Pernikahan akan dilaksanakan satu minggu lagi, tapi hubungan mereka terlihat flat saja. Bian sudah tak peduli dengan perasaannya, dia hanya menuruti permintaan orang tuanya untuk menikah. Bukan karena dia menyukai Natya, karena permintaan saja.
Percayalah, ketika pernikahan diawali seperti ini tak akan pernah ada benarnya. Namun, Bian juga tak punya pilihan untuk menolak karena dia anak tunggal.
"Bermalam di rumah lagi? Untuk apa? Tunggu, kamu sakit?" Serentetan kalimat itu keluar dari mulut Lina.
Setelah memperhatikan lebih, Bian terlihat sedikit pucat. Tentu saja Lina khawatir.
"Aku hanya mau mengambil barang-barang dan akan segera kembali ke apartemen."
"Tapi, kamu sakit?" tanya Lina lagi ingin memastikan.
"Hanya kurang tidur saja." Bian terus melangkahkan kakinya menuju ke kamar yang diikuti oleh Lina dibelakangnya.
"Kalau begitu di rumah saja."
Bian yang mulai terlihat mengumpulkan barang-barangnya menghentikan aktivitas itu. Dia menoleh dan menatap mamanya dengan hembusan nafas berat yang dia lepaskan begitu saja.
"Bian bukan anak kecil, nanti tidur di apartemen juga bakal lebih baikan." Dia hanya mencoba meyakinkan Lina bahwa dirinya tak separah itu hingga harus bermalam di rumahnya lagi dan meninggalkan apartemen miliknya.
"Kalau ada apa-apa awas aja nggak hubungin mama." Terdengar mengancam. Namun, Bian suka mendengarnya.
"Iyaa, Ma."
Setelah mengambil beberapa barang yang akan dipindahkan ke apartemen barunya, Bian langsung kembali. Di Perjalanan dia sudah merasa sangat pusing, seperti pemikirannya, mungkin memang kurang tidur semalam karena mimpi buruk dia tak bisa tidur dengan tenang.
"Ada kemajuan? Apa sama sekali tak menemukan jejak?" Bian menghentikan langkahnya, dia baru saja keluar dari lift dan langsung menelpon seseorang.
Tak ada kabar baik untuknya, masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Kesepian yang dirasakan seolah tak berujung meskipun sudah ada yang menggantikan, bahkan terasa lebih menyakitkan.
"Telusuri semua tempat di kota ini. Kabari jika ada kabar baik sekecil apapun itu." Tanpa menunggu respon orang di seberang sana dia langsung mematikan sambungan teleponnya.
Bian membiarkan koper yang dan beberapa barang yang dia bawa tergeletak di samping tempat tidurnya. Dia langsung merebahkan tubuhnya yang sangat lelah.
Kerinduan yang semakin tak terbendung membuat dia membuka kembali kenangannya bersama Reina. Melalui foto yang dia miliki bersama wanita itu dia bisa sedikit mengurangi rasa rindunya meskipun hanya secuil tapi mampu menarik tepi bibirnya yang sudah tak bisa lagi tersenyum lebar.
Seraya terus menatap gambar dirinya bersama Reina kala itu, tak terasa hingga dia memejamkan matanya dengan rasa lelah. Tak ada lagi hidup tenang dan nyaman sekarang, yang ada hanya penuh penekanan. Lalu, apa yang harus dia lakukan setelah menikahi Natya? Yang pasti, dia tak akan melakukan kewajibannya.
***
Natya yang hari ini pulang lebih cepat dari biasanya tampak bersantai di rumah setelah pergi ke butik bersama Bian untuk memastikan kembali baju yang mereka pesan.
Moccalate hangat yang ada di tangannya menemani sore hari Natya. Dia menyesapnya dengan nikmat kemudian menatap pemandangan belakang rumah dari balkon kamarnya.
"Kamu akan benar-benar menikah dengan Bian?]"
Pesan itu masih terlihat dengan jelas. Ponselnya yang masih menyala di atas meja membuat Natya memperhatikannya lagi.
Dia memang mengakhiri sendiri hubungannya dengan Vano sekitar satu tahun yang lalu. Alasan tak cocok seakan klise bagi mereka yang sudah bosan. Tidak, Natya bukan menyukai pria lain sampai memutuskannya. Sikap Vano sendirilah yang membuat wanita itu muak.
Terlalu kekanak-kanakan dan tak punya pendirian. Bahkan ketika mereka bertengkar yang selalu mengalah hanya Natya. Lelah jika harus selalu seperti itu. Disisi lain mama Natya juga tak menyetujuinya. Muncullah perjodohan ini.
"Ngelamun, sayang?" Resi yang tiba-tiba muncul dan mendekati Natya, membuat putrinya itu tersenyum kemudian beralih duduk pada kursi kayu yang ada di sana. Meletakkan cangkir hangat yang sejak tadi ada di genggamannya.
"Nggak, kok." Natya menyandarkan tubuhnya santai.
"Kamu ngga ke apartemen Bian? Mama dengar dia sedang tidak enak badan. Masa kamu ngga tau, si?" Resi yang ikut duduk di sana menatap Natya kecewa.
Natya mengerutkan keningnya. Kemarin Bisnis terlihat biasa saja. Untuk itu Natya sama sekali tak menyangka kalau Bian sekarang tiba-tiba jatuh sakit. "Engga tau, beneran?" tanyanya ingin memastikan.
"Buatkan dia bubur sana, nanti malam kamu kesini aja. Nginep nggak papa, dia pasti butuh seseorang. Kan cuma sendirian di apartemen."
Natya yang mendengar ucapan mamanya langsung mengerutkan kening. Segitunya? Dia rasa tak perlu berlebihan juga.
"Nggak perlu nginep juga, Ma. Nanti Natya balik aja." Tak setuju dengan saran mamanya. Jangankan untuk menginap beberapa jam bersama Bian saja rasanya sangat asing.
"Lagian kalian juga akan menikah, tidak apa." Sekali lagi Resi menyuruhnya untuk melakukan apa yang dia pinta. Entah apa tujuannya, yang pasti Natya tak akan pernah mau.
"Maksud, Mama? Jangan aneh-aneh, deh."
Natya langsung pergi dari hadapan mamanya dan langsung pergi menuju ke dapur. Sesuai perintah, dia akan membuatkan Bian bubur. Tunggu, kalau boleh jujur lebih baik Natya tidur saja. Tapi, dia tak ingin mengecewakan mamanya. Setidaknya melakukan, entah nanti dimakan atau tidak urusan Bian.
Ditengah kesibukannya membuat bubur, Natya terus saja mengomel. Padahal jika bersama Bian dia terlihat anggun. Tapi, tidak kali ini. Sekalian saja biar Bian tau sikap dan sifat aslinya.
"Kalau nggak karena profesional aja, ngapain bikin ginian buat dia. Nggak yakin juga dia bakal makan apa yang aku bawa," gerutunya tanpa henti. Namun, selesai juga dia membuat bubur tersebut.
Setelah menyiapkannya ke dalam kotak bekal, Natya menaruhnya di atas pantry dan segera pergi ke kamarnya untuk mandi dan segera pergi ke apartemen Bian sebelum semakin malam.
Kali ini Natya memakai kaos dan celana jeans serta sweater panjang untuk menghindari dinginnya malam. Dia juga memakai syal untuk menghangat lehernya. Sesampai di apartemen Bian dia langsung menekan tombol pintu supaya pemiliknya segera membuka.
Tapi, layar monitor yang menghubungkan dengan seseorang di dalam sana tampak menyala dan menunjukkan wajah Bian. Natya hanya menatap monitor itu datar, menunjukkan bahwa dirinya yang datang.
"Ada apa?" ucap Bian ketika membuka pintunya.
"Suruh masuk dulu, dong." Tanpa permisi, Natya langsung melengos masuk dan duduk pada sofa yang ada di ruang tamu.
Bian yang merasa aneh dengan sikap wanita itu hanya diam. Bukankah dia pendiam sejak pertama bertemu, bahkan terakhir kali bertemu kemarin ketika fitting baju pengantin. Apa ada yang salah dengannya?
"Kata Mama kamu sakit. Ini aku bawain bubur," sergah Natya langsung menaruh bekal tersebut di atas meja.
"Cuma sakit kepala biasa aja, lebay banget."
"Bian," pekik Natya.
Pria itu menoleh seraya mengerutkan alisnya tak paham dengan perubahan sikap Natya. Seperti bukan wanita yang dia temui kemarin, sungguh.
"Jangan karena gue gini jadi seenaknya, ya. Gue cuma pengen mereka melihat kita baik-baik saja. Gue tau lo masih kejebak masa lalu, okay! Lo masih bisa menerima pernikahan ini. Gue juga bukan karena suka sama lo, ya intinya kita profesional aja."
Mendengar penjelasan itu semakin membuat Bian membisu. Dia menyunggingkan tepi bibirnya yang diiringi tawa kecil seraya mengusap wajahnya. Apa yang terjadi?
"Lah, kok kamu jadi marah?" ucapnya seraya tertawa kecil.
"Nggak marah. Cuma supaya kamu tau aja, udah. Makan nggak makan terserah, aku udah jenguk. Dan sekarang aku pergi, get well soon!"
Bahkan belum setengah jam Natya ada di apartemen Bian dan langsung pergi begitu saja. Bukankah itu cukup aneh bagi Bian? Dia benar-benar tak memahami bagaimana wanita itu bersikap sejak tadi.
"Aneh banget. Emang aku ngapain, sih?" lirihnya masih tak percaya.
Kemudian mata Bian teralihkan oleh bekal makanan yang dibawa Natya. Dia meraih bekal tersebut setelah memastikan wanita itu benar-benar sudah keluar dari apartemennya.
"Lumayan buat makan malam daripada beli." Bian langsung melahapnya karena dikotak itu juga sudah disediakan sendok. Sempat tak percaya dan tak berpikir bahwa itu buatan Natya. Tentu saja dia sangat yakin bahwa Natya membelinya ketika menuju ke apartemen.
Bian berspekulasi sendiri dengan pikirannya tanpa tau bahwa bubur itu memang buatan Natya dan tanpa sadar dia sudah menghabiskannya seorang diri.
*** Bersambung….