Bab 15. Kembali Kecewa

1265 Kata
Kevin tidak berhenti tersenyum ketika mengingat tadi malam di rawat oleh Anggun. Perempuan itu membersihkan luka dan menggantikan perbannya. Bukan hanya hanya itu, bahkan Anggun mau menemani bekerja walau ia sudah meminta untuk beristirahat lebih dulu. "Siapa yang bisa istirahat ketika ada tamu di kamarnya. Apalagi tamu itu seorang pria." Akan tetapi, Kevin tidak menggubris ucapan Anggun. Dengan percaya dirinya ia menganggap itu sebagai bentuk perhatian dari perempuan itu. Kevin melihat ponselnya berbunyi notifikasi pesan masuk. Ia langsung mengambil benda pipih tersebut ketika melihat nama Anggun tertera di layar. Anggun: Kevin! Kembalikan dompetku. Kevin menarik bibirnya. Memang tadi malam sebelum pulang pria itu mengambil dompet Anggun diam-diam dan hanya meninggalkan kartu identitas saja. Waktu berangkat kerja ia yang memesankan taksi online, bahkan untuk sarapan Kevin yang membeli. Kevin: Ambil ke sini kalau kamu mau. Anggun: Cih! Awas kamu, Kevin! Kevin: Iya, Sayang, aku awasin. Kevin meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Ia membayangkan bagaimana ekspresi Anggun saat ini, yang jelas pasti perempuan itu sedang berang. Tidak ingin berlarut dalam percintaan, Kevin memutuskan untuk memulai pekerjaannya dengan semangat meski belum bertemu dengan Anggun. Sekarang menggoda perempuan itu menjadi salah satu hobinya dan menaikan suasana hati. Kevin menghela napasnya kasar ketika mendapatkan panggilan telepon dari ayahnya. "Halo, Ayah." "Apa kamu tetap akan bekerja di sana, Vin? Kamu bisa memimpin perusahaan Ayah." "Dan berebut dengan Kalingga? Aku nggak mau Ayah. Biar anak kesayanganmu itu yang akan memimpin. Aku masih bisa hidup tanpa harta darimu." "Kamu juga berhak atas perusahaan Ayah." "Tapi aku nggak mau, Ayah. Biarkan anak gundik itu yang jadi pengganti Ayah dan jangan pernah menghubungiku lagi." "Kevin!" Kevin langsung mematikan panggilan dari Ardhana Pramudita–sang ayah. Suasana hati Kevin langsung berubah buruk ketika mendapatkan panggilan dari Ardhana. Kevin Pramudita, putra kedua dari Ardhana Pramudita dari istri pertamanya. Kevin tidak akan pernah mau menerima bantuan sepeserpun dari ayahnya apalagi memimpin perusahaan pria paruh baya itu. Semua berawal dari sang ayah yang memiliki selingkuhan. Lima tahun lalu yang Kevin dan ibunya baru mengetahui jika ayahnya berselingkuh. Karena itulah ia sangat membenci pria itu dan istri keduanya. Kevin menarik napas, kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Ia tidak mau ucapan ayahnya mengganggu pekerjaan yang masih banyak. Sejak dulu Kevin memang mandiri. Meski sang ayah orang kaya, tetapi ia tidak pernah mengandalkan kekayaan keluarganya. "Sial!" Kevin meletakkan pulpennya dengan kasar ke atas meja. Sementara itu, Anggun yang sedang kesal pada Kevin tetap harus profesional bekerja. Ia hanya dapat mengurut dadanya mencoba bersabar menghadapi sikap Kevin yang semakin menjadi walau terkadang merasa tersentuh dengan perhatian pria itu. “Selamat siang, Nyonya,” sapa Anggun ketika melihat istri CEO masuk. “Anggun, tolong bantu bawakan ini ya,” ujar Elaina menyodorkan beberapa paperbag berisi makanan padanya karena perempuan paruh baya itu menggendong sang cucu. “Baik, Nyonya.” Anggun mengikuti langkah kaki Elaina menuju lantai dua puluh satu. Ia tersenyum ketika melihat bayi yang digendong oleh Elaina yang tidak lain adalah Elmier. Rasanya Anggun ingin memeluk dan menggendong bayi itu karena begitu merindukannya. Namun, ia tidak seberani itu jika Elmier bersama dengan Elaina. Jika Elmier digendong oleh Vlora, Anggun masih memiliki keberanian untuk menggendong bayi itu. Begitu tiba di depan ruangan CEO, Anggun masuk mengikuti wanita itu. Ia melirik pada Kevin yang sedang berdiri di depan Abizar. “Sayang, kenapa nggak bilang kalau kamu mau ke sini?” tanya Abizar sambil menyambut sang istri. Anggun menunduk tidak berani melihat atasannya yang sedang memeluk sang istri. Namun, ekor mata masih melirik Kevin. Hampir saja Anggun lupa meletakkan paper bag di tangan. Ketika ia sedang kebingungan mencari tempat untuk barang-barang itu, Kevin mendekatinya. “Sini barang-barangnya. Kamu kembali ke bawah,” ujar Kevin dan Anggun hanya mengangguk, kemudian pamit pada atasannya. Sebenarnya ia merasa ada keanehan pada wajah Kevin yang tidak biasanya memperlihatkan wajah murungnya. Namun, ia masih kesal dan enggan bertanya. “Kenapa tadi ndak sekalian ambil dompet,” ujar Anggun menggerutu di dalam lift. Perempuan itu menghela napasnya kasar, kemudian keluar dari lift menuju meja kerjanya. Dengan kasar Anggun menjatuhkan bokongnya ke kursi membuat Leoni terkejut. “Sialan kamu, Anggun, bikin aku kaget!” “Sorry, Le. Aku lagi kesel banget. Dompetku masih sama Kevin.” “Ngapain dibikin pusing. Kamu tinggal minta aja uang sama pacarmu itu.” “Ck! Kevin bukan pacarku.” “Tapi udah kayak pacarmu. Kalau dia nggak nembak kamu, mendingan confess duluan deh.” “Aku cewek masa ngomong duluan. Mau ditaruh di mana harga diriku? Di dengkul? Malu tahu, apalagi jelas dia cinta sama Crystal.” Anggun meletakkan kepala di atas meja menatap Leoni. “Lagian aku umurnya lebih tua dari Kevin. Mana mungkin dia suka sama aku. Belum lagi pandangan orang tuanya, mereka juga ndak akan merestui,” imbuh Anggun dengan sendu. Sekalipun Kevin menyukainya dan berakhir mereka menjadi sepasang kekasih banyak sekali yang dipertimbangkan oleh Anggun. Selain itu juga Kevin masih muda dan belum lulus kuliah. Masa depan pria itu masih panjang dan tentunya banyak yang ingin dicapai. “Kamu mikirnya terlalu jauh, Anggun. Cinta ya katakan dulu.” “Untuk apa aku katakan kalau ujung-ujungnya kami ndak bisa bersatu, Le. Lebih baik aku pendam sendiri sebelum rasa ini tumbuh semakin besar. Mungkin saja orang tuanya malu punya calon menantu janda.” Leon hanya berdecak mendengar ucapan Anggun. Ia tidak tahu jika sahabatnya itu berpikirnya sudah sejauh itu. “Kata kamu Kevin suka sama Cristal. Emang perempuan itu cantik banget? Cantikan mana sama kamu?” “Pertanyaan macam itu. Cantikan Criytal dan dia imut, lucu. Usianya kira-kira sekitar lima belas atau enam belas tahun, masih sekolah menengah atas.” “Apa!” Anggun memukul pelan lengan Leoni yang sempat berteriak takut menarik perhatian orang lain. “Sorry kelepasan. Gila! Kevin sudah gila! Masa suka sama yang di bawah umur. Mana masih sekolah. Mendingan suka sama kamu lha.” “Aku juga beda lima tahun sama dia, Le. Mana tua aku yang ada dia ilfeel.” “Ck! Kamu bukan tua, tapi dewasa. Lagi pula muka kamu nggak kelihatan umur dua puluh lima.” “Bisa banget ngomongnya. Mau minta di traktir ya? Oh tidak bisa, dompetku sama Kevin.” “Kamu mah negatif thinking mulu. Nggak habis thinking aku sama kamu.” “Lebay.” Leoni hanya mengedikkan bahu. Anggun melihat ponsel ketika mendapatkan notifikasi pesan dari Kevin. Leoni yang penasaran langsung meliriknya. “Ciee yang diajak pulang bareng ‘Ayang’.” Anggun tidak menanggapi ucapan Leoni. Ia lebih memilih membalas pesan pria itu. Ketika sore hari tiba, Anggun menunggu Kevin di depan lobby hingga pukul enam lewat. Namun, pria itu tak kunjung datang. Anggun mengeratkan cardigannya karena terkena terpaan angin. Suara guntur bergemuruh dan hujan lebat membuat suasana menjadi lebih mencekam, terlebih hanya ada satu security di lobby. Berkali-kali Anggun menghubungi dan mengirimkan pesan pada Kevin, tetapi tidak ada jawaban dan balasan. “Tunggu sebentar lagi deh, sambil nunggu hujan reda,” gumam Anggun ketika melihat jam menunjukan pukul enam lewat tiga puluh menit. Anggun memutuskan duduk di kursi tunggu. Ia masih memeluk tas di dadanya berharap lebih hangat karena angin semakin kencang. Perempuan itu menatap daun-daun yang terombang-ambing oleh kencangnya angin malam ini. Anggun berharap hujan kali ini tidak mendatangkan bencana. Perempuan itu kembali mengecek ponselnya dan tidak ada notifikasi apa pun dari Kevin. Ia berdiri memutuskan pulang ketika melihat jam sudah pukul tujuh lewat. “Kevin, Kevin. Kalau ndak niat nganter pulang seharusnya ngomong aja,” gumam Anggun dengan kecewa. Perempuan itu tidak tahu harus pulang menggunakan kendaraan apa. Menggunakan busway tidak mungkin karena kartunya tertinggal di dompet. Satu-satunya pesan taksi online, tetapi sejak tadi tidak ada yang mengambil orderannya. “Mau saya antar, Nona?” Anggun menoleh, kemudian mengernyitkan dahinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN