Bab 14. Posesif

1116 Kata
Kevin mengepalkan tangannya ketika melihat Anggun masuk ke dalam mobil Denis. Pesan yang ia kirimkan pada Anggun benar-benar tidak dibalas hingga sekarang. Sakit, itulah yang pria itu rasakan kini, lebih sakit daripada melihat Cristal bersama pria lain. Mata pria itu memerah ketika melihat Denis memasangkan safety belt pada Anggun sehingga membuat jarak kedua orang itu sangat dekat. Dadanya bergemuruh menahan gejolak amarah yang bisa meledak kapanpun. Tiba-tiba Kevin teringat akan ucapan Anggun, kemudian mendengkus. “Posesif? Kamu bilang aku posesif, Mahes? Iya aku memang posesif dan akan aku tunjukan seberapa posesifnya aku,” gumam Kevin lalu pria itu melangkahkan kaki panjangnya menghampiri mobil Denis. Kevin membuka pintu mobil dengan keras membuat dua orang di dalamnya terkejut. Terlihat sangat jelas amarah pada wajah Kevin. Rahang kokohnya mengeras. “Keluar!” desis Kevin dengan tatapan tajam pada Anggun. Anggun terlihat kebingungan melihat mimik wajah Kevin. Baru kali ini pria itu terlihat marah yang ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya. “Tapi aku mau pulang sama Denis.” “Keluar sekarang atau aku paksa, Mahes!” Anggun menelan ludahnya kasar. Beruntung mereka berada di basement sehingga tidak banyak karyawan. “Apa-apaan kamu, Kevin! Aku sudah janji pulang dengan Denis. Kamu ndak bisa mengatur atau melarangku lagi!” “Bro, Anggun benar, kalian cuma berteman.” Denis menarik satu sudut bibirnya memperlihatkan seringai karena Anggun menolak. Kevin mengabaikan Denis. Ia membungkukkan badannya dan segera melepaskan safety belt yang dikenakan Anggun. “Kevin! Jangan kurang ajar kamu.” “Aku nggak peduli. Kamu harus pulang sama aku.” Mau tidak mau Anggun harus menuruti Kevin karena tidak ingin terjadi baku hantam di antara mereka berdua terlebih sekarang masih berada di lingkungan kantor. Ia tidak mau membuat malu dan masalah. “Denis, maaf ya. Kita bareng lain kali aja,” ujar Anggun dengan rasa tidak enak. Ia bergegas turun sebelum Kevin lebih murka dari ini. Denis hanya dapat mencengkeram erat kemudi dan mengeraskan rahang. Tetap mempertahankan Anggun pun percuma karena status mereka hanya rekan kerja. Awas aja Kevin, gue pasti bisa dapetin Anggun. Denis mengemudikan mobilnya meninggalkan dua orang itu dengan rasa jengkel di hati. Sedangkan Kevin diam-diam menghela napas setelah berhasil membuat Anggun batal pulang bersama Denis. “Mau sekarang atau besok-besok kamu tetap nggak boleh pulang bersama Denis. Aku nggak bohong soal dia playboy, Mahes.” “Lalu kalau dia playboy kenapa? Pulang bersama bukan berarti kita pacaran, kan? Kamu kenapa sih posesif banget?” “Iya emang posesif dan aku nggak nyesel.” Anggun memutar kedua bola matanya jengah. Ia berlalu meninggalkan Kevin yang berjalan dengan tertatih. Perempuan itu berdecak ketika hatinya merasa tidak tega meninggalkan Kevin sehingga ia kembali menghampiri pria itu. “Kenapa bisa begini? Perasaan kemarin masih baik-baik saja,” tanya Anggun dengan sedikit ketus sambil memapah Kevin. “Semua karena kamu.” Anggun langsung menoleh. Bagaimana bisa karenanya sedangkan sejak pulang kerja hingga pagi perempuan itu sama sekali tidak bertemu dengan Kevin. Ia berdecak, kemudian menyentak tangan Kevin hingga hampir membuat pria itu tersungkur. “Bagaimana bisa karena aku?” tanya Anggun sambil bertolak pinggang menatap tajam pria itu. Kevin menggaruk tengkuknya. Tidak mungkin ia katakan selama dalam perjalanan pulang terus memikirkan Anggun. Bukannya menjawab pertanyaan Anggun, Kevin justru merangkul pundak perempuan itu dan tidak berminat menjawabnya. “Ayo kita pulang. Aku sudah pesan taksi online.” Anggun mencebikkan bibirnya. Bukan ia tidak mau naik taksi online, tetapi perempuan itu tidak suka ketika Kevin mengabaikan pertanyaannya. Namun, Anggun tetap melangkahkan kaki sejajar dengan pria itu. Diam-diam Anggun melirik Kevin yang sesekali meringis menahan nyeri pada kaki. Sebenarnya ia begitu penasaran apa yang menimpa sang sahabat, tetapi enggan bertanya untuk saat ini karena masih kesal pada pria itu. Berbeda dengan Anggun, Kevin justru senang karena Anggun tidak jadi pulang bersama dengan Denis. Ia merasa harus berhati-hati dan tidak boleh kecolongan lagi. Denis harus diawasi. Kevin yakin Denis tengah menyiapkan rencana untuk kembali mendekati Anggun. Pria seperti bawahannya itu tidak mungkin menyerah apalagi padanya yang notabene memiliki usia dibawah Denis. Kevin tersenyum geli ketika sadar telah mencintai Anggun, perempuan yang usianya lebih tua lima tahun. Tidak pernah terpikirkan akan menyukai perempuan yang lebih dewasa darinya. Ya, pria itu kini sadar telah menyukai Anggun. Hanya saja belum tahu seberapa besar perasaannya untuk wanita itu dan apakah masih memiliki rasa cinta pada Cristal. Ia harus memastikan perasaannya dulu. Ketika tiba di lobby Kevin membuka pintu taksi untuk Anggun, kemudian ia naik setelah perempuan itu. *** Anggun hanya dapat mencebikkan bibir ketika melihat Kevin merebahkan tubuh dengan nyaman di atas ranjangnya. Ia pikir pria itu akan pulang ke apartemen setelah mengantar. Namun, siapa sangka Kevin mampir dan dengan seenaknya menguasai ranjang padahal Anggun juga ingin beristirahat. "Kenapa kamu ndak pulang aja, Vin? Aku juga mau istirahat tahu." "Sini." Kevin menepuk sebelahnya yang masih kosong. "Ndak. Nanti kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan!" Kevin terkekeh. Ia bergeser supaya Anggun bisa naik ke ranjang. "Udah lebar tuh. Kamu kan kecil menang tinggi doang. Janji nggak ambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi kalau diizinin ya bolehlah tipis-tipis." Kevin menaik turunkan kedua alisnya membuat Anggun menggerutu lalu mengambil bantal yang ada di bibir ranjang untuk dilemparkan pada pria itu. "Sinting!" Kevin tertawa terbahak melihat wajah kesal Anggun. "Eits! Sekarang kamu ngomongnya kasar ya. Belajar dari siapa? Dari Leoni?" Kevin memicingkan mata sedangkan Anggun hanya mengedikkan bahu. Perempuan itu memilih duduk di depan di karpet sambil nonton tv dan bersandar pada ranjang. Perutnya lapar, tapi tidak mungkin keluar dan meninggalkan Kevin sendirian. “Aku sudah delivery buat makan malam. Pasti kamu lapar kan?” Tanpa menoleh Anggun mengangguk. Ia memang lapar. Sebenarnya sejak siang tadi belum makan karena pekerjaan yang banyak. Bahkan Anggun mengabaikan pesan dari Kevin karena pekerjaan itu bukan karena sengaja. Anggun menoleh ke belakang karena Kevin tepat di belakangnya. Ia melihat Kevin sedang mengeluarkan laptopnya. “Apa sebanyak itu pekerjaanmu, Vin? Sampai di sini juga masih kerja.” “Iya. Aku harus mengerjakan proyek penting dan tugas kuliah. Kamu nggak mau aku tinggal kerja ya?” Kevin mencoba menggoda Anggun dan perempuan itu hanya berdecak. “Cepetan kerjain setelah itu kamu pulang.” “Ck! Kamu ngusir aku?” “Iya.” “Kalau gitu aku mau tidur di sini.” Anggun hanya menatap tajam Kevin yang sedang memperlihatkan deretan gigi rapinya. Ia tidak menjawab lagi karena berdebat dengan pria itu tidak akan ada berhentinya. Perempuan itu bergegas keluar kamar ketika kurir delivery makanan datang. Setelah tiba di kamar Anggun langsung membuka makanan karena sudah sangat lapar. Ia berterima kasih pada Kevin karena pria itu begitu pengertian. “Makan pelan-pelan, aku juga nggak bakal minta.” “Aku laper banget.” Kevin hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Sahabat? Tentu saja lebih. Baik bagi Kevin maupun Anggun sama-sama memiliki perasaan yang masih dipendam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN