XXXV. Memilih Kehidupan Baru

1666 Kata
“Salam kenal, Redd. Umm kalau boleh tahu mengapa orang-orang itu mengelili sambil menyorakimu?” tanya Julian. “Seperti yang kubilang tadi. Mereka mengatakan diriku seperti monster dan semua takut kepadaku,” ulang Redd. “Jujur saja aku masih tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran mereka sampai-sampai berbuat seperti itu padamu,” ujar Peto seraya berjalan mendekati pintu. “Mungkin saat kalian melihat diriku yang sebenarnya kalian juga akan langsung menjauhiku seperti yang lainnya,” kata Redd. Tiba-tiba pintu kabin didobrak oleh penjaga yang tadi sempat dilihat oleh Julian. Namun, penjaga itu hanya datang sendiri tidak ada orang lain di belakangnya. Karena pintunya langsung didobrak, membuat Peto yang tengah berdiri di depannya harus terdorong hingga terkejut. “Akhirnya aku menemukanmu, monster!” seru penjaga itu sambil mengeluarkan sebilah pedang dari sarungnya. Tanpa basa-basi omongan yang tidak penting, penjaga itu dengan seenaknya menebaskan pedang ke arah Redd. Beruntungnya Redd segera di dorong oleh Peto yang gesit bergerak. Sayangnya, tebasan itu menggores perut bagian kanan Peto dan darah langsung mengalir pada saat itu juga. Redd nampaknya tidak terima dengan luka yang duterima Peto. Matanya memerah dan napasnya menjadi tidak teratur. Ia langsung mengambil napas dalam-dalam lalu ia berlari dan menyentuh kulit penjaga tersebut. Sihir pun diaktifkan Redd. Tubuh penjaga itu perlahan menjadi keriput, kerutan di mana-mana. Rambut langsung memutih dan rontok, tubuh yang sedikit kekar menjadi kurus kering seperti hanya menyisakan tulang saja. “Matilah kau dan pergilah ke neraka tingkatan paling bawah!” seru Redd. Penjaga itu menjadi tak berdaya dan akhirnya kehilangan nyawanya. Tubuhnya sudah seperti membusuk, pakaian yang ia gunakan malah berubah menjadi benang dan kain yang berserakan. Julian dan Peto yang melihat hal itu jelas terkejut dengan apa yang baru saja mereka lihat di hadapan mereka sendiri. “Astaga, apakah penjaga itu benar-benar sudah kehilangan nyawanya secepat itu?” gerutu Peto. Redd nampaknya juga sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan. Tingkahnya menjadi aneh seperti orang yang kehilangan kendali. Sebelum semakin menjadi-jadi, Julian berinisiatif untuk menahan Redd dengan menggenggam erat kedua lengannya. “Redd … dengarkan aku. Kau bukan monster atau apapun itu. Kau hanya manusia biasa sama seperti kami. Kau hanya memiliki pemberian istimewa.” Julian membsisikkannya perlahan kepada Redd. Hingga beberapa saat kemudian sepertinya emosi Redd sudah kembali stanil. “K- kenapa kau bisa tetap tidak takut kepdaku setelah melihatnya?” tanya Redd degan sangat pelan. “Sudah kubilang tidak ada yang perlu ditakuti darimu. Aku dan Peto percaya jika kau adalah orang baik,” ujar Julian. “Astaga, Peto!” Redd baru ingat jika Peto yang sehabis menolongnya terluka. Redd langsung menghampiri Peto, ia menaruh telapak tangannya di atas luka yang dialami Peto. Belasan detik Peto harus menahan rasa sakit sebelum luka yang ia alami menghilang dan seperti tidak pernah ada luka di perut Peto. “Terima kasih, Redd. Tapi, bagaimana kau bisa melakukannya secepat itu?” tanya Peto setelah  berterima kasih. “Mudahnya kemampuan sihirku ialah mengambil dan memberikan waktu. Jadi, aku memberikan waktu kepada lukamu untuk kembali menjadi seperti beberapa menit lalu sebelum ditebas oleh penjaga itu,” jelas Redd. “Jadi, bisa dibilang kau mengambil waktu penjaga itu hingga ia wafat?” tanya Julian. Redd mengangguk. “Tidak apa-apa, kan? Jika aku membunuh seseorang dengan sihirku.” “Selama itu dilakukan untuk kebaikan rasanya tidak apa-apa,” kata Peto. “Namun, aku hanya merasa akibatnya tidak seimbang ketika nyawa hanya ditukarkan dengan luka,” ujar Redd. Julian menepuk bahu Redd. “Percayalah yang kali ini tidak apa-apa. Kau harus terus berlatih bagaimana supaya kau bisa mengendalikan sihirmu dengan baik.” “Entahlah, aku sangat percaya terhadap kalian berdua. Jika ada orang lain yang melihat sihirku mungkin aku bisa menjadi di luar kendali seperti tadi.” Redd berkata sambil menunduk. Sepertinya ia memiliki banyak kenangan buruk dengan penggunaan sihirnya. “Tidak apa-apa, aku bisa percaya terhadap kami berdua. Bagaimana jika kita pergi bersama? Mencari kehidupan yang baru, meinggalkan kehidupan menyakitkan ini.” Julian menawarkan kepada Redd untuk pergi bersama. Setelah itu Peto menggenggam tangan keduanya dan meyakinkan Redd untuk pergi bersama. Singkatnya Redd setuju untuk pergi bersama Julian dan Peto menuju area warga biasa. Mereka meninggalkan kabin kecil itu bersama jasad penjaga yang tadi masih ada di dalamnya. Setelah ketiganya pergi, orang-orang yang tadinya mengerumuni Redd datang ke kabin karena melihat pintu yang terbuka. “Hei lihatlah, ini pasti mayat dari anak itu. Ia benar-benar terkutuk hingga menjadi busuk,” ujar seseorang yang datang ke kabin itu. “Lihat, ada pedang penjaga yang tadi dengan darah. Pasti penjaga itu yang membunuh anak ini, syukurlah! Kita harus berterima kasih kepada penjaga itu,” ujar seseorang lainnya sambil menunjuk pedang yang digunakan penjaga itu untuk menebas Redd tadi. Semua orang di sana mengira jasad itu adalah Redd, bukan penjaga dan berakhir dengan dibakar hingga jasadnya tidak berbentuk. Tidak ada yang menyadari bahwa Redd sudah pergi. Julian, Peto dan Redd sudah tiba di tengah area warga biasa. Ramai sekali aktivitas para pekerja dari mulai mengangkat barang, menjadi pekerja bangunan, hingga yang menjadi pedagang di sepanjang jalan. Ketika berjalan melihat-lihat sekitar, tiba-tiba Peto terhenti setelah melihat sebuah toko jahit di pinggir jalan. “Ada apa Peto? Kenapa kau tiba-tiba berhenti?” tanya Julian. “Bisakah kita ke tempat jahit itu sebentar? Aku seperti tidak asing dengan papan nama beserta tulisannya,” ujar Peto. “Bagaimana, Redd?” tanya Julian menoleh ke arah Redd. Redd mengangguk. “Tidak apa-apa, lagi pula dari tadi kita hanya berjalan di sini.” Peto berjalan ke depan pintu toko jahit itu diikuti Julian dan Redd. Ia perlahan membukanya. “Permisi ….” “Selamat datang di toko kami, katakan apa yang bisa kami bantu.” Beberapa orang di dalamnya langsung menyambut dengan hangat. Peto menatap sungguh-sungguh seorang wanita tua yang tengah menjahit baju. “Ibu …,” lirih Peto berkata. Wanita tua itu langsung menengok dan seketika menitihkan air matanya. “Astaga Peto!” Ternyata wanita tua itu adalah ibu kandung dari Peto. Toko jahit yang dikunjungi adalah milik keluarga Peto dan orang lain yang berada di dalamnya adalah sepupu Peto. Sebuah pertemuan yang teramat mengharukan diantara ibu dan anak. Pertemuan hangat itu membuat Peto harus memutuskan sebuah pilihan. “Julian, Redd. Apakah tidak apa-apa jika aku akan tinggal di sini?” tanya Peto. Julian lantas tersenyum lalu mengangguk. “Tentu saja tidak apa-apa, inilah pilihanmu dan apapun itu aku akan terus mendukungnya.” “Terima kasih banyak Julian. Aku tidak tahu lagi bagaimana harus berterima kasih kepadamu. Kau bisa temui aku kapanpun di sini. Pintunya selalu terbuka untukmu.” “Pelukan perpisahan antara sahabat?” tanya Julian. Mereka pun berpelukan sebagai tanda perpisahan sebelum Julian dan Redd pergi. “Sepertinya kami akan langsung pergi,” ujar Julian. “Semoga kalian sehat selalu dan selamat sampai tujuan, ya.” Peto berkata dan setelahnya Julian bersama Redd pun pergi. Mereka terus saja berjalan, tidak tahu ingin ke mana. Hingga akhirnya Redd menanyakan pada Julian sebenarnya mereka akan pergi ke mana. Julian lalu menjawab jika mereka akan pergi ke perbatasan antara area warga biasa dengan area keluarga rendahan. “Mengapa kita pergi ke sana?” tanya Redd. “Bolehkah aku bertanya balik kepadamu? Apa yang selama ini kau impikan?” Julian bertanya balik kepada Redd. “Hmm, mungkin aku ingin kehidupan yang layak. Ingin diakui oleh orang-orang dan … oh ya, sejak kecil aku selalu bermimpi untuk bisa melanjutkan sekolah. Karena yang lainnya takut kepadaku, aku tidak bisa bersekolah hingga saat ini,” ujar Redd. “Jika memang kau ingin bersekolah, ini sebuah kebetulan yang mungkin telah ditakdirkan untukmu,” ucao Julian membuat Redd langsung mengerutkan dahinya. “Apa yang kau maksud?” “Kebetulan, aku memiliki sebuah kenalan yang dulunya bekerja dengan keluargaku. Ia menjadi seorang guru dan seminggu lalu aku dikirimkan surat khusus dengan tawaran untuk bisa sekolah di tempatnya,” beber Julian. “Astaga, ini seperti bermimpi! Apakah aku benar-benaar bisa sekolah setelah ini?” Julian menangguk. “Sebagai gantinya karena sudah membantu mencapai impianmu, aku ingin kau membantuku juga. Di kala senggang kita akan bekerja di area warga biasa, melakukan pekerjaan yang baik dan menghasilkan uang. Aku ingin mendapatkan kehidupan yang benar-benar baru.” Redd tersenyum. “Tentu aku akan membantumu! Semua akan mudah dilakukan jika bersma-sama, ya? Aku pernah mendengar kalimat itu dari seseorang. Menjalankan semua ini bersama pasti akan terasa lebih mudah,” kata Redd. “Kau benar Redd. Setelah ini kita akan memulai perjalan baru dalam hidup baru!” -Path- Fajar telah bangun dari tidurnya perlahan menaiki langit dengan langit yang menjadi kemerahan. Cahayanya pula menyinari sebagian daratan yang semakin hari menurun. Kicauan burung akhirnya membangunkan seorang Zachary. Sepertinya ia  sudah mendapatkan istirahat yang cukup semalam. Ia langsung membangunkan Hans, tetapi ia dibuat kebingungan ketika Hans tidak kunjung bangun dan masih pulas tertidur. “Astaga, ada apa denga anak ini? Bukankah ia tidur duluan semalam?” batin Zachary. “Hei bangunlah,hari ini kita akan melakukan perjalanan kembali ke penginapan. Kau bisa ditinggal jika terus tidur begini,” ujar Zachary. Setelah diteriaki Zachary beberapa kali akhirnya Hans bangun juga dari tidurnya. “Ya ampun, kenapa kau membangunkan aku sampai seperti itu?” tanya Hans yang sepertinya masih belum benar-benar sadar. “Cepat kemasi barang-barangmu aku ingin menemui Julian. Pastikan saat aku kembali kau sudah siap untuk berangkat, ujar Zachary. “Ya … baiklah, padahal aku masih sangat mengantuk. Lalu bagaimana dengan barang-barangmu?” tanya Hans. “Lihatlah di sudut tenda kita, aku sudah menyiapkannya sedari kemarin. Sudah, aku pergi dulu,” pungkas Zachary yang setelahnya membuka tenda dan pergi untuk menemui Julian. Zachary berjalan ke sana kemari mencari tetapi tak kunjung menemuinya. Namun, ia bertemu dengan Jholrd di depan bar. “Hei, Zachary! Ada apa pagi-pagi begini? Apakah kau baru akan bersiap untuk keberangkatanmu nanti?” tanya Jholrd. Zachary pun menggeleng. “Aku sedang mencari Julian, aku tidak melihatnya di mana pun bahkan begitu juga dengan Redd,” ujar Zachary. “Jelas saja kau tidak akan menemui mereka berdua.” “Memangnya mereka pergi ke mana?” “Pagi buta tadi mereka pergi untuk mencari babi hutan,” tutur Jholrd.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN