Ibukota, pusat segala, menyambut Bas dengan udara pengap berbaur klakson yang tidak sabar. Tidak ada karpet merah, kamera atau senyum yang dipaksakan. Hanya gedung-gedung kusam dan jalanan yang seperti tak pernah selesai dibangun—sama seperti hidupnya. Di dalam mobil Naomi yang membawanya pulang, Bas mengabaikan ucapan Naomi, tapi, membiarkan gadis itu bergelayut manja pada bahunya. Bas menatap jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya tertinggal di pulau itu. Pada pantai. Pada sepasang mata yang memilih menutup diri meski pintu sudah terbuka lebar. El. Marah? Iya. Kecewa? Sudah pasti. Namun, di balik semua itu, Bas tahu, mungkin jarak memang diperlukan–ketegangan perlu diredakan. Seperti yang pernah El bilang tentang dirinya dan ibunya, berpisah adalah cara agar mereka tid

