Kevin tidak dapat menyembunyikan senyumannya ketika melihat Denis gagal mengantarkan pulang. Setelah gagal makan siang berdua, Denis juga gagal pulang bersama Anggun karena perempuan itu sudah lebih dulu naik motor bersamanya, tentu dengan paksaan dan ancaman sebelum akhirnya naik ke motor. Kebetulan hari ini Kevin mengantarkan Abizar lebih cepat sehingga pria itu bisa dengan cepat tiba di kantor untuk menjemput Anggun.
"Bye, Denis. Jangan nangis ya," cibir Kevin dengan seringai di bibir pria itu membuat Denis mendengkus karena kalah cepat dari atasannya.
Ketika mereka baru selesai makan siang, Kevin mendengar Denis bergumam ingin mengantarkan Anggun pulang. Ia bersyukur karena Abizar pulang lebih cepat sehingga bisa mengantarkan Anggun pulang.
Anggun pamit pada Denis yang terlihat terpaksa tersenyum membuat perempuan itu merasa tak enak hati. Tentu saja karena Anggun sempat menyetujui pulang bersama sekretaris atasannya.
Kevin mengendarai motornya sambil tersenyum penuh kemenangan. Beruntung wajahnya tertutup helm, jika tidak bisa saja ada yang menyangka pria itu sudah gila.
“Kamu mau diajak date sama Denis?” tanya Kevin sedikit berteriak supaya Anggun dengar.
“Belum tahu. Lagi pula dia belum menentukan waktunya.”
“Aku sarankan sebaiknya tolak aja. Dia itu playboy!”
“Bukannya kamu yang playboy? Kamu dekat dengan semua perempuan, bukan? Aku lihat Denis ndak tuh.”
Kevin tergelak lalu mendengkus.Bagaimana ia bisa disebut playboy jika satu kekasih pun tidak punya. Niat ingin memprovokasi Anggun justru pria itu yang mendapatkan tuduhan tak berdasar.
“Mahes, apa kamu pernah dengar pepatah ‘don't judge a book by it’s cover’?”
“Tentu saja.”
“Nah kamu nggak boleh menuduh aku yang seperti itu. Mentang-mentang aku punya banyak teman kamu tuduh playboy padahal satu pacar pun aku nggak punya. Aku cuma berusaha friendly ke semua orang.”
“Kamu juga mengatakan Denis playboy, Vin. Bukankah sama saja? Jangan terlalu friendly pada semua orang apalagi pada perempuan. Bisa saja salah satu perempuan yang dekat dengan kamu baper.”
Termasuk aku yang sudah baper sama perlakuan kamu.
“Kamu lebih membela Denis yang baru bertemu daripada aku?” tanya Kevin dengan nada kecewa.
“Kita juga baru bertemu beberapa bulan.”
“Tapi kita selalu bersama dan-”
“Vin, fokus sama jalan aja. Aku belum mau mati.” Anggun memotong ucapan Kevin karena tidak ingin berdebat lebih jauh lagi dengan pria itu.
Kevin hanya dapat menghela napasnya pelan. Ia sendiri tidak tahu kenapa tidak suka jika Anggun dekat dengan pria lain. Apakah pria itu cemburu?
Cemburu? Masa iya gue cemburu. Yang gue cintai Cristal bukan Mahes, untuk apa cemburu?
Kevin menggelengkan kepala mengenyahkan isi pikirannya dan mencoba menyangkal perasaan sendiri. Ia sangat yakin di hati masih tersimpan nama Cristal.
Selama dalam perjalanan tidak ada yang bersuara lagi hingga tiba di kos Anggun. Perempuan itu turun dari motor dan melepaskan helm.
“Kamu ndak perlu posesif seperti itu padaku, Kevin. Hubungan kita hanya sahabat.”
“Aku tahu. Tapi aku nggak mau kamu sampai jatuh cinta pada orang yang salah. Denis cowok b******k yang suka mempermainkan perempuan. Aku cuma nggak mau melihat kamu terluka lagi,” ujar Kevin menatap sendu perempuan bermata hitam.
“Terima kasih, tapi aku bisa jaga diriku sendiri. Sekarang pulanglah, kamu juga perlu istirahat.”
Anggun tahu sahabatnya itu pasti kurang tidur karena mengerjakan tugas kuliah. Terlihat jelas dari kelopak mata pria itu yang menghitam seperti mata panda.
Kevin hanya mengangguk. Pria itu baru pulang setelah memastikan Anggun masuk ke dalam kos. Selama dalam perjalanan ia memikirkan setiap ucapan sang sahabat dan hampir saja menabrak orang yang sedang menyebrang. Kevin menghindar dan berakhir menabrak trotoar.
“s**t!” umpat Kevin ketika terjatuh dari motor.
Beruntung kepala menggunakan helm sehingga hanya lecet-lecet di telapak tangan dan kakinya. Ia berusaha bangkit hendak menghampiri motonya, tetapi tiba-tiba ada sebuah truk melaju kencang menabrak motornya.
“Sial!”
Kevin kembali mengumpat ketika motor kesayangannya terseret beberapa meter oleh truk bermuatan besar itu. Dengan kaki yang terpincang pria itu menghampiri motor yang berjarak cukup jauh. Ia tidak habis pikir kenapa sopir truk itu menabrak motor yang tidak berdosa.
“Mas, maafkan saya yang lalai dan mengantuk,” ujar sopir tersebut yang sudah turun.
Kevin mengepalkan tangannya. Jika bukan karena sopir tersebut sudah tua pasti akan meminta ganti rugi.
“Lain kali hati-hati, Pak.”
Kevin berlalu kemudian menghampiri motonya yang sudah tidak terbentuk. Ia menatap nanar motor kesayangannya. Bak sudah jatuh tertimpa tangga, itulah pepatah yang tepat untuk pria kelahiran Jakarta tersebut.
Keesokan paginya, Kevin datang ke kantor sendirian karena belum bisa mengemudikan mobil efek kaki yang masih sakit. Ia melirik Anggun yang sedang menundukan kepala menyambut kedatangannya.
Kevin mendesis ketika merasakan kakinya nyeri saat berjalan. Meski sakit pria itu memaksa untuk berangkat ke kantor walau tidak dapat menjemput atasannya.
“Kenapa kamu bisa seperti itu, Vin?” tanya Abizar ketika Kevin berada di ruangannya.
“Biasa, Bos.” Kevin memperlihatkan deretan giginya. Ia tahu jika mertua dari sepupunya tahu maka urusannya akan panjang dan Kevin tidak mau itu terjadi mengingat sopir truk itu sudah tua.
“Lain kali hati-hati dong. Kalau begini bukan cuma kamu saja yang repot, saya juga repot karena tidak ada yang bisa diandalkan.”
“Ada Denis, Bos.”
“Ck! Dia kalau ikut meeting yang di lirik perempuan. Matanya jelalatan.”
Kevin terkekeh. Itulah kenapa Abizar malas meeting di luar bersama dengan Denis meski kinerja pria itu cukup baik. Namun, hari ini tidak bisa menemani atasanya.
“Sudah dibawa ke rumah sakit?”
“Belum, Bos.”
“Ck! Begini nih kalau jomblo tidak ada yang ngingetin dan perhatiin,” cibir Abizar membuat Kevin menggaruk kepalanya.
“Bagaimana hubungan kamu dengan Anggun? Jangan mainin anak orang, Vin.”
“Tidak, Bos. Kami masih berteman.”
Abizar menaikan satu alisnya. “Teman? Padahal kalian sangat dekat. Apa kamu masih mencintai Crsital?”
Kevin hanya dapat mengulum senyumannya.
“Astaga! Aku tidak mau berkomentar soal perbedaan umur kalian, tapi Cristal masih sekolah.”
“Orang tuanya sudah setuju, Bos. Aku bisa menikahinya ketika dia kuliah nanti. Lagi pula aku belum berniat menikah dalam waktu dekat ini.”
Abizar mengangguk. Ia juga tidak mau ikut campur urusan asistennya.
Setelah pamit Kevin keluar dari ruangan Abizar. Ia berdecak ketika melihat Denis tersenyum seolah mengejek padanya.
“Kenapa?” tanya Kevin merasa risih ditatap oleh pria itu.
“Nanti sore gue pulang sama Anggun dong. Makan siang juga sama dia,” ujar Denis sambil menarik satu sudut bibirnya mengejek Kevin.
Kevin mengepalkan tangannya. Anggun benar-benar tidak menuruti ucapannya.
“Jangan terlalu berharap padanya. Dia nggak mungkin cinta sama cowok playboy kayak lo!”
“Let’s we see. Kalau lo cemburu ngomong aja, Vin, nggak usah ditutupi. Anggun emang secantik itu jadi nggak mungkin mau sama lo.”
“Cih! Jangan terlalu percaya duru, Bro! By the way lo nanti ikut sama Pak Abizar meeting dan makan siang di luar. Jadi, jangan bermimpi lo makan siang berdua dengan Mahes.” Kevin menyeringai, kemudian meninggalkan Denis yang sednag menggerutu karena lagi-lagi harus gagal pergi bersama Anggun.
Kevin menutup pintu ruagan dengan keras sehingga membuat Denis terperanjat. Di balik pintu Kevin mengepalkan tangan hingga telapak tangan yang terluka berdarah.
“Cih! Cemburu? Untuk apa gue cemburu dengan kunyuk model Denis? Argh. Sial banget sih. Kenapa gue nggak rela kalau Mahes pergi dengan kunyuk itu?”
Kevin langsung menuju kursi kerja dan merogoh ponsel mengirimkan pesan pada Anggun. Sungguh ia benar-benar tidak rela jika perempuan itu bersama dengan Denis.
Kevin: Nanti pulangnya kamu beneran sama Denis?
Kevin berdecak ketika Anggun tidak langsung membalas pesannya, meski tahu perempuan itu sedang sibuk. Tentu saja sibuk karena ini jam kerja dan ia saja yang tidak sabaran.
Pria itu meraih gagang telepon menghubungi resepsionis. Namun, yang mengangkat adalah Leoni.
“Katakan pada Anggun, baca pesan gue dan cepet balas!”
Belum sempat Leoni menjawab Kevin sudah menutup panggilan. Pria itu terus saja menatap ponsel yang memperlihatkan layar gelap.
"Ayo Mahes, jangan buat hatiku nggak tenang," gumam Kevin masih menatap ponselnya berharap Anggun segera membalas pesannya. Namun, apa yang diharapkan sia-sia karena sampai lebih dari tiga puluh menit tidak ada balasan pesan.
Kevin menghela napas lalu meletakkan ponsel di laci. Ia memegang dadanya yang selalu berdebar ketika memikirkan perempuan satu itu.
"Gue yakin masih mencintai Cristal. Lalu perasaan apa ini?"