Anggun menatap datar Kevin yang sedang melahap pecel lele dengan lahap di kamarnya. Pria itu selalu memiliki seribu cara supaya ia tidak dapat menolaknya. Kali ini Kevin menggunakan alasan sudah tidak dapat menahan buang air kecil sehingga Anggun memperbolehkan pria itu menggunakan kamar mandi. Seharusnya sudah dapat ditebak jika itu bagian dari rencananya. Namun, ketika melihat ekspresi Kevin yang pandai bersandiwara membuat perempuan itu tidak tega.
Dengan kesal Anggun meraih gelas yang berisi air putih untuk diteguk isinya. Ekor matanya masih melirik Kevin yang tidak terganggu sama sekali masih fokus dengan makanannya.
“Sudah berapa abad kamu ndak makan, Vin?”
Bukan pertanyaan yang diajukan oleh Anggun melainkan seperti sebuah cibiran ketika melihat Kevin makan seolah tidak bernapas.
“Aku nggak tahu kalau kamu bisa melawak, Mahes,” jawab Kevin yang tidak tersinggung sama sekali.
“Ya karena kita ndak sedekat itu. Cepat selesaikan makannya setelah itu kamu pulang.”
Kevin tidak menanggapi ucapan Anggun. Setelah selesai makan Kevin mencuci tangan dan membersihkan bekas makannya.
“Kamu masih marah karena tadi malam? Aku minta maaf kemarin aku lupa,” ujar Kevin menatap mata Anggun yang masih makan.
Anggun tahu pasti Kevin lupa. Ia menghela napas lalu kembali minum air putih.
“Aku ndak berhak marah sama kamu. Aku cuma kecewa kamu ndak kasih kabar. Kalau tahu kamu ndak datang kan aku bisa langsung pulang ndak perlu nunggu satu jam lebih sampai malu sama karyawannya.”
“Maaf.”
Anggun mengangguk. Tidak mungkin juga ia meminta Kevin menjelaskan kenapa bisa terlambat karena sudah dipastikan alasannya adalah Cristal, selain itu juga di antara mereka tidak memiliki hubungan apa pun.
“Jadi kita bisa kembali berteman? Kamu sudah memaafkan kesalahanku, kan?” tanya Kevin dengan senyum yang mengembang.
“Ndak tahu.”
“Kok begitu kamu, Mahes.”
“Teman kamu banyak bukan cuma aku. Kalau hanya kehilangan satu ndak ngaruh, toh?”
Bukan jawaban seperti ini yang Kevin inginkan. Meski ia harus mengemis maaf dari perempuan itu selama mungkin akan dilakukan yang terpenting tidak putus hubungan pertemanan mereka. Pria itu sudah nyaman didekat Anggun.
Sejak melihat perempuan itu ada yang membuat ia tertarik entah itu Kevin belum menemukan. Hanya saja untuk saat ini merasa nyaman. Rasa itu tidak ditemukan di teman perempuannya yang lain.
“Nggak masalah kalau kamu ketus terus sama aku yang penting jangan putuskan persahabatan kita.”
Anggun menanggapi ucapan Kevin hanya dengan gumaman yang tidak jelas.
“Mahes.”
“Iya, iya terserah kamu aja, Vin.”
Kevin tersenyum tipis, sedangkan Anggun hanya memutar kedua bola matanya jengah. Perempuan itu menatap Kevin, ada yang mengganggu pikirannya, tapi ragu untuk mengutarakan.
“Ada apa?” tanya Kevin yang sadar tengah ditatap oleh Anggun.
“Kamu … suka sama Cristal?” tanya Anggun dengan ragu.
“Kalau ndak mau jawab juga ndak masalah,” imbuh Anggun dengan cepat. Namun, pria itu justru tersenyum.
“Iya. Kelihatan banget ya?”
“Iya.”
Anggun terpaksa senyum dan tidak bertanya lagi, tidak mau mencari tahu bagaimana hubungan Kevin dengan Cristal lebih dalam karena takut hatinya akan sakit.
Tuhan, apa aku benar-benar mencintai Kevin? Tapi ndak mungkin, aku yakin masih mencintai mendiang suamiku.
Anggun bergelut dengan pikirannya sendiri. Bahkan ia tidak sadar Kevin sejak tadi memperhatikannya. Tanpa sadar perempuan itu berkali-kali menghela napas. Meski menyangkal, tapi Anggun yakin memang menaruh perasaan pada pria yang ada di hadapannya. Meski tidak tahu seberapa besar.
Hari berlalu begitu cepat. Tanpa terasa sudah satu bulan sejak Anggun keguguran. Ia dan Kevin semakin jarang bertemu karena kesibukan pria itu. Meski begitu Kevin tetap mengirimkan pesan bahkan terkadang melakukan panggilan sebelum tidur sudah mirip seperti pasangan kekasih yang membuat Anggun semakin terbawa perasaan.
Wajar, perempuan mana yang tidak terbawa emosi ketika ada yang mendekatinya. Bahkan keduanya pernah menjalin cinta satu malam. Rasa yang timbul di hati Anggun hadir begitu saja tanpa diminta.
“Pacaran kagak di baperin mulu tiap malam!” ujar Leoni yang malam ini tidur dengan Anggun.
Anggun langsung mengubah mode silent di ponselnya ketika mendengar ucapan Leoni.
“Sst. Kan udah aku bilang kamu jangan komen apa pun, Le. Kalau Kevin dengar bagaimana?”
“Bagus dong. Kalau sama-sama suka ya pacaran jangan menjalin hubungan tanpa status, Anggun. Emang kamu nggak sakit hati kalau dia dekat atau jalan sama perempuan lain?”
“Sakit sih,” cicit Anggun sambil mencebikkan bibirnya.
“Nah itu! Udah gitu mau larang tapi nggak bisa karena status kamu bukan pacarnya.”
Anggun mendengkus. Memang benar yang dikatakan oleh Leoni. Namun, ia tidak tahu harus bagaimana.
“Lalu aku harus bagaimana?” tanya Anggun dengan lesu.
Leoni mengangkat bahu sambil bermain ponsel.
“Kamu suka sama Kevin? Jawab jujur, Anggun.”
“Entahlah aku ndak tahu. Yang jelas aku nyaman dekat dengannya. Terus ndak suka kalau dia dekat dengan perempuan lain.”
“Wajar sih. Apalagi Kevin boyfriend material banget makannya dulu aku suka tapi sekarang udah ada yang lain.”
Anggun menghela napas. Ia kembali mengganti menekan gambar mic yang ada pada ponselnya.
“Kenapa tadi mati, Mahes?” tanya Kevin karena tiba-tiba Anggun tidak bersuara.
“Aku lagi ngobrol sama Leoni tadi. Udah dulu ya, Vin, ada Leoni ndak enak.”
Anggun langsung mematikan panggilannya secara sepihak membuat Kevin terkejut di seberang sana. Sedangkan perempuan itu langsung mendapatkan tatapan tajam dari Leoni.
“Kenapa kamu bawa-bawa namaku?”
“Kan memang kamu ada di sini. Salahnya di mana?”
Leoni hanya dapat menggelengkan kepala. Ia yang sedang bermain game mengumpat karena kalah.
“Anggun, mending kamu tes dia apa Kevin punya rasa yang sama kayak kamu.”
Anggun terkekeh mendengar ucapan Leoni. Perempuan itu menggelengkan kepala karena sangat yakin jika Kevin tidak memiliki perasaan yang sama. Ya, alasannya karena pria itu telah memiliki tambatan hati.
“Itu ndak mungkin, Le. Kevin menyukai gadis lain. Yang pasti gadis itu baik bahkan jauh lebih baik dariku yang janda.”
“Hey! Kamu pikir seorang janda memiliki nilai buruk? Big no, Anggun. Bagiku hanya orang yang berpikiran sempit saja yang mengecam janda itu buruk. Bangkit, Anggun, buktikan pada mereka kalau kamu itu berbeda.”
Anggun menatap Leoni. Sejauh ini temannya hanya Leoni.
“Tapi aku belum mau memikirkan tentang percintaan dulu, Le. Aku harus bayar hutang kedua orang tuaku dan selain itu juga baru dua bulan suamiku meninggal rasanya ndak baik kalau aku sudah memikirkan pria lain.”
Menjadi janda saja sudah mendapatkan pandangan buruk dari masyarakat apalagi kalau sekarang harus memikirkan pria lain padahal kuburan mendiang suaminya masih basah yang ada akan mendapatkan cibiran dan gelar janda gatel.
***
Anggun naik ke lantai dua puluh satu di mana CEO berada. Ia mengantarkan beberapa berkas ke meja sekretaris atasannya.
“Permisi. Pak Denis, saya mengantarkan berkas permintaan Anda tadi,” ujar Anggun begitu tiba di lantai dua puluh satu.
“Terima kasih, Anggun.”
“Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya permisi.”
Baru saja Anggun hendak memutar tubuhnya tiba-tiba Denis menahan tangan perempuan itu.
Anggun langsung melepaskan tangan pria itu.
“Maaf, Anggun. Aku nggak bermaksud lancang. Apa siang nanti kita bisa makan bersama?”
Mereka menoleh ketika ruangan Kevin terbuka dan keluar pria itu.
“Boleh,” jawab Anggun singkat, kemudian meninggalkan kedua pria itu yang berbeda ekspresi wajahnya.
Denis dengan raut wajah bahagia sedangkan Kevin menekuk wajahnya.
“Kerja yang bener jangan pacaran aja!” ucap Kevin dengan ketus pada Denis.
“Siap, Pak.”
Denis tidak tahu kenapa wajah Kevin yang biasanya ramah kini bermuram durja sudah seperti pemimpinnya yang tidak pernah menyapa karyawan. Sementara Kevin selalu mengepalkan tangan bahkan ketika ia masuk ke dalam ruangan Abizar. Entah kenapa tidak suka melihat kedekatan Anggun dengan Denis.
Jam makan siang yang ditunggu semua karyawan akhirnya tiba. Sesuai janji Anggun pada Denis, perempuan itu memang makan bersama. Namun, bukan makan bersama seperti ini yang diinginkan Denis karena Anggun mengajak Leoni.
“Nggak masalah kan kalau saya mengajak Leoni, Pak?” tanya Anggun ketika mereka di lobby.
“Emm-”
“Aku makan sendiri aja deh, Anggun. Kalian duluan aja berdua,” ujar Leoni merasa tidak enak pada Denis.
“Tap-”
“Lebih baik makan bersama-sama daripada sendiri, Leoni. Sebaiknya kamu temani Anggun makan bersama Denis. Aku juga mau ikut kalian,” ujar Kevin yang tiba-tiba sudah ada di belakang Anggun.
Kevin menyeringai pada Denis yang wajahnya sangat masam.
“Bilang aja cemburu. Belum jadi pacar aja posesif,” gumam Leoni.
Gadis itu meringis ketika Anggun menginjak kakinya.
“Bagaimana, Pak Denis. Atau mau dibatalkan lain kali aja?” tanya Anggun yang menyadari ekspresi Denis.
“Nggak apa-apa. Next time kita dinner berdua.”
Kevin langsung melebarkan kedua bola matanya. Sedangkan Anggun hanya dapat menggaruk tengkuknya.