"Kamu sudah buat saya marah Sin," tukas saya. Kemudian saya menghidupkan mobil dan melaju kencang. Sintia masih membungkamkan mulutnya. "Aku selalu menjaga hati aku hanya untuk satu perempuan saja dan itu bukan kamu." Mobil saya melaju dengan kecepatan yang tinggi dan itu sengaja saya lakukan. "Hanya satu kesempatan Roma untukku. Kamu juga belum tentu tahu dia masih hidup dalam tragedi itu atau tidak." Aku melayangkan tatapan tajamku. Luapan amarahku yang selama ini tidak bisa menemukan Dien malah dipancing olehnya dan jangan salahkan jika kecepatan mobilku semakin tinggi. Dia benar-benar ketakutan. Sudah seharusnya begitu. "Roma!!! Kamu jangan gila! Kita bisa celaka," protesnya keras. "Kamu yang memulainya, Sin!" seruku tajam tanpa sekalipun memandangnya. Saya melihat dari spion mobil.

