BAB - 1
Surabaya, tahun-tahun masa orde baru....
"Roma! Roma! Roma!!! Tangi o. Gak iling pie saiki arep sekolah."
(Roma! Roma! Romaaa!!! Bangun kamu. Tidak ingat hari ini mau sekolah apa!?) Seorang ibu sekitaran umurnya sudah kepala tiga dengan punya satu anak lelakinya. Anak satu-satunya yang tiap pagi pasti menjadi penyebab bisingnya rumah yang diberi suara-suara panci yang dipukuli dengan centong kayu. Asal suara dari perabotan rumah tangga menjadi pertanda anak lelaki itu harus segera bangun dari mimpi-mimpinya sebelum ia terbangun dalam keadaan tubuh yang sudah basah nantinya.
"ROMA!" teriak sang ibu, Sri. Dengan kebayanya yang sudah basah campur keringat. Ia membenarkan selendang yang dipakaikan di kepalanya.
"AKHHHH!!!!" Roma anak itu memekik tiba-tiba saat dirasa ada pukulan keras yang melayang di bokongnya. Anak itu yang tadinya tertidur terlungkup, meringis, membenarkan posisinya jadi duduk dengan matanya masih sayup-sayup. Masih ingin tidur. "Turu neruss. Pak.mu ke ngeti. Awas golok nyambar nang gulumu."
(Tidur saja terus. Bapak kamu liat, siap-siap golok melayang ke leher kamu!) Mendengar ancaman yang sangat mengerikan itu, anak lelaki itu langsung membuka matanya dan melompat kasur. Dia lari terbirit-b***t menuju kali untuk mandi. Rumahnya tidak ada kloset untuk membuang air besar, maka itu dia dan sekeluarga biasa mandi di kali. Bukan hanya mandi, buang air besar, buang air kecil bahkan mencuci baju, pasti akan menuju kali untuk mendapatkan airnya.
"Akhhhh!!!" Roma berteriak kesakitan. Wajahnya memerah dan dibasahi oleh keringat. Ia meringis berkali-kali. Sepertinya ada masalah dalam perut Roma. Ia kesulitan untuk membuang kotoran itu. "Ah! Ibu harusnya sering-sering memasak sayur biar pencernaan aku lancar bukannya ikan asin terus setiap hari," keluh Roma menepuk jidat. Agak lelah berjongkok di balik batu kali yang tidak terlalu besar.
"HEIIIII ROMAAAA!!!!" Tiba-tiba seseorang meneriakinya. Roma kalang kabut takut ketahuan. Ia bisa malu nantinya. Ia celingak-celinguk ke kanan kiri ke belakang juga tapi tidak ada orang. "ROMAAA DI ATAS SINIIII!!!" teriak anak perempuan yang berada di atas jembatan yang letaknya tak jauh dari tempat Roma. Roma melotot secara lebar. Terkejut temannya ada di jembatan kayu sana bersama ibunya. Dia melambaikan tangannya ke Roma dengan wajah polos. "ROMAAA JOROKKKK!!!" Anak perempuan itu mentertawakannya. Roma mendengkus kesal. Ia menaikkan lagi celananya lalu berlari kencang dari sana.
"Dien, sudah ayo," ajak mamahnya.
"Mah, nanti Dien mau berangkat sekolah bareng Roma."
"Tidak usah," tolak mamahnya.
"Mah, Dien mohon. Mamah ini, lho, suka banget melarang-larang Dien," gerutu Dien sebal.
"Iyaudah terserah kamu aja. Sudah ayo cepetan. Nanti kamu terlambat sekolah." Dien baru pulang dari pasar menemani mamahnya yang berbelanja. Itu pun Dien sendiri yang memaksa ikut. Mereka pun segera berjalan cepat dengan memegang kresek di tangan kanan kiri.
* * * *
Bapaknya Roma, Suryono memakai topi lusuhnya yang biasa ia pakai selama bekerja sebagai kuli bangunan. Ia berkaca di cermin yang ukurannya tidaklah terlalu besar dan sedikit retak, lama ia memandangi dirinya. Wajah datarnya dan tak terlihat sama sekali aura rasa bahagia. "Wonge ra oleh dadi koyo koe, sur," gumamnya pelan pada seorang diri. Seolah ia memang tengah bicara pada dirinya sendiri.
(Dia tidak boleh jadi seperti dirimu, Sur)
Gebrakan dari luar kamarnya mengacaukan apa yang sedang dia pikirkan saat ini. "Ibuukkkkk!!! Ampunnnn Buukkk!!!!" Suryono menyibak gorden yang ada di ambang pintu kamarnya. Ia berdiri tegap dengan raut wajah tanpa ekspresi apapun yang ia tunjukkan. Seakan-akan ini sudah sarapan tiap harinya baginya. Menyaksikan istrinya mengejar anak lelaki satu-satunya dengan sapu yang ia siap memantek kepala anak itu. Roma berlari dan langsung sembunyi di belakang tubuh bapaknya. Istrinya, Sri berhenti di depan suaminya berusaha menarik Roma tapi ditahan sama suaminya. "Wes, sek esok. Suara.em bengak bengok kui lo krungu nganti ko omahe tonggo," celoteh suaminya dengan bicara bahasa Jawa. Logatnya sangat kental sekali.
(Sudah... masih pagi, suara kamu teriak-teriak itu kedengeran sampe rumah-rumah tetangga.) Di belakang sana Roma nahan supaya tidak ketawa. Sang ibu melotot tak terima.
"Pak, piye ibuk ga kesel. Roma iki lo ebek tugas pr sekolah tapi ora ngerjakno. Nilaine kui kan elek pak. Gelem dekne ra munggah kelas nehh setahun,"omel sang ibu yang pada akhirnya, bapaknya pun jadi ikut emosi mendengarnya.
(Pak, gimana ibuk nggak kesel. Roma ini, lho, ada tugas pr sekolah tapi tidak dikerjakan. Nilai dia itu, kan jelek Pak. Mau dia tidak naik kelas lagi setahun?)
"ROMA!" panggil bapaknya, tegas nada suaranya dan sedikit meninggi. Ada raut emosi yang ditampakkan dari sebelum ekspresi yang monoton. Terlihat gahar dan menyeramkan. Anak lelaki itu takut-takut berdiri di hadapan bapaknya. Dengan wajah tertunduk. Rambutnya tiba-tiba dijambak walau hanya sebentar kemudian badannya diputar dan didorong. "Ndang gage kerjakno. Kene lagek budal nak tugasem wes mbok garap," titah bapaknya. (Cepat kerjakan. Kita baru berangkat kalo kamu sudah menyelesaikan tugasmu)
Jika sudah berurusan dengan sang bapaknya, Roma tidak akan mungkin bisa menolaknya. Pembawaannya saja sudah seram begitu, apalagi bapaknya mudah main tangan dengannya. Iya, dia selalu dididik dengan cara yang keras sebagai anak lelaki. Tidak mau menambah masalah, Roma cepat-cepat menyelesaikan tugasnya padahal dia sendiri tidak paham dan agak ngasal mengerjakannya. Yang penting selesai gitu, sudah itu saja. Roma menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan ujung pensilnya. Diberikannya tugasnya pada bapaknya yang sedang duduk mengawasinya di ruang tamu di mana Roma tengah mengerjakan tugasnya tadi. Bapaknya sempat melirik bergantian ke arah Roma yang berdiri di dekatnya dan ke arah tugasnya yang sebetulnya bapaknya sendiri tidak bisa memahami apakah yang Roma kerjakan benar atau salah. Jangankan mengecek tugas anak, dia sendiri tidak bisa membaca. Dia sendiri hanya mentamatkan sekolahnya hanya di kelas satu sekolah dasar saja. Mendadak ibu datang dan mengambil alih buku itu kemudian diberikannya pada Roma. "Wes bar langsung budal. Ojo nganti keri," titah ibunya.
(Sudah selesai langsung berangkat. Jangan sampai terlambat!)
"Tapi buk. La tugas Roma lagek dicek ambek bapak," kata Roma agak bingung. (Tapi Buk, kan tugas Roma lagi dicek sama Bapak)
"Bapakmu iku opo njowo. Moco ae ra iso," ucap ibunya ceplas-ceplos.
(Bapak kamu itu mana paham, baca saja tidak bisa) Roma diam-diam nahan tawa saat bapaknya yang gantian malah diledek sama ibunya sendiri terlebih bapaknya sempat mendelik tajam ke ibunya tapi tidak dihiraukan. Saat Roma hendak memasukkan bukunya datanglah anak perempuan tadi. Dia bernama Xien Dien Hua.
