Bab 11. Annoying Guy

1095 Kata
“Crystal,” ucap Kevin lirih ketika melihat siapa yang memanggil. Sebenarnya ia sangat hafal dengan suara gadis berusia lima belas tahun itu. Namun, Kevin tidak menyangka akan bertemu di sini, di cafe Sky. “Kenapa terkejut seperti itu, Kak? Wah ini pacar kakak ya?” tanya Crystal dengan senyuman yang manis menurut pria itu. “Bukan!” Crystal mengerjapkan mata, kemudian terkekeh ketika melihat Kevin gelagapan. “Kalau iya aku malah senang, Kak.” Anggun sejak tadi memperhatikan interaksi Kevin dan Crystal. Ia yakin ada sesuatu di antara mereka atau lebih tepatnya Kevin. Perempuan itu menghela napas, entah kenapa hatinya terasa tercubit ketika melihat tersenyum dan kedua mata pria itu menatap Crystal penuh damba. Anggun mengenyahkan pikirannya, mencoba meyakinkan diri sendiri tidak ada perasaan apa pun pada pria itu. “Aku antar ya pulangnya,” ujar Kevin pada Cristal membuat Anggun kembali menatap Kevin. Crystal melirik Anggun sebentar, kemudian menggelengkan kepala. “Nggak usah, Kak. Aku naik taksi aja. Kasihan pacar kakak kalau ditinggal.” Kevin menghela napas. Sudah berkali-kali ia mengatakan Anggun bukan kekasihnya, tetapi Crystal kukuh pada ucapannya. “Cris, kenalkan ini namanya Anggun. Dia resepsionis di kantor unclemu.” “Oh ya. Hai kak, Aku Cristal keponakan Uncle Abizar,” ujar Crystal sambil mengulurkan tangan dan tersenyum pada Anggun. Anggun berdiri dan menyambut tangan Crystal dengan senang hati. “Hai, Nona Cristal saya Anggun.” Crystal melepaskan jabatan tangannya. “Panggil Crystal aja.” Anggun hanya mengangguk sambil tersenyum “Aku antar ya, Anggun pasti nggak keberatan. Lagi pula hanya sebentar, aku khawatir kalau kamu naik taksi sendiri.” “Saya nggak masalah, Cris. Biarkan Kevin mengantarmu,” ujar Anggun pada akhirnya membuka suara. Setelah mendapatkan persetujuan dari Anggun, Kevin dan Crystal pergi meninggalkan cafe. Perempuan itu menghela napas lalu menjatuhkan sendok di atas piring. Nafsu makannya sudah hilang sekarang. Meski mengatakan ingin menjaga jarak dari Kevin, tapi bukan berarti harus begini. “Kevin yang ngajak dia juga yang pergi ninggalin aku. Salahku sendiri sih yang ngizinin dia pergi sama Crystal. Tapi, aku juga nggak ada hak buat nahan,” gumam Anggun dengan kesal. Anggun melanjutkan makannya meski sudah tidak berselera. Ia benar-benar menghabiskannya. Sudah satu jam lebih Kevin tidak terlihat batang hidungnya padahal Anggun tahu kediaman Crystal tidak jauh dari cafe.Perempuan itu tahu siapa Cristal karena ia pernah mengantarkan bunga dari Vlora ke rumah Crystal ditambah gadis itu juga ikut datang ke Spanyol. Setelah lelah menunggu Anggun akhirnya memutuskan untuk pulang karena cafe sebentar lagi akan tutup. Tidak lupa ia membayar pesanannya. Setelah tiga puluh menit perjalanan menggunakan ojek online, akhirnya Anggun tiba di kos-kosan. Ia menghempaskan tubuh ke ranjang. Ketika baru saja memejamkan mata ponselnya berbunyi. Dengan malas perempuan itu mengambil ponsel di dalam tas. Anggun berdecak ketika melihat Kevin yang menghubungi. Tanpa berminat menjawab, ia meletakkan benda pipih tersebut di ranjang. Rupanya Kevin tidak berhenti menghubungi Anggun hingga membuat perempuan itu menggerutu. Karena kesal, ia memilih mematikan ponselnya. Anggun mengira akan kembali bertemu Kevin di kantor, tetapi ternyata tidak. Pria itu tidak terlihat batang hidungnya selama sehari sehingga Anggun tidak perlu menghindar. Meski begitu ada rasa khawatir menyeruak ke dalam hati mengingat pria itu tidak memberi kabar sama sekali. “Memangnya siapa aku sampai dia harus repot-repot ngasih kabar,” gumam Anggun ketika perempuan itu sedang menunggu bus di halte. Anggun menunduk melihat sepatu pantofel yang memiliki hak dengan tinggi 5 cm. Ia menyilangkan kaki dan bersandar pada halte karena berkali-kali tidak kebagian bus yang lewat. Kebiasaan yang melelahkan menurut perempuan dengan tinggi 170 cm itu setiap pulang kerja harus mengantre naik bus. Entah sudah berapa kali Anggun menghela napas, selain itu juga lelah berdiri. Ia melihat arlojinya dan waktu sudah menunjukan pukul enam lewat tiga puluh menit. “Naik ojol aja kali ya? Pasti macet juga kalau naik bus,” gumam Anggun akhirnya memutuskan keluar dari halte. Jika saja Leoni tidak dijemput oleh kekasihnya, maka Anggun tidak akan sendirian sekarang. Dengan enggan ia menuruni anak tangga. Selain pegal karena berdiri, perempuan itu juga merasakan perutnya memerlukan asupan. Begitu tiba di trotoar Anggun langsung memesan ojek online, tetapi selalu ditolak karena jam sibuk sehingga membuat Anggun kembali kesal. Ketika sedang sibuk menatap ponsel, tiba-tiba ada yang berhenti di depannya membuat perempuan itu menoleh. “Sendirian aja, Mbak. Perlu tumpangan?” Anggun melebarkan matanya ternyata yang ada di hadapannya adalah Kevin. Pria itu tersenyum tanpa merasa bersalah. Anggun menggerutu dalam hati, setelah seharian tidak diganggu oleh Kevin dan sekarang pria itu tiba-tiba muncul begitu saja. “Aku sudah pesan ojol.” Kevin tetap tersenyum meski Anggun menjawab dengan ketus. “Jam segini pasti susah cari drivernya, mending sama aku aja. Emangnya kamu belum lapar?” Anggun terdiam mencoba mempertimbangkannya. Bukan hanya lapar, tapi kakinya juga sudah pegal berdiri terus. Dengan terpaksa ia meraih helm yang diberikan oleh Kevin. “Jangan senang dulu, aku terima ini kare-” “Iya aku tahu,” ujar Kevin memotong ucapan Anggun. Sebelum Anggun naik ke motor Kevin melepaskan jaket dan memakaikan pada perempuan itu. “Anginnya kenceng, aku nggak mau kamu sakit,” ujar Kevin cepat ketika Anggun ingin menolak. Setelah Anggun naik, Kevin mengendarai motor meninggalkan jalan raya yang dipadati kendaraan. Kevin menari tangan perempuan itu supaya berpegangan pada pinggang. “Modus banget kamu, Vin!” “Aku nggak mau kamu jatuh, apalagi duduk kamu miring gitu.” Anggun memang duduknya miring karena mengenakan rok selutut. Perempuan itu malas menggantinya karena berpikir besok weekend. Anggun mengernyitkan dahi ketika Kevin berhenti di tenda pecel lele. “Kamu mau ngapain?” tanya Anggun yang masih belum turun. “Mau mandi. Mau beli makan dong, Mahes sayang.” Anggun mencubit pinggang Kevin ketika pria itu memanggilnya ‘sayang’. Tanpa terasa kedua pipinya merona. Beruntung sekarang malam hari dan pencahayaan tidak terlalu terang sehingga tidak terlihat rona wajah perempuan itu. “Awh sakit, Mahes.” “Lebay.” Anggun turun dari motor begitu pula dengan Kevin. Mereka berdua memesan pecel lele untuk dibawa pulang. Setelah pesanan selesai Kevin langsung mengendarai motor ke kosan Anggun. “Sampai deh,” ujar Kevin ketika mereka tiba di parkiran kosan. Anggun turun dan memberikan helm pada pemiliknya. Ia mengernyitkan dahi ketika melihat Kevin ikut turun dari motor. “Kamu ngapain turun?” “Emangnya kamu nggak mau ngajak aku masuk? Aku capek lho abis dari kampus langsung ke sini.” “Ndak nanya tuh! Lagian siapa yang suruh kamu nganterin aku.” “God! Kenapa aku punya teman seperti kamu!” ujar Kevin sambil mendengkus. Anggun hanya mengedikkan bahu. “Mahes, aku masuk ya, please. Aku juga mau makan, laper.” Kevin memohon pada Anggun yang masih memperlihatkan wajah datarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN