Makan malam ‘calon mantu’ diadakan di dermaga pribadi keluarga Naomi, tempat kayu-kayu panjang menjorok ke laut dan lampu-lampu gantung berpendar seperti pesta kecil yang dipaksakan agar terlihat hangat. Angin pantai membawa aroma asin yang menusuk hidung mancung Bas, membuatnya déjà vu, seolah berada di pulau tempat semuanya berantakan, bukan Jakarta. Bas duduk tegak, berhadapan dengan ayah Naomi yang mengenakan kemeja rapi dan ekspresi angkuh yang seolah tidak pernah gagal mengintimidasi. Di sisi lain, ibu Naomi tersenyum terlalu lebar, matanya berbinar mengagumi Bas yang tampan dengan sedikit sentuhan formal–tidak berlebihan. “Kamu makin tampan, Bas,” katanya sambil tertawa kecil. “Aura calon suami sukses kelihatan sekali.” Meresponsnya, Bas menarik salah satu ujung bibirnya memben

