XXXII. Membusuk

1104 Kata
“Aku akan mempertimbangkan itu,” ujar Zachary. “Hei, Sera. Apakah kau tidak akan meminumnya?” tanya Redd yang melihatSera hanya memegangi gelasnya tanpa diminum sedikit pun. “Ya … aku akan meminumnya nanti. Biarkan aku menikmati pemandangan ini terlebih dahulu hingga puas.” Sera berkata dengan pandangannya yang terus tertuju kepada Jrackst. Hans menaruh gelas minumannya. “Setelah ini jangan lupakan janjimu, Julian.” Alis sebelah kanan Julian naik. “Janji?” “Janjimu untuk membantu kami megusut dalang dari penculikan para ahli sihir di sekolah,” ucap Hans. Julian terseyum. “Tentu, seorang lelaki tidak boleh mengingkari janjinya. Lagi pula aku juga sudah puas serta rasa penasaranku terbayarkan atas  kekuatan Zachary.” “Tunggu, apa katamu? Penculikan para ahli sihir?” tanya Jholrd yang kebingungan. “Mari kembali ke arena untuk membicarakannya,” ujar Julian. Mereka berjalan kembali ke arena meninggalkan bar. Jrackst menyentuh bagian dinding luar arena untuk beberapa saat lalu mengikuti yang lainnya pergi ke dalam. Semua berkumpul di tengah-tengah arena. “Jadi, aku sudah membuat janji kepada Zachary jika aku kalah dalam pertandingan maka aku akan membantunya untuk menemukan siapa yang bertanggung jawab atas hilangnya beberapa ahli sihir di sekolahku.” Julian mengatakan yang sejujurnya kepada Jholrd dan Jrackst. “Para ahli sihir itu berarti guru kalian ya.  Yang kau maksud hilang itu apa mereka diculik?” tanya Jholrd. “Ya, mereka diculik. Namun, sayangnya yang telah ditemukan hanya menyisakan bagian kepala saja,” kata Redd. “Astaga, apakah itu sungguhan? Perbuatan yang teramat k**i!” ucap Jrackst. “Jika memang ditujukan khusus untuk para ahli sihir di sekolah kalian, apa yang menjadi motif utama untuk melakukannya?” tanya Jholrd. Zachary menghela napasnya. “Hal itu juga yang sedang kami cari. Tidak ada yang mengerti kenapa harus ahli sihir dari sekolah yang berdiri pada perbatasan antara area warga biasa dan area keluarga rendahan. “ “Itu aneh dan mencurigakan. Lalu, apa yang selanjutnya akan kalian lakukan jika tidak menemukan petunjuk sedikit pun?” Jrackst bertanya. “Mungkin kami akan kembali mengumpulkan bukti-bukti yang ada. Sepertinya hanya itu cara untuk menemukan titik terangnya,” tutur Zachary. Jrackst melemaskan bahunya. “Maafkan aku karena tidak bisa banyak membantu kalian. Aku harus pergi lagi besok pagi dan mungkin akan kembali dalam satu minggu.” “Apa, besok kau sudah akan pergi lagi?” Jhorld sontak terkejut dengan pernyataan kakaknya tersebut. “Maafkan aku, tapi aku hanya singgah sebentar hari ini. Oh ya, Julian … rencananya kapan kau akan kembali ke area warga biasa?” tanya Jrackst. “Mungkin kami akan berangkat besok pagi. Sejujurnya aku merasa tidak enak berlama-lama di tempat ini. Aku hanya ingin mereka yang ada di sini menikmati hidupnya dengan setara. Tanpa berpikir bahwa ada yang kedudukannya lebih tinggi daripada mereka.” Julian menjelaskan. “Kau tidak boleh berpikiran seperti itu. Tanpa dirimu juga Light Sanctuary ini mungkin tak akan pernah ada. Jika aku memiliki waktu kosong, akanku pastikan utnuk berkunjung ke tempatmu.” Jrackst sambil mengepalkan tangannya dan berbicara begitu yakin. “Tentu, aku akan selalu membukakan pintu untukmu!” “Astaga, apa kita yang baru saja bertemu harus kembali berpisah esok hari? Semua ini terlalu cepat untukku,” keluh Jholrd. “Jangan berkecil hati Jholrd. Kau bisa menemuiku kapan pun kau mau. Kau hanya perlu mengatakannya saja,” kata Julian. Sera mengangkat bahunya sambil menghempaskan napas. “Jika besok kita akan kembali, aku akan sangat merindukan tempat ini. Walau hanya sebentar, semua orang di sini entah mengapa memberikan suasana yag begitu hangat,” ujar Sera. Redd setengah tersenyum. “Kau tidak akan menemukan tempat yang seperti ini di mana pun. Hanya Light Sanctuart yang memiliki kehangatan itu.” “Hei, Jrackst ….” Zachary memanggil dengan suara pelan. “Apakah tidak apa-apa jika pelindung sihirnya terhapus olehku? Apa kau tidak akan kesulitan untuk membuatnya lagi?” “Serahkan saja padaku. Aku akan menggunakan malam ini untuk membenahi semua yang bisa kubenahi. Dan aku akan menantikan sihirmu yang lebih kuat lagi. Jika saat ini menghapuskan segel di arena, bukan tidak mungkin suatu saat nanti kau dapat melepaskan segel yang jauh lebih kuat.”  Jrackst berucap seperti itu hingga membuat Zachary terdiam. “Terima kasih banyak, Jrackst.” Zachary menanggapi agak malu-malu. “Nampaknya hari semakin gelap. Kalian dapat beristirahat pada tenda-tenda kosong di belakang bangunan arena ya,” kata Julian. “Jholrd, antarkanlah mereka. Nanti aku menyusulmu,” pinta Julian. Dan Jholrd berdiri mengantarkan semuanya ke tenda di balik bangunan arena. Zachary dan yang lainnya mengucapkan selamat malam sebelum meninggalkan Julian bersama Redd dan Jrackst. Julian meregangkan tubuhnya hingga berbunyi saat ia menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri. “Aku sangat terkejut ia dapat menciptakan ledakan sebesar itu.” “Kita harus memantaunya. Mungkin saja ada orang jahat yang megincar kekuatan Zachary. Aku bahkan tidak pernah mendengar sama sekali tentang atribut sihir es kecuali dalam buku karangan yang ada di perpustakaan sekolah,” ujar Hans. “Kita akan memantaunya sekaligus membantu mengusut otak dari penculikan sekaligus pembunuhan para ahli sihir.” Julian mengiyakan untuk mengawasi Zachary bersama dengan Redd. “Baiklah, aku sudah mulai lelah juga sepertinya. Ingin beristirahat di tempat yang membesarkanku dan memberikan banyak cintanya. Sampai berjumpa lagi esok pagi!” Jrackst berpamitan untuk beristirahat dan Jholrd pun ikut bersamanya. Di tengah malam yang sunyi pada kesenyapan. Di bawah cahaya bulan yang tidak tertutup awan sama sekali. Saking sunyinya, bar yang tadinya begitu ramai dan riuh kini menjadi hening. Suara hewan, serangga dan desir angin malam dari hutan begitu terasa dibarengi dengan udara sejuk.  Hans tiba-tiba terbangun karena ia ingin buang air kecil, ia memutuskan untuk berlari ke keluar mencari kamar kecil. Hingga akhirnya ia menemukan kamar kecil yang tidak jauh dari arena dan langsung pergi ke sana. Setelah Hans selesai dengan buang airnya, ia melihat ada seseorang di dalam arena. Karena penasaran ia memutuskan untuk mengintipya secara diam-diam. Tanpa disangka, ternyata itu adalah Redd yang tengah memegangi beberapa buah apel. Betapa terkejutnya Hans saat melihat Redd yang memegangi apel itu dan dapat mengubah apelnya menjadi busuk dalam sekejap. Hans sepertinya ingin cepat-cepat pergi sebelum ketahuan oleh Redd. Namun, mungkin nasib buruk sedang didapatkan Hans. Ia tidak sengaja menginjak sebuah ranting pohon menyebabkan suara patahan yang nyaring. Redd akhirnya menyadari kehadiran Hans dan langsung berdiri menatapnya. Suasana aneh dihadapi keduanya untuk sesaat. “Hei, untuk apa kau berada di sini?” tanya Redd curiga. “Aku hanya baru saja kembali dari kamar kecil dan tidak mengaja melihatmu membusukkan apel-apel itu dengan tanganmu,” ujar Hans sangat jujur tanpa menambahkan tambahan apapun. “Kau melihat aku membusukkannya?” Nampak raut wajah Redd yang seketika menjadi terkejut, takut, dan marah dalam satu ekspresi di saat bersamaan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN