika tidak sarapan, bisa-bisa kau sakit perut.”
Berada di pinggiran wilayah keluarga bangsawan, Julian dan Peto menghabiskan roti mereka sembari duduk diantara kardus-kadus dan barang bekas lainnya yang menumpuk. Ketika selesai menghabiskan rotinya, Julian melihat ada sebuah tongkat besi diantara kardus-kardus di sampingnya. Ia mengambil tongkat itu lalu memasukannya ke dalam tas, ujung dari tongkat yang terlalu panjang terpaksa muncul dari tas Julian.
Mereka pun melanjutkan perjalannya. Mungkin supaya tidak bosan, di sepanjang perjalanan Julian dan Peto selalu mencari topic untuk dibicarakan oleh keduanya.
“Hei, apakah kau ingat kasus satu keluarga terpandang yang kabur dan menghilang sekitar satu dekade lalu?” tanya Peto.
“Ah iya, aku ingat itu. Kabarnya mereka memang keluarga yang sangat tertutup, bahkan rumor mengatakan mereka punya suatu rahasia besar sehingga memutuskan untuk kabur dari wilayah keluarga terpandang dan menghilang sampai saat ini,” ujar Julian.
“Sepertinya akan terus menjadi misteri mengapa keluarga itu kabur. Namun, jika dipikir-pikir lagi apakah mereka sama seperti kita? Mencari kehidupan yang lebih tenang di tengah kacaunya kehidupan wilayah keluarga terpandang,” kata Peto.
“Astaga kau ada benarnya juga.”
Ketika mereka mengobrol seperti itu, mereka melihat ada sebuah keramaian yang tidak jauh dari mereka. Julian dan Peto pun berlari menghampirinya. Ramai sekali orang-orang di sana bersorak dengan amarah yang tidak jelas sebabnya karena apa. Terlihat juga sekilas ada seorang penjaga yang sudah siap dengan pedangnya.
“Ya ampun, ada seseorang di tengah kerumunan itu. Usia orang itu sepertinya tidak jauh dariku. Mengapa dia dikelilingi orang-orang yang bersorak kepadanya, ya?” batin Julian bertanya-tanya.
Setelah itu Julian melihat sekitar dan ia melihat sebuah lonceng besi yag tergeletak dan melihat kabin kecil di arah sebaliknya. “Hei, Peto. Bantu aku, ambil lonceng itu dan lempar jauh-jauh ke arah sana. Setelahnya, kau berlari menuju kabin itu menungguku. Aku akan berikan aba-aba dengan lemparan batu dan kau melemparkannya beberapa detik kemudian,” ujar Julian.
“Tunggu, kenapa ini mendadak sekali?” tanya Peto yang nampaknya kebingungan.
“Sudah, ikuti saja. Tunggu aku di kabin itu.” Julian berkata sambil menunjuk kabinnya.
Peto dengan segera mengambil lonceng tersebut sementara Julian mengendap-endap diantara ramainya kerumunan. Julian mengambil batu lalu langsung melemparkannya ke arah belakang kerumunan tempat Peto menunggu. Tidak ada yang teralihkan sama sekali dengan lemparan batu Julian. Beberapa detik setelahnya, Peto melemparkan lonceng tersebut dengan sekuat tenaga dan ia langsung berlari memutar meunuju kabin yang sebelumnya ditunjukkan Julian.
Entah bagaimana caranya lonceng tersebut bisa mendarat diantara tumpukan seng dan jadilah suaranya teramat nyaring dan mengganggu. Hal itu membuat semua orang teralihkan dan melihat ke arah be;akang. Dengan cepat Julian menarik lengan orang yang dikelilingi kerumunan dan membawanya ke dalam kabin di mana Peto sudah menunggu di sana.
Ketika berada di kabin, orang itu nampak ketakutan sekaligus terkejut karena tiba-tiba Julian membawanya ke dalam kabin.
“Apa kau tidak apa-apa?” Julian bertanya.
“K- kenapa kau membawaku ke sini?” tanya orang itu.
Julian mengangkat bahunya. “Entahlah, aku hanya melihat wajahmu dan langsung terpikir untuk mengeluarkanmu dari tengah-tengah kerumunan itu,” ungkap Julian.
Orang itu terdiam untuk beberapa saat. “Apa k- kalian tidak takut padaku? S- semua orang yang kutemui mengatakan aku menakutkan.”
“Tunggu, dari mana mereka bisa mengatakan jika kau ini menakutkan?” tanya Peto melihat rupa orang itu yang lugu dan begitu polosnya.
“Untuk apa takut denganmu? Kau bukan monster, kau hanya manusia biasa seperti kami. Nampaknya juga kau adalah orang baik. Aku sampai bingung mengapa orang-orang itu menyorakimu,” ujar Julian. “Ini Peto, dan namaku Julian. Siapa namamu?” Julian menanyakan nama orang itu sambil mengenalkan dirinya dan Peto terlebih dahulu.
“N- nama, ya?”
“Iya namamu, tidak mungkin jika kau melupakan namamu sendiri. Tunggu … jangan bilang kau benar-benar melupakan namamu,” ucap Julian.
Orang itu langsung menggeleng cepat. “Namaku Redd. Salam kenal Julian, Peto. Terima kasih sudah menolongku dari orang-orang itu.