Keesokan paginya saya terbangun dalam keadaan tubuh yang masih nyeri-nyeri. Saya tak dapat mampu untuk bangun. Tidak tahu ini sudah jam berapa, tapi cahaya matahari sudah menderang dari luar jendela kamar saya. Tapi yang jelas saya sudah terlambat masuk kelas. Saya harus berusaha bangun dari ranjang saya tapi baru saja bergerak sedikit, tubuh saya langsung sakit semua. Pintu terbuka dan bang Arif ternyata yang membuka pintu kamar ini. Kami saling bersitatap tapi saya hanya mengabaikan dia saja dan saya kembali berusaha untuk bangun lagi tapi bang Arif menghentikan saya dengan memanggil nama saya. Saya duduk dengan tidak terlalu tegak dan kedua telapak tangan menumpu di atas ranjang untuk menopang badan saya. Terdengar helaan napas darinya. Saya tidak menyadari kalau dia ternyata membawa ko

