Bab 10. Penolakan Anggun

1028 Kata
Anggun memotret makanan yang diberikan security dan mengirimnya pada Kevin. Ia sangat yakin yang memberi adalah pria itu. “Aku nggak tahu kalau kamu delivery, Anggun.” “Bukan ya, ini kiriman dari Kevin kayaknya. Ini buat kamu aja, aku kenyang.” Leoni menerima dengan senang hati dengan senyum yang terpancar jelas di wajah gadis itu. Sedangkan Anggun sibuk dengan ponsel. Anggun: Ini makanan dari kamu? Tidak lama kemudian pesan Anggun langsung dibalas oleh pria itu. Kevin: Iya, dimakan ya. Anggun: Sudah aku kasih Leoni. Lain kali ndak perlu kirim makanan lagi. Kevin: Iya. Anggun meletakkan ponselnya tidak berniat membalas pesan dari Kevin. Keesokan malamnya, memang benar Kevin tidak mengirimkan makanan, tetapi pria itu datang menghampiri Anggun di kosan. “Kamu mau ngapain lagi, Vin?” tanya Anggun tidak habis pikir karena pria itu masuk begitu saja sebelum disuruh. “Aku mau ngajak kamu makan malam di luar.” “Aku sudah bilang kan semalam nggak per-” “Aku ngajak makan malam, Mahes, bukan kirimin kamu makan.” Anggun mendengkus. Ia memilih duduk di karpet sementara Kevin duduk di ranjang. Perempuan itu tidak berniat dan tidak ingin pergi bersama dengan berondong itu. Anggun mengabaikan Kevin yang sudah rapi dan tampan dengan pakaian casualnya. Memang pria tetap tampan dengan outfit apa pun. Meski begitu ia belum menaruh perasaan padanya, setidaknya untuk sekarang. Banyak yang ingin Anggun lakukan untuk membahagiakan orang tua dan melunasi hutang-hutang mereka. Yeah, setelah kematian mendiang suaminya, ia harus membayar hutang-hutang sang suami yang baru diketahui setelah meninggal. Tentu perempuan itu terkejut, tetapi tidak dapat berbuat apa pun kecuali melunasinya. “Mahes, apa kamu nggak kasihan sama aku? Aku udah jauh-jauh ke sini dan rapi lho tapi kamu tolak,” ujar Kevin ketika melihat Anggun sibuk dengan ponsel walaupun sebenarnya tahu perempuan itu hanya mengalihkan perhatian saja. “Aku ndak minta kamu datang dan ngajak makan di luar tuh.” “Oke, itu inisiatifku. Tapi kamu kan bisa mengasihaniku dari siang belum makan lho ini.” Kevin memasang wajah memelas ketika Anggun menoleh. “Kamu punya asam lambung tapi suka sekali makan ndak teratur!” Kevin hanya dapat memperlihatkan deretan gigi putihnya. Ia tidak berbohong memang terakhir kali perutnya diisi ketika sarapan. Jam makan siang digunakan untuk bekerja supaya pekerjaannya cepat selesai dan bisa pulang lebih awal karena memiliki rencana makan malam bersama dengan Anggun. Pria itu tersenyum ketika melihat Anggun berdiri dan menuju lemari mencari pakaian ganti. Setelah beberapa menit Anggun keluar dari kamar mandi sudah rapi dengan celana jeans berwarna hitam dan t-shirt berwarna putih. Perempuan itu meraih t-shirt dan tasnya siap untuk berangkat. “Ayo jangan lama-lama keburu malam.” “Yes!” pekik Kevin tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Mereka keluar dari kamar kos Anggun. Kos yang disewa sama perempuan itu bukan kos khusus perempuan sehingga Kevin bisa keluar masuk kos tersebut. Setelah mengendarai motor sport selama setengah jam akhirnya mereka tiba di sebuah cafe dua lantai dengan. Kevin meraih tangan Anggun dan menggenggam mengajak masuk ke dalam cafe tersebut. Anggun membiarkannya karena menolak pun percuma, pasti Kevin akan memaksa. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru Sky Cafe. Namun, Kevin membawa naik ke rooftop. Terlihat binar mata Anggun ketika melihat lampu hias yang ada pada tanaman hias. “Kalau siang pasti bunganya kelihatan bagus bangun,” gumam Anggun ketika melihat bunga-bunga yang bermekaran, tetapi warnanya tidak terlalu jelas karena penerangan yang cukup redup. “Hari Minggu kita bisa ke sini lagi. Atau kamu bisa juga sepuasnya ke sini kapanpun.” Anggun mencebik. Sudah jelas ia hanya memiliki waktu hari Sabtu dan Minggu saja kalau siang hari. Perempuan itu berjalan mendahului Kevin mencari tempat duduk yang nyaman. Setelah mendapatkan tempat duduk Anggun menoleh ke belakang dan melihat Kevin sedang berbicara dengan beberapa perempuan. Tanpa sadar perempuan itu mendengkus. “Teman perempuan kamu banyak juga ya,” ujar Anggun ketika Kevin sudah duduk di depannya. “Teman kampus.” Anggun hanya membulatkan bibirnya tanpa suara. "Kenapa? Apa kamu cemburu?" Anggun mengernyitkan dahinya. "Aku? Cemburu? Ya ndak mungkinlah. Aku ndak suka sama kamu lagi pula kita ndak apa hubungan apa-apa." Sedikit sakit sih sebenarnya. Anggun hanya mampu bergumam dalam hati. Tentu ia tidak mau jika Kevin mengetahuinya. Kevin tersenyum ketika mendengar jawaban dari Anggun. Ia hanya bergurau. Namun, perempuan itu menanggapi dengan serius. "Pesanlah apa pun yang kamu mau, nanti aku yang bayar." Kevin menyodorkan buku menu yang sempat diberikan oleh pelayan. "Aku masih mampu bayar sendiri, Vin. Aku bukan perempuan matre yang minta dibayarin mulu. Lagi pula aku tahu kamu melakukan ini semua untuk menebus rasa bersalahmu, tapi maaf semua yang telah kamu lakukan ndak bisa untuk menggantikannya," ujar Anggun dengan wajah datar. "Jadi stop membelikan aku makanan dan mengantar jemput aku ke kantor," imbuh Anggun membuat Kevin terdiam. Memang benar apa yang dikatakan oleh Anggun. Namun, sebenarnya ia hanya ingin kembali dekat seperti dulu tanpa ada jarak di antara mereka. Anggun memesan makanan untuk mereka berdua karena Kevin terus terdiam. Beruntung ia sedikit banyak tahu apa yang disukai pria itu. "Apa kita nggak bisa kembali seperti dulu, Mahes?" tanya Kevin dengan lirih menatap sendu perempuan yang ada di hadapannya. "Aku sudah katakan berikan aku waktu. Lagi pula kalau kita ndak bisa sedekat dulu, kamu ndak akan rugi. Teman kamu banyak jadi ndak masalah." Sakit, itu yang sedang Kevin rasakan ketika bibir tipis Anggun mengatakan seperti itu. Bukan seperti ini yang ia inginkan. Walau memiliki banyak teman, Anggun memiliki tempat tersendiri di hatinya meski belum mencintai perempuan itu. "Lebih baik kita makan dulu. Aku sudah lapar," ujar Kevin ketika pesanan sudah datang. Sekarang Kevin tidak tahu harus bagaimana lagi. Jika saja tidak ada penolakan dari Anggun, ia tidak mungkin menyerah begitu saja, tetapi perempuan itu dengan terang-terangan menolak apa pun yang dilakukan. Sepertinya benar gue harus memberikan waktu untuk Mahes. Tapi gue nggak sanggup kalau harus menjaga jarak dalam waktu yang lama. Ah, Sial! Kenapa gue udah kayak pacarnya. Kevin hanya mampu menggerutu dalam hati. Ia melirik Anggun yang sedang fokus pada makanan, tetapi terlihat tatapannya kosong. Pria itu benar-benar merasa bersalah dan tidak bermaksud menebus menggunakan materi. Ketika mereka sedang makan, tiba-tiba ada yang menyapa Kevin. "Kak Kevin." Kevin menoleh dan betapa terkejutnya ketika melihat seorang gadis yang sudah lama tidak bertemu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN