14. Makan? Masak Sendiri!

1167 Kata
Dua pil dan segelas air putih Bian telan pagi ini. Semalam memang dia tak merasakan demam ketika Natya datang, hanya pusing biasa. Namun, ketika wanita itu pergi, selang beberapa Bian merasakan seluruh tubuhnya panas dingin. Dia juga sempat berpikir apa Natya membawa bubur yang sengaja diracun untuknya? Ternyata pikiran negatif itu sama sekali tidak benar. Karena ketakutan Bian langsung pergi ke rumah sakit seorang diri. Nyatanya hasil pemeriksaan mengatakan bahwa dia hanya kelelahan. Mendengar bel apartemennya dia langsung bergegas untuk membuka pintu. Melalui monitor yang terhubung ke depan pintu, dengan jelas Bian melihat Leo sudah berdiri di depan sana. "Masuk." Leo mengikuti langkah Bian, dia juga duduk di ruang tamu ketika sudah dipersilahkan oleh bosnya itu. "Perlu ke rumah sakit?" tanya Leo langsung mengecek keadaan Bian. Buka tanpa sebab dia perhatian. Melainkan sudah menjadi tugasnya menjaga anak Rahendra tersebut. "Aku sudah kesana, semalam." "Dengan?" tanyanya lagi. "Sendirian, kenapa?" ucap Bian merasa tak nyaman. Dian hanya merasa Leo terlalu privasi menjaga dirinya hingga ke kehidupan pribadi. "Tuan, kalau Pak Rahendra tahu beliau akan marah." Ada raut wajah kesedihan dan ketakutan. Jika nanti papa Bian tahu mungkin memang akan marah karena membiarkan putranya itu pergi sendirian ke rumah sakit apalagi sudah malam. "Aku yang akan bilang kalau papa marah." Dengan nada santai Bian mengatakannya. Lagipula dia juga tak nyaman kalau Leo harus selalu ikut kemanapun dia pergi. Bukankah itu lebih seperti bodyguard, bukan asisten. "Apa tuan memerlukan sesuatu?" tanya Leo mengubah topik pembicaraan dan menunggu respon pria didepannya tersebut. "Tidak juga. Aku cuma mau bilang hari ini sepertinya tidak bisa pergi ke kantor." Bian menundukkan kepalanya seraya menghembuskan nafasnya berat. "Saya paham. Baiklah, tuan beristirahat saja. Kalau Pak Rahendra bertanya?" ucap Leo yang membuat Bian sedikit kesal. Kenapa setakut itu? "Leo, kamu takut banget sama papa?" tanya Bian penasaran pada akhirnya. "Bukan begitu. Bagaimanapun juga saya hanya karyawan yang tidak ingin kehilangan pekerjaan." Bian menganggukkan kepalanya mendengar respon Leo. Mungkin lebih kepada mengabdi untuk mempertahankan pekerjaannya. "Ah, paham. Sudah hentikan, kamu berangkat saja ke kantor. Setelah ini aku akan langsung menghubungi papa dan menjelaskan semuanya. Kamu tidak perlu mengatakan apapun pada papa." Pria itu menyandarkan tubuhnya di sofa seraya melipat kedua tangannya didepan d**a. Tatapannya masih tertuju pada Leo yang sedang duduk tegak di depannya. "Baiklah. Jika membutuhkan sesuatu bisa hubungi saya saja." "Sudah, kamu pergi saja dan kamu bukan pembantu. Tidak untuk masalah pribadi, jika menyangkut perusahaan tentu saja aku membutuhkanmu." Merasa kesal dan risih Bian secara terang-terangan tak suka kehidupan pribadinya ikut campur dalam pekerjaan. Leo menganggukkan kepalanya paham. Kemudian membungkukkan tubuhnya menghormati sebelum akhirnya pergi meninggalkan Bian yang tak lama mengikuti langkahnya menuju ke pintu. Bian langsung kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel dan menghubungi papanya. Setelah menjelaskan bahwa dirinya belum bisa pergi ke kantor, sejenak merebahkan tubuhnya pada tempat tidur. Hembusan nafas panjangnya membuat kepalanya terasa kembali pusing. Dia mengusap wajahnya kasar kemudian menatap langit-langit kamarnya. Jika hanya diam saja mungkin akan kembali memikirkan Reina. Bukan ingin melupakan, namun pemikiran itu benar-benar mengganggunya. Jadi, biarkan menghilang dengan sendirinya. Tapi, jangan lupa Bian masih mencari keberadaan wanita itu melalui beberapa orang suruhannya. Untuk menghabiskan waktu yang akan membosankan seharian ini, Bian membersihkan apartemennya. Tak lama bel kembali berbunyi yang diyakini adalah delivery makanan yang sudah dipesan. Jadi, Bian tak mengeceknya melalui monitor. Ketika dirinya membuka pintu keningnya mengerut melihat malah Natya muncul dibalik pintu itu. Mata mereka bertemu, namun Natya langsung menghindarinya. Bahkan wanita itu langsung menyela masuk sebelum