"Romaaa!!!" Dia melambaikan tangannya. "Kita berangkat bareng, kan?" Awalnya ketiga orang yang ada di dalam rumah itu sempat kaget melihat anak perempuan itu sudah tiba-tiba ada di depan rumahnya dengan wajah cerianya. Dien, anak perempuan itu sudah sering sekali berangkat bersama Roma dan bapaknya Roma. Dia sudah termasuk yang paling dekat dengan keluarga Roma sebab anak itu selalu mengikuti Roma ke mana pun Roma pergi. Mereka bersahabatan memang tapi Roma tidak pernah bersikap ramah pada anak perempuan itu.
Anak perempuan itu terlihat sangat-sangat senang bisa berangkat bersama kedua lelaki itu. Dien yang duduk di bagian depan sementara Roma memeluk bapaknya dari belakang. Mereka ke sekolah dengan diantarkan bapaknya memakai sepeda onthel yang sudah tua termakan waktu.
Di perkampungan inilah tepatnya di kota Surabaya, hiduplah sepasang sahabat antara anak perempuan dengan anak laki-laki yang berbeda ras, berbeda suku, juga berbeda darah antara yang satu berasal dari keturunan etnis Tionghoa namun bercampur darah pribumi yaitu Jawa dan yang satunya memiliki darah pribumi asli. Mereka berdua adalah Roma dan Dien. Masih sama-sama duduk di bangku sekolah dasar.
Keduanya turun dari sepeda. Sebelum mereka masuk. Mereka berdiri berdampingan. Suryono masih duduk di sepedanya. "Awakmu Dungo sek sak urunge mulai sinau, ben gusti Allah iso nglancarno proses sinaunem kabeh," nasihat bapaknya. (Berdoa dulu sebelum kalian memulai belajar, supaya Tuhan memudahkan proses kalian belajar) Mereka bertiga berdoa sesuai dengan apa yang mereka yakini pada Tuhan Yesus. Seusai itu mereka bersaliman. Roma meninggalkan Dien duluan.
"Roma kamu sudah mengerjakan tugas kamu?"
"Hm," dehamnya. Dien mendengus sebal. Ia menyikut pinggang Roma hingga anak lelaki itu melotot pada Dien.
"Kamu ini apaan, sih?"
"Kamu kenapa? Kamu marah aku ngintipin kamu lagi pup?!" tanya Dien kesal dengan suara keras. Roma langsung menutup mulut Dien. Ia takut ada yang mendengar perkataan Dien.
"Meneng opo aku moh baturan karo koe nehh," ancamnya. Roma lalu pergi dari hadapan Dien.
(Diem atau aku tidak mau temenan sama kamu lagi)
Sudah terbiasa untuk mereka berbicara bahasa Jawa. Dien untungnya memahami apa yang Roma katakan. Dien cuma terpaku di tempatnya karena pikirannya menyita dirinya untuk mengejar Roma yang sudah lebih dulu berjalan menuju ke kelas mereka. Dia tidak mau kehilangan Roma. Roma adalah sahabatnya satu-satunya yang tidak akan Dien lepaskan. Dien tidak mau Roma pergi dari hidupnya.
Panas yang menyengat tentunya membuat kepala pasti terasa sakit. Ini sudah biasa Suryono rasakan selama bekerja sebagai kuli bangunan. Apalagi panas-panasan di bawah terik matahari, mengaduk semen sekuat tenaga menggunakan cangkul belum lagi ada tambahan ocehan dari atasannya. Terasa lengkap memang kesusahan dalam hidupnya ini. "Sur, kamu aduk yang benar ini semennya! Kerja yang bener!!!" Mandornya memarahinya. Itu makanan hari-harinya mendengar ocehan atasannya yang tidak berhenti-henti memerintahkan pekerjanya untuk bekerja secara benar dan telaten.
Lain di tempat, bila Suryono kerjanya masih dimarahi sama mandornya, beda halnya dengan Roma yang tugas pekerjaan rumahnya menjadi penyebab ia dimarahi oleh bapak guru.
"Roma! Kamu ini kenapa tiap mengerjakan tugas tidak pernah benar? Niat sekolah nggak, sih?" omel bapak guru tersebut. Melempar buku ke atas mejanya Roma. Roma tertunduk malu. Lagi-lagi dia menjadi bahan guru-guru marah padanya.
"Jawab kalo saya tanya!?"
"Niat pak..."
"Ngomongnya niat, belajarnya nggak taat. Mau bodoh seumur hidup kamu. Sudah miskin tapi belajar tidak benar. Nilai masih aja anjlok. Gimana kamu mau hidup di kota. Orang bodoh itu nggak kepake. Paham kamu?" Apa yang gurunya katakan jelas saja itu membuat Roma sangat sakit hati. Dien yang duduk di barisan sebelah deretan Roma duduk, tepat ia duduk di samping kursi Roma walau tidak semeja, tapi Dien bisa melihat tangan Roma mengepal hingga kuku-kuku putihnya menancap kulit Roma sampai Dien bisa melihat setetes darah mengalir.
"Orang miskin, bodoh, nggak bakalan pernah bisa sukses." Kalimat yang paling mental Roma down pada akhirnya. Begitu juga dengan apa yang hari ini bapaknya alami di pekerjaannya. Sempat terjadi kendala, Suryono melakukan kesalahan dengan menjatuhkan bata-bata yang ia bawa dengan tidak sengaja sebab ia sempat terselandung tadi.
"Suryono! Ya Allah, kamu kerja nggak pernah benar. Mikirin apa kamu ini? Makan buat anak istri kamu? Atau mikirin utang? Kalo kamu nggak niat kerja hari ini mending pulang! Kamu mau buat saya mati muda apa ngadepin kamu!? Bisanya apa kamu ini Sur... Sur. Mau saya pecat aja kamu hari ini, iya?" Suryono mungkin tidak bisa berkata-kata bila memang kenyataannya ia dihina atas kesalahannya. Membalas pun tak mungkin ia lakukan bila dia tidak mau kehilangan pekerjaan satu-satunya beda dengan apa yang anaknya alami.
Saat gurunya berbalik badan dari hadapan Roma. Hendak akan menulis di papan tulis. Roma bersuara yang membuat seisi kelas terasa canggung dan suasana jadi terasa tegang. "Saya mungkin miskin dan bodoh, tapi apa seorang guru pantas menghina anak muridnya? Apapun alasannya, guru tidak pantas menghina saya." Bapak guru itu berbalik dan sudah melihat Roma berdiri dari tempatnya. "Saya rasa seorang guru yang mudah menghina dan membuat anak muridnya merasa tidak percaya adalah manusia yang paling rendah yang saya tahu. Tapi, sayangnya saya tidak akan mudah merasa rendah walaupun Bapak telah menghina saya. Karena dengan tekad saya, akan saya buktikan kalau saya bisa jadi orang yang sukses. Lebih dari gaji Bapak." Selepas itu Roma pergi dengan rasa keberaniannya melawan hinaan gurunya yang sudah merasa terinjak harga dirinya karena murid sialan itu. Dien diam-diam tersenyum. Ia selalu menyukai keberanian Roma. Roma tidak takut pada siapapun yang telah menghina harga dirinya. Ia lelaki pemberani. Dien sangat menyukainya. Dien senang bisa mempunyai teman seperti Roma. Banyak yang memang tidak menyukai Roma karena sikapnya yang suka melawan, seperti anak nakal, selalu dipandang terbelakang, selalu diabaikan, dikecualikan tapi Roma orang yang tegar. Dia tetap bisa bersikap ceria tapi kadang juga dia bisa terlihat sangat pendiam dan itu ketika ia sedang marah. Ia sangat menyeramkan.
Membayangkannya saja Dien suka bergidik takut tapi anehnya Dien tidak mau menjauh dari Roma. Bagi Dien, Roma adalah pelindungnya. Seperti yang saat ini Dien harapkan. Dien berharap Roma datang saat dia sedang berusaha ingin berbaur teman-temannya bermain di lapangan. Dien ingin bermain dengan teman-temannya namun tidak ada yang mau menerimanya. Justru dia malah dikata-katain, diejek-ejek, dihina-hina mengenai fisiknya yang berbeda dengan mamanya dan kedua kakaknya. Dia keturunan Tionghoa namun fisik dirinya tak seperti apa yang mereka tahu. Bila mana orang China identik dengan kulitnya putih dan kuning langsat, justru Dien memiliki kulit yang gelap namun matanya sipit. Akhirnya karena fisiknya yang seperti itu, ia sering dijadikan olok-olokan oleh teman-temannya. Dia tidak bisa membalas ucapan mereka yang sangat menyakiti hatinya. Dien kecil hanya bisa menangis saat itu. Dia tidak bisa membela dirinya seperti Roma. Dien yang sudah besar saat ini tengah mengenang masa lalunya ketika ia masih tinggal di Indonesia, di Surabaya. "Sampai saat ini pun kulit aku masih gelap tidak putih seperti orang China lainnya."
Dien bercerita tentang masa lalunya pada sahabat baiknya di Singapura. Samuel Lie. Tempat yang paling membuat mereka merasa nyaman sekaligus tempat favorit yang mereka habiskan waktu berbincang bersama adalah Gardens by the Bay, berlokasi tepat di tepi Marina Bay Waterfront di pusat Singapura. Gardens by the Bay di buka pada bulan Juni 2012, Garden By The Bay memiliki hampir 1,5 juta tanaman dengan lebih dari 158.000 tanaman tumbuh di 18 pohon baja dengan tinggi antara 25 - 50 meter. Taman ini memiliki luas 101 hektar, lahan hasil reklamasi ini merupakan salah satu taman paling populer di dunia dengan ikon pohon artifisial yang dihiasi lampu warna-warni. Daya tarik lainnya yang tidak kalah menarik adalah dua kubah yang mengangkangi hutan tropis serta sebuah air terjun buatan yang sangat indah dan mempesona. Ada tiga area khusus di Gardens by the Bay ini yaitu Bay South Garden, Bay East Garden, dan Bay Central Garden.
Dien dan Samuel berjalan-jalan menuju area yang memecahkan rekor Guinness World Records sebagai World’s Largest Glass Greenhouse pada 2015. Flower Dome di Bay South Gardens. Area ini menempati luas 1.28 hektare, area hijau inilah yang lebih besar jika dibandingkan dengan ketiga konservatori dingin lainnya, Area ini memiliki berbagai tumbuhan dan bunga dari lima benua, dari pepohonan zaitun berusia ribuan tahun hingga bunga magnolia dan anggrek. Area di sini sering dijadikan sebagai tempat event-event besar yang menariknya lagi dekorasi akan selalu berubah tiap hari-hari besar seperti perayaan-perayaan Imlek, tahun baru dan hari besar lainnya.
"Aku tidak mau mengubah apa yang ada di diriku. Bagiku ini adalah jati diriku. Aku sempat bingung memang, aku ini sebenarnya keturunan Tionghoa atau orang pribumi karena saat dulu, orang yang keturunan Tionghoa walaupun lahir dan besar di Indonesia belum benar-benar dianggap status warga asli sana. Belum lagi pandangan negatif orang-orang tentang kami." Dien tersenyum bila mengingat kejadian yang dia alami beberapa tahun yang lalu. Perjalanan yang sangat panjang hingga menghantarkannya bisa melanjutkan kehidupannya di negeri orang. "Meskipun banyak hal pahit yang aku dan keluargaku alami, aku tetap mencintai leluhurku. Indonesiaku. Aku sangat bangga bisa lahir dan tumbuh di sana."
"Kamu tidak membencinya? Mereka yang telah menghina dan menghabisi keluargamu hingga tewas dan hanya tersisa sedikit dari yang ada?" Samuel bertanya di belakangnya. Mereka sudah ada berada di tempat lain. Di OCBC Skywalk di mana OCBC Skywalk adalah jembatan penghubung dari beberapa supertree di Garden By The Bay Singapore. Dien membalikkan badannya. Ia tak langsung menjawab pertanyaan Samuel. Namun, ia memutar tubuhnya menyamping. Berpegangan pada sisi jembatan. Cuaca yang sangat cerah, dari tempatnya ia bisa melihat jelas lanskap kota Singapura yang terdiri dari gedung-gedung, bianglala raksasa, dan Singapore Flyer.
"Aku selalu mengatakan pada diriku, jangan pernah membenci orangnya tapi... salahkan pemikiran mereka yang terlalu sempit." Tentunya jawaban itu ia dapatkan dari sebuah pelajaran dalam hidupnya. Dari orang yang pernah memberitahukannya. Mengatakan nilai-nilai kehidupan yang selalu diajarkan oleh papa pada anak-anaknya tapi sayangnya Dien masih bayi, belum pernah melihat bentuk rupa sang papa. Kemudian, sahabatnya itu bertanya padanya, "bagaimana dengan Roma?" Dien menyunggingkan senyum tipisnya. Sampai saat ini ia belum pernah lagi bertemu dengan Roma setelah bertahun-tahun silam mereka berpisah. Sejujurnya apa yang terpendam dalam hati, semakin hari perasaan itu akan semakin besar dan sulit untuk ia kuasai. Sulit untuk mengendalikannya dan ia tidak mau membohongi dirinya sendiri. Ia sangat merindukan sosok teman lamanya, sosok yang sangat ia cintai bahkan sampai saat ini.
Kembali pada masa lalu. Dien menceritakannya kembali apa yang terjadi padanya sewaktu teman-teman sebayanya meledek dirinya.
Ada anak lelaki yang tidak ada henti-hentinya saat itu meledek Dien. Dien hanya bisa menangis saja. Semua orang mentertawakan Dien. Anak lelaki itu malah memasang wajah mengejek. Ia menarik matanya ke samping biar bentuk matanya menyipit. Seakan meniru mata milik Dien yang sipit. Dien takut. Dien tidak punya teman. Lalu, datanglah anak lelaki yang lain, yang baru beberapa menit yang lalu dihina oleh gurunya dan harus terpaksa keluar kelas setelah balik merendahkan gurunya dan mungkin saja akan mendapatkan surat panggilan untuk kedua orang tuanya. Anak itu yang Dien anggap pahlawan kembali menjadi pelindungnya hari ini. Roma datang mendorong anak lelaki itu dari belakang sampai tersungkur ke tanah dan untungnya Dien sempat menggeser posisi. Ia untungnya bisa langsung menghindar kalau tidak mungkin dia akan terjatuh bersama dengan anak lelaki yang telah mengejeknya hingga ia menangis tersedu-sedu di tempatnya.
"Kamu beraninya sama perempuan saja. Ayo, lawan saya. Cemen kamu dasar!" Mendengar suara Roma yang telah menghina anak yang terkenal berasal dari keluarga yang sangat berkecukupan di daerahnya itu tentu ini menjadi tontonan yang menarik ditambah Roma yang terkenal nakal perilakunya dan banyak yang tidak menyukai anak yang berasal dari keluarga miskin ini pastinya tidak ada satu pun orang yang mau melewati pertarungan keduanya. Dien berlari agak menjauh saat anak lelaki itu bangun. Anak itu punya tubuh yang lebih tinggi dari Roma dan juga berisi tidak seperti Roma yang memiliki tubuh yang kurus tapi tidak membuat Roma takut sama sekali.
"Lawan! Lawan! Lawan!!!!" Seru-seruan dari anak-anak yang ada di lapangan sana menambah suasana jadi semakin menarik. Keduanya beradu gulat di sana. Saling dorong mendorong. Dien justru malah merasai takut bila Roma terluka karena membelanya. Ia takut nanti kedua orang tua Roma mengkhawatirkan keadaan Roma. Akhirnya, tanpa sepengetahuan dari siapapun, Dien pergi dari sana. Berlari kencang menuju ke suatu tempat untuk melakukan sesuatu.
Di tengah-tengah lapangan di sana, ada sebagian anak-anak mengompori kedua anak lelaki itu yang tengah berkelahi. Ada yang membela anak lelaki yang tadi mengejek Dien dan ada juga yang mengompori Roma. Roma yang mudah tersulut emosi pastinya tak segan melakukan hal yang di luar batas. Dia memang termasuk anak yang nekat dan berani. Terbukti Roma menonjok kuat anak lelaki itu sampai giginya copot dan mulutnya mengeluarkan darah. Anak lelaki itu terjatuh kembali di atas tanah. Roma masih berdiri di tempatnya. Tepat saat itu pula, datanglah guru yang berteriak. "Heyyyy!!! Bubar!!! Bubarrrrrrr!!!!!" seru salah satu guru yang cepat-cepat menuju ke lapangan. Sewaktu guru-guru pada berdatangan, yang lain, anak-anak itu pada kabur. Mereka lari terbirit-b***t, takut bila nanti diberi hukuman oleh wali kelas mereka masing-masing. "Roma!!! Ya ampun kamu berulah lagi!?" ujar pak Wiranto. Guru yang sebenarnya dekat dengan Dien karena Dien anak pintar kesayangannya dan juga guru ini pun dekat dengan Roma tapi bila itu di luar mata pelajaran dan sekolah. Anak lelaki itu dibawa ke puskesmas untuk diobati. Roma menatap Dien yang sudah Roma tebak anak itulah yang menjadi penyebab guru-guru pada datang. Dia melaporkan kejadian ini pada guru.
[]