"Beneran nikah, ya?" Bian terkekeh. Ada rasa sakit yang tak bisa dijelaskan. Tapi, tak ada alasan lain untuk menolak. Disini lah sekarang dia berada, disebuah ruangan yang ada di gedung besar. Terlihat tampan dengan setelan kemeja putih dan dasi kupu-kupu yang menghiasi kerah kemejanya. Namun, sama sekali tak ada kebahagiaan yang terpancar di wajahnya. "Jangan bercanda!" pekik Lina yang sedang memperhatikan putranya itu akan segera melepas masa lajangnya. "Kalau aku tiba-tiba kabur, seru kali ya, Ma." Bian kembali tertawa, membayangkan hal konyol yang mungkin saja akan dia lakukan. Tapi, sepertinya dia tak akan setega itu pada kedua orangtuanya. "Jangan ngaco, Bian! Kamu mau mama mati? Kalau sampai bikin malu mama mau gantung diri aja!" tegas wanita itu dengan raut wajah marah. "Mama