dipersilahkan. "Ada apa lagi?" ucap Bian seraya membalikkan tubuhnya, menatap Natya yang berjalan masuk dan langsung duduk di sofa. "Semalam kamu pergi ke rumah sakit sendirian?" tanyanya. Tak ada raut wajah kekhawatiran, yang tersirat malah kekesalan. "Kenapa?" sergah Bian sembari berjalan mendekat kemudian duduk tak jauh dari wanita itu. "Sebenarnya aku tidak peduli. Tapi, ah sudahlah. Aku seharian akan tinggal di sini." Natya ingin menjelaskan perihal kedatangannya. Tapi, rasanya tak perlu juga karena Bian tak akan peduli. Jadi, dia mengatakan pada intinya saja bahwa akan menemani pria itu seharian. "Kalau aku tidak mengizinkan?" Sorotan mata Bian benar-benar menunjukkan ketidaksetujuan yang dilontarkan pada Natya. "Syukur. Aku tinggal bilang ke mama. Nggak! Bukan soal ngadu, tapi mama maksa aku nemenin kamu. Semalam ricuh banget di rumah, mana mungkin aku pergi sendirian." Natya tak terlalu peduli dengan sikap Bian yang dingin padanya. Dia hanya sedang menjadi anak yang baik untuk keluarganya. "Aku hanya mengabari mamaku. Kenapa keluargamu ikut ribet, si?" kesal Bian. "Kamu pikir aja sendiri!" Natya bangkit dari duduknya seraya berjalan dan mengamati benda-benda yang ada di apartemen Bian. "Nggak kerja?" tanya Bian. Bukan ingin basa-basi, tapi lebih pada ingin mengusir. Namun, entah harus dengan cara apa. "Kamu paham nggak sih aku ngomong apa sejak tadi?!" sentak Natya yang langsung membalikkan tubuhnya menatap Bian kesal. "Bodoamat, lah!" decak Bian. Pria itu mengusap wajahnya kasar seraya menidurkan tubuhnya pada sofa. Natya yang hanya tersenyum sinis mencoba untuk adaptasi di apartemen Bian yang masih sangat asing tersebut. Dia menaruh tas miliknya pada meja, kemudian berjalan ke arah dapur yang masih bisa dijangkau dari tempat Bian berbaring di sana. "Kamu belum sarapan, mau aku masakin? Kalau nggak bilang aja biar aku ngga repot-repot." Yang tadinya memejamkan mata, kini Bian membukanya malas sambil menatap wanita itu dari kejauhan. "Tunggu! Kamu kenapa, si? Perasaan yang aku tahu—" "Aku anggun? Pendiam? Nggak tahan banget harus kalem kayak gitu." Natya tertawa. Pertemuan pertamanya dengan Bian waktu itu ternyata benar-benar melekat bahwa dia wanita yang anggun. "Bar-bar!" desis Bian. "What?!" pekik Natya yang mendengarnya. "Nggak usah masak! Aku sudah pesan." Ting Tung. Bian menyunggingkan tepi bibirnya, memperlihatkan pada Natya ketika mendengar bel itu yang diyakini adalah makanan yang sudah dipesan. Pria itu kembali dengan menenteng kantong makanan yang hanya berisikan satu kotak. Mana tahu kalau Natya akan datang, kan. "Aku hanya memesan sedikit. Kalau kamu mau makan, masak aja sendiri. Lihat di kulkas ada beberapa bahan." Alih-alih menawari. Bian malah benar-benar memakannya sendiri. Cukup mengesalkan! Natya langsung melengos dan bergerak pergi memasuki kamar Bian. "Heh! Mau ngapain?" pekik Bian yang tak mau kamarnya dimasuki Natya. "Tidur!" teriak Natya tak peduli seraya menutup keras pintunya. "Apa tak punya sopan santun," lirih Bian. Dia melanjutkan makannya tanpa memperdulikan Natya yang mungkin sedang kesal padanya. *** Layar ponselnya yang menyala cukup mengagetkan. Sebuah undangan online yang tertera nama kekasihnya akan segera menikah. Reina hanya sedang berpikir, siapa pengirim pesan itu? Bahkan ponselnya sudah dihancurkan oleh orang tak bertanggungjawab dan dia juga sudah mengganti kartunya. Kenapa masih saja diganggu? "Kenapa, Rein? Ada sesuatu yang terjadi lagi?" Wanita paruh baya itu mendekat ketika melihat Reina cukup serius menatap layar ponselnya. " Ngga, Ma. Nggak ada lagi, kok. Ah, kita harus membersihkan tempat yang akan digunakan untuk toko baru kita." Reina hanya ingin menghindari topik itu, tak ingin mamanya kembali khawatir. Padahal tempat yang akan mereka gunakan sebagai toko juga masih dalam pembicaraan dengan keluarga di sana. "Kamu beneran nggak papa?" Tak percaya, Mana Reina terus ingin memastikan. "Nggak! Ini mataku kena debu." Reina tersenyum untuk meyakinkan, padahal jauh di lubuk hatinya dia kembali merasakan kehancuran yang tiada hentinya. *** Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